Netanyahu Murka, Pecat Wakil Bos Mossad Gegara Gagal Jalankan 'Misi Rahasia' Gulingkan Rezim Iran
Nanda Lusiana Saputri June 09, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintahan Israel dibawah pimpinan PM Benjamin Netanyahu, dikabarkan memecat wakil kepala Badan intelijen Mossad setelah lebih dari dua dekade bertugas.

Laporan tersebut pertama kali diungkap media Israel Channel 12 yang mengutip dua sumber anonim dari lingkungan intelijen Israel.

Menurut laporan itu, wakil kepala Mossad yang namanya tidak disebutkan tersebut memimpin sebuah proyek besar yang diluncurkan sekitar satu tahun lalu dengan anggaran mencapai satu miliar shekel atau sekitar 344 juta dolar AS.

Operasi itu melibatkan ratusan personel intelijen dan disebut menjadi salah satu misi strategis Israel untuk melemahkan pengaruh serta kepemimpinan Iran di kawasan Timur Tengah.

Meski detail operasinya tidak dibuka secara resmi, sumber intelijen Israel menyebut proyek tersebut dirancang untuk membantu menciptakan tekanan internal terhadap pemerintahan Iran.

Termasuk kemungkinan memicu ketidakstabilan politik dan melemahkan pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah.

Namun setelah satu tahun operasi rahasia dijalankan, Mossad justru dianggap gagal total karena misi utama yang dijalankan tidak berhasil mencapai target strategis yang telah dirancang sejak awal, yakni menggoyahkan hingga melemahkan pemerintahan Iran.

Pada kenyataannya, pemerintahan Iran tetap bertahan dan tidak menunjukkan tanda-tanda runtuh seperti yang diharapkan Israel.

Bahkan di tengah konflik yang terus memanas dengan Israel, Iran justru masih mampu mempertahankan stabilitas pemerintahannya serta tetap menjalankan program militer dan nuklirnya.

Direktur Baru Mossad Ambil Langkah Tegas

Kegagalan operasi rahasia terhadap Iran diduga memicu evaluasi internal besar-besaran di tubuh badan intelijen Israel, Mossad. 

Situasi itu kemudian mendorong pimpinan baru Mossad mengambil langkah tegas dengan mencopot wakil kepala lembaga tersebut, karena gagal melemahkan pemerintahan Iran.

Baca juga: Bukan Pertama Kali Terjadi, Trump-Netanyahu Kini Berselisih Paham soal Serangan ke Iran dan Lebanon

Selain dianggap gagal mencapai tujuan, operasi tersebut juga dinilai berisiko memperburuk posisi Israel di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah, terutama dengan Iran dan kelompok sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon serta Hamas di Gaza.

Laporan media Israel menyebut Direktur Mossad yang baru diangkat, Roman Gofman, akhirnya memerintahkan langsung pemecatan wakil kepala badan intelijen tersebut pada Jumat lalu.

Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui siapa sosok yang akan menggantikan wakil kepala Mossad yang dipecat tersebut maupun bagaimana dampak internal keputusan itu terhadap operasi intelijen Israel berikutnya.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas nama Mossad, pergantian pejabat tersebut disebut sebagai bagian dari proses transisi kepemimpinan setelah penunjukan Roman Gofman sebagai direktur baru.

Pernyataan itu juga menjelaskan Gofman ingin membentuk jajaran pimpinan baru guna menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks serta menjalankan target strategis lembaga intelijen Israel ke depan.

Israel dan Iran Makin Terlibat Perang Bayangan

Munculnya laporan pemecatan pejabat tinggi Mossad kembali menunjukkan panasnya perang bayangan antara Israel dan Iran yang selama bertahun-tahun berlangsung secara tersembunyi.

Konflik kedua negara tidak hanya terjadi melalui ancaman militer terbuka, tetapi juga melibatkan operasi intelijen, serangan siber, sabotase, hingga perang proksi melalui kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Selama ini Israel menuduh Iran menjadi pendukung utama kelompok-kelompok anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Sebaliknya, Iran menuding Israel terus menjalankan operasi rahasia untuk melemahkan pemerintahan Teheran serta mengganggu program strategis negara tersebut, termasuk sektor pertahanan dan nuklir.

Laporan mengenai pemecatan wakil kepala Mossad muncul hanya beberapa hari setelah media Israel Yedioth Ahronoth mengungkap dugaan operasi lain yang melibatkan badan intelijen Israel tersebut.

Dalam laporan itu, Mossad disebut menyalurkan senjata yang disita dari Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon kepada kelompok-kelompok Kurdi.

Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari strategi Israel untuk menekan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Media Israel juga melaporkan badan intelijen Amerika Serikat, CIA, sempat ikut terlibat dalam operasi tersebut sebelum akhirnya dihentikan oleh Presiden Donald Trump.

Meski begitu, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun Amerika Serikat terkait laporan tersebut.

Pengamat menilai pergantian pejabat tinggi Mossad menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap badan intelijen Israel di tengah situasi regional yang semakin kompleks.

Kegagalan operasi intelijen berskala besar dinilai dapat mempengaruhi strategi keamanan Israel ke depan, terutama dalam menghadapi pengaruh Iran yang terus berkembang di kawasan.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.