Distan Bengkulu Tengah Turun ke Pabrik, Cek Penyebab Harga TBS Masih di Bawah Ketetapan Pemprov
Rita Lismini June 09, 2026 07:54 PM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah turun langsung ke sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) untuk mengecek penyebab harga tandan buah segar (TBS) sawit yang masih berada di bawah harga penetapan Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Kepala Dinas Pertanian Bengkulu Tengah, Helmi Yuliandri, mengatakan pihaknya melakukan pemantauan ke lapangan dengan mendatangi dua PKS yang beroperasi di Bengkulu Tengah, yakni PT Agra Sawitindo dan PT Palma Mas Sejati.

"Ya hari ini kami ke lapangan coba ke PKS-PKS yang ada di Bengkulu Tengah. Hari ini tepatnya ke PT Agra Sawitindo dan PT Palma Mas Sejati untuk mengecek kondisi di lapangan, kemudian harga TBS sawit," kata Helmi saat diwawancarai usai mengecek PT Agra Sawitindo, Selasa (9/6/2026).

Dari hasil pengecekan, Helmi menyebut kondisi operasional pabrik berjalan normal. Tidak ditemukan antrean buah maupun pembatasan penerimaan TBS dari petani.

"Alhamdulillah hari ini sudah di atas Rp 2.800 per kilogram. Kondisi di pabrik dan kondisi buah normal, tidak ada penumpukan dan tidak ada pembatasan juga," ujarnya.

Menurut Helmi, manajemen pabrik juga menyampaikan bahwa tren harga TBS mulai bergerak naik setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

"Alhamdulillah juga tadi pihak pabrik menyampaikan harga sudah mulai berguyur ke arah yang positif. Mungkin ini menuju ke arah Rp 3.000 dan keadaan normal kembali," katanya.

Rendemen Masih Jadi Kendala

Meski Gubernur Bengkulu telah mengeluarkan surat edaran yang meminta PKS membeli TBS sesuai harga penetapan provinsi, Helmi mengakui masih terdapat sejumlah faktor teknis yang memengaruhi harga di lapangan.

Surat edaran tersebut, kata dia, telah diteruskan kepada seluruh PKS yang beroperasi di Bengkulu Tengah agar menjadi perhatian bersama.

"Ada beberapa hal dan surat itu sudah kami terima dan kami teruskan kepada masing-masing PKS yang ada di Kabupaten Bengkulu Tengah untuk mengikuti semua yang sudah disampaikan di dalam surat," jelasnya.

Salah satu faktor utama yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah rendahnya rendemen atau tingkat kandungan minyak dalam buah sawit yang diterima pabrik.

Menurut Helmi, harga penetapan provinsi mengacu pada rendemen di atas 20 persen, sementara kondisi di lapangan saat ini masih berkisar 17 hingga 18 persen.

"Memang ada keterbatasan. Pertama dalam hal rendemen kita masih rendah. Sementara yang diharapkan di harga penetapan itu yang sudah 20 persen ke atas, sementara di pabrik rendemen sekitar 17 sampai 18 persen," ujarnya.

Ia menilai rendahnya rendemen tidak terlepas dari pola panen yang masih perlu diperbaiki. Masih ditemukan buah sawit yang belum matang optimal namun sudah dipanen oleh petani.

"Jadi masih ada PR buat kita semua, terutama dalam pengelolaan panen sawitnya. Memang masih ada yang kurang matang untuk buah kemudian dipanen," katanya.

Optimistis Harga Bisa Tembus Rp 3.500

Dinas Pertanian Bengkulu Tengah berharap harga TBS terus membaik dalam beberapa bulan mendatang, seiring meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk energi terbarukan.

Helmi mengatakan kebijakan peningkatan campuran biodiesel, seperti program B50 hingga B75, berpotensi mendongkrak permintaan crude palm oil (CPO) dan berdampak langsung terhadap harga TBS petani.

"Harapan kita ke depan untuk harga TBS, misalnya program B50 atau B75 sudah mulai jalan, kita berharap harga bisa di atas Rp 3.500 per kilogram," ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan sawit tidak lagi hanya untuk kebutuhan minyak goreng dan produk turunan lainnya, tetapi juga sebagai bahan bakar nabati berkelanjutan.

"Artinya di samping kemanfaatan untuk CPO, minyak goreng dan sebagainya, ini dimanfaatkan juga untuk biosolar atau bahan bakar nabati yang berkelanjutan. Kebutuhan untuk itu jelas membutuhkan banyak sekali sawit," pungkas Helmi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.