TRIBUNGORONTALO.COM – Ratusan gempa susulan masih terus tercatat setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kondisi tersebut merupakan bagian dari proses alamiah pascagempa besar.
Data BMKG menunjukkan hingga Selasa (9/6/2026) pukul 09.00 WITA, jumlah gempa susulan telah mencapai 130 kejadian.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Naha, Astrid Lasut, menjelaskan aktivitas tersebut terjadi akibat pelepasan energi yang masih tersisa setelah gempa utama.
Baca juga: Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Akui Tak Mampu Bayar Gaji PPPK hingga Akhir Tahun
“Gempa-gempa susulan ini merupakan proses alamiah setelah terjadinya gempa utama. Energi yang masih tersisa akan terus dilepaskan secara bertahap,” ujar Lasut dalam wawancara dengan Tribunmanado.
Berdasarkan pemantauan BMKG, periode dengan frekuensi gempa susulan tertinggi terjadi antara pukul 09.48 hingga 12.48 WITA dengan total 24 kejadian.
Setelah itu, pada rentang pukul 12.48 hingga 15.48 WITA, tercatat kembali 22 gempa susulan.
Di antara seluruh aktivitas tersebut, BMKG mendeteksi satu gempa susulan berkekuatan Magnitudo 6,0 yang menjadi yang terbesar setelah gempa utama. Guncangan itu terjadi kurang dari dua jam sejak gempa M 7,7 melanda wilayah Sangihe.
“Gempa susulan terbesar yang kami catat berkekuatan Magnitudo 6,0, sedangkan yang terkecil berada pada Magnitudo 3,5,” jelasnya.
Meski aktivitas kegempaan masih berlangsung, BMKG memperkirakan peluang munculnya gempa yang lebih kuat dari gempa utama sangat kecil.
Menurut Astrid, rangkaian gempa susulan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari proses pelepasan sisa energi yang tersimpan di zona sumber gempa.
“Berdasarkan analisis kami, kemungkinan gempa yang lebih besar dari gempa utama masih sangat kecil. Aktivitas yang terjadi saat ini merupakan pelepasan energi sisa,” tambah Lasut.
BMKG memperkirakan fenomena tersebut masih dapat berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, bahkan hingga sekitar dua minggu setelah gempa utama.
Namun demikian, tidak semua gempa susulan akan dirasakan oleh masyarakat karena sebagian besar memiliki kekuatan relatif kecil.
“Bisa saja masih terjadi hingga dua minggu ke depan. Ada yang dapat dirasakan masyarakat, ada juga yang tidak,” katanya.
Di tengah situasi pascagempa, BMKG mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Masyarakat juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi resmi serta mematuhi arahan pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Selain itu, Astrid memberikan apresiasi terhadap respons cepat warga saat gempa utama terjadi.
Menurutnya, langkah evakuasi mandiri yang dilakukan masyarakat setelah peringatan dini dikeluarkan menjadi salah satu faktor penting dalam meminimalkan risiko serta mengurangi dampak yang lebih besar akibat bencana.
Kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan kedisiplinan dalam mengikuti informasi resmi dinilai tetap menjadi kunci bagi masyarakat Sangihe selama periode gempa susulan masih berlangsung. (*)