Perajin Tempe Kampung Sunter Terdampak Dolar Menguat, Produksi Makin Mahal
Satrio Sarwo Trengginas June 09, 2026 08:53 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para pelaku usaha kecil di Kampung Tempe, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Para perajin tempe mengaku khawatir karena kenaikan kurs dolar berdampak pada harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi mereka.

Meski biaya produksi terus meningkat, para perajin belum berani menaikkan harga jual tempe karena ketatnya persaingan di pasaran.

Akibatnya, keuntungan yang diperoleh para pelaku usaha semakin menipis dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Selasa (9/6/2026) sore, aktivitas produksi tempe di Kampung Tempe masih berlangsung seperti biasa.

Sejumlah pekerja terlihat mengolah kedelai, membungkus tempe, hingga menyiapkan produk untuk didistribusikan ke pasar dan pelanggan.

Namun di balik aktivitas tersebut, para perajin menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku.

Selain kedelai impor, harga plastik pembungkus tempe juga mengalami kenaikan yang turut menambah beban operasional usaha.

Salah seorang perajin tempe, Noyo, mengatakan kenaikan nilai tukar dolar berpengaruh langsung terhadap usaha yang telah dijalankannya selama kurang lebih 12 tahun.

Menurut dia, sebagian besar kedelai yang digunakan para perajin masih berasal dari impor Amerika Serikat sehingga harga jualnya sangat dipengaruhi pergerakan kurs dolar.

"Kalau menurut saya sih pengaruh. Yang namanya kurs naik, harga kedelai juga naik. Jadi pengaruh," kata Noyo.

Noyo mengaku belum menerima informasi pasti mengenai besaran kenaikan harga kedelai dari pemasok.

Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku kini lebih besar dibanding sebelumnya.

"Tadinya ibarat kata kita Rp 1.000, sekarang jadi Rp 1.200 sampai Rp 1.500 Jadi nambah," ujarnya.

Kenaikan biaya produksi itu berdampak langsung pada pendapatan para perajin tempe.

Noyo mengatakan keuntungan yang diperoleh kini semakin menipis karena harga jual tempe tidak bisa dinaikkan secara sepihak.

Menurut dia, persaingan antarperajin yang cukup ketat membuat mereka harus mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak beralih ke produsen lain.

"Kalau kita mau naikin harga susah, karena saingan banyak," katanya.

Meski menghadapi kenaikan biaya produksi, Noyo memastikan dirinya tidak mengurangi ukuran maupun takaran tempe yang dijual kepada konsumen.

Sebagai gantinya, ia memilih menerima keuntungan yang lebih kecil agar usahanya tetap berjalan.

Noyo menuturkan kondisi keuntungan yang menurun sudah dirasakan sejak harga plastik pembungkus mengalami kenaikan pada April 2026 lalu dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Meski demikian, ia bersyukur permintaan pasar terhadap tempe masih relatif stabil.

"Alhamdulillah masih bagus. Kalau permintaan pasar masih bagus," ucapnya.

Saat ini, Noyo mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membantu proses produksi tempe setiap hari.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan harga kedelai impor agar para pelaku usaha kecil tidak semakin terbebani.

"Semoga bisa turun lagi seperti semula, biar usaha kami lancar lagi. Kalau seperti sekarang, orang kecil jadi susah," kata Noyo.

Berita terkait

  • Baca juga: Curhat Pengrajin Tempe: Puluhan Tahun Usaha, Baru Kali Ini Harga Plastik Melejit Setara Gaji Pegawai
  • Baca juga: Biaya Produksi Melonjak Bikin Pusing Pengrajin Tempe: Tak Berani Naikkan Harga Demi Pembeli
  • Baca juga: Perjuangan Pasutri Penjual Tempe Demi Naik Haji: Nabung Rp10 Ribu Tiap Hari, Sabar Menunggu 14 Tahun

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.