Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI TIMUR- Kisah inspiratif datang dari seorang pria yang merupakan warga Perumnas III Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rudy Dermawan (65).
Di tengah menjamurnya lembaga kursus bahasa asing dengan biaya yang tidak murah, Rudy justru memilih membuka les bahasa Jepang dengan sistem pembayaran seikhlasnya.
Aktivitas dengan sistem daring itu pun sudah dilakukannya sejak tahun 2020.
Tidak ada tarif khusus yang dipatok Rudy kepada para muridnya.
Berapa pun uang yang diberikan para murid, ia kerap menerimanya dengan lapang dada.
Jumlah nominal uang yang diterimanya pun bervariasi, namun untuk yang terendah itu Rp 1.000 dari satu murid.
"Variasi pemberian, tapi paling rendah itu pernah ada yang ngasih Rp 1.000 per bulan. Tapi dia cuma hadir satu kali pertemuan saja. Saya pikir mungkin iseng saja dia," kata Rudy saat ditemui TribunBekasi.com, Selasa (9/6/2026).
Meski demikian, Rudy tidak mempermasalahkan nominal yang diberikan para muridnya.
Sebab sejak awal dirinya memang membuka kelas bahasa Jepang bukan semata mencari keuntungan.
Terlebih, sistem pembayaran bersifat sukarela itu juga menjadi bagian dari niatnya untuk beramal sekaligus membantu masyarakat yang ingin belajar bahasa Jepang.
"Ada juga yang paling tinggi pernah kasih Rp 1,5 juta. Ya saya terima saja, mau dikasih berapa karena kan seikhlasnya," jelasnya.
Rudy mencatat, mayoritas peserta lesnya berasal dari kalangan pelajar SMA dan SMK atau usia 17 hingga 18 tahun.
Namun tidak sedikit pula peserta dari kalangan pekerja profesional.
Pekerja profesional itu diantaranya karyawan, dokter, insinyur hingga sarjana bahasa Jepang.
"Kira-kira saat ini murid saya yang aktif ada 100 sekian, yang baru daftar ada 100 juga. Lebih kurang ada 200 murid dan saya mengajar seorang diri secara online," ujarnya.
Setiap hari, Rudy menghabiskan waktunya di depan layar komputer untuk mengajar dari pagi hingga malam.
Secara spesifik, waktu mengajarnya dimulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar 20.30 WIB dengan jeda istirahat pada waktu-waktu tertentu, terutama saat salat.
"Mulai dari jam 08.00 pagi sampai 09.20, lalu istirahat. Nanti jam 10.00 ada lagi. Siang jam 13.00 sampai jam 16.00. Malam jam 19.00, terakhir jam 20.30. Istirahatnya pas jam salat saja," paparnya.
Perlu diketahui, di balik dedikasinya mengajar ratusan murid, rupanya terselip kisah perjuangan hidup yang tidak mudah.
Rudy merupakan mantan guru bahasa Jepang berstatus PNS yang pernah mengajar di SMA Negeri 81 Jakarta.
Ia mulai menjadi PNS sejak tahun 1990 dan memasuki masa pensiun pada 2021.
Namun sebelum resmi menerima hak pensiunnya, Rudy sempat mengalami masa sulit lantaran Surat Keputusan (SK) pensiunnya belum terbit selama beberapa bulan.
Akibatnya, ia tidak menerima gaji dan harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Selanjutnya, kelas yang awalnya dibuka untuk menambah pemasukan itu lambat laun justru berkembang menjadi wadah belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal bahasa dan budaya Jepang.
"Waktu itu setelah tiga bulan SK belum keluar juga dan saya tidak menerima gaji. Akhirnya saya inisiatif biar punya uang, saya buka les ini dan saya tawarkan lewat Facebook," ucapnya.
Rudy menuturkan, kegiatan mengajar tersebut juga menjadi cara baginya mengisi masa pensiun secara produktif.
Meski kini telah berusia 65 tahun, semangatnya mengajar belum surut.
Dukungan dari istri dan anak semata wayangnya menjadi penyemangat terbesar.
"Jepang itu negara maju. Kalau belajar Jepang bukan cuma bahasanya, tapi juga gaya hidupnya. Hidup saya itu sudah dengan bahasa Jepang," pungkasnya. (M37)