...pekerjaan besar bagi Kementerian kami dan perguruan tinggi, yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami, memanfaatkan, dan mengevaluasi perkembangan kecerdasan artifisial secara tepat

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan keberhasilan penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi harus berdasarkan kebutuhan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelolanya.

"Kuncinya kembali kepada satu hal, yaitu human capital atau sumber daya manusia. Yang paling fundamental dalam bisnis adalah kemampuan mengambil keputusan, termasuk menentukan persoalan mana yang perlu diselesaikan dengan AI, mana yang tidak perlu diselesaikan dengan AI karena biayanya justru lebih tinggi," kata Wamendiktisaintek Stella Christie dalam kegiatan Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa.

Profesor bidang psikologi kognitif itu menilai AI berpotensi dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis jika tidak digunakan dengan tepat.

Dalam kasus ini Wamendiktisaintek menyoroti tujuan utama pendidikan, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berpikir manusia. Ia juga mengajak peserta untuk mempertanyakan apakah AI dapat menggantikan fungsi intelektual manusia.

Dalam paparannya, Wamendiktisaintek Stella menyampaikan sebuah hasil penelitian yang mengukur dampak penggunaan Large Language Model (LLM) dalam penulisan esai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang hanya mengandalkan kemampuan berpikir sendiri (brain only) menghasilkan kualitas esai terbaik, sementara kelompok yang menggunakan LLM justru memperoleh hasil terendah.

Temuan ini, kata dia, menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI dapat mengurangi kemampuan berpikir, bernalar, dan menyusun argumen secara mandiri.

Di sisi lain berbagai survei internasional menunjukkan bahwa implementasi AI mampu meningkatkan produktivitas di berbagai sektor. Karena itu pendekatan yang diperlukan bukan menolak AI, melainkan memahami secara cermat keseimbangan antara manfaat dan risikonya.

Untuk itu Wamendiktisaintek Stella menekankan pentingnya kemampuan untuk mengambil keputusan, memahami kebutuhan penggunaan AI, menentukan waktu adopsi, dan mengevaluasi hasil dari penggunaan AI.

"Itu yang harus kita lakukan bersama dan itu menjadi pekerjaan besar bagi Kementerian kami dan perguruan tinggi, yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami, memanfaatkan, dan mengevaluasi perkembangan kecerdasan artifisial secara tepat," ucap Wamendiktisaintek Stella Christie.