TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan, posisi cadangan devisa Indonesia masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah, meski mengalami penurunan pada Mei 2026.
Perry menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir dengan berkurangnya cadangan devisa yang saat ini berada di level 144,9 miliar dolar AS.
Baca juga: Perry Warjiyo Ungkap Alasan BI Tiba-tiba Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen
"Lebih dari cukup. Gini, caranya gini. BI itu selalu mengukur berapa jumlah cadangan devisa yang cukup. Ada indikator yang dikeluarkan IMF, yang disebut adequacy reserve asset. Dan kami ukur itu," ujar Perry di Gedung DPR RI, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, cadangan devisa Indonesia saat ini juga masih mampu membiayai kebutuhan impor selama sekitar enam bulan, jauh di atas standar internasional.
"Kami ukur-ukur itu dan sekarang masih lebih dari 115 persen. Jadi masih lebih dari cukup itu. Di samping yang sekitar 6 bulan impor. Jadi jangan khawatir jumlah cadangan devisa lebih dari cukup," tegasnya.
Diketahui, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 mencapai 144,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Jumlah tersebut turun dibandingkan posisi pada akhir April 2026 yang tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penurunan cadangan devisa terjadi di tengah kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI.
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat 144,9 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS," tutur Ramdan dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Meski mengalami penurunan, BI menegaskan cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat dan aman.
Cadangan devisa sebesar 144,9 miliar dolar AS tersebut setara untuk membiayai 5,6 bulan impor, atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka itu juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di kisaran 3 bulan impor.
Menurut Ramdan, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki kemampuan yang kuat untuk menghadapi berbagai gejolak ekonomi global.
"Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," terang dia.