Sampah Dapur Disulap Jadi Pupuk, Ibu-ibu WKRI Maulafa Belajar Kelola Limbah Organik
Oby Lewanmeru June 09, 2026 10:19 PM

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Siapa sangka kulit pisang, potongan wortel, dan nasi basi yang biasa dibuang ke tempat sampah ternyata bisa disulap menjadi pupuk cair yang menyuburkan tanaman?

Itulah yang dipelajari 20 ibu-ibu anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Maulafa dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar di RT 019, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Maulafa, Kota
Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 9 Juni 2026 pukul 16:00-18:00 WITA.

Kegiatan bertajuk "Pemberdayaan Perempuan Mengelola Sampah Organik Rumah Tangga
Berbasis Sirkular Ekonomi Mewujudkan Zero Waste Mendukung Ketahanan Pangan" ini
merupakan program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Masyarakat yang didanai langsung
oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
(Kemdiktisaintek) tahun 2026.

Dukungan pendanaan dari pemerintah pusat ini menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar kegiatan akademik biasa, melainkan bagian dari upaya nasional dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Baca juga: WKRI NTT Gelar Lomba Mewarnai Anak Usia Dini di Kupang

Para peserta diajak untuk melihat sampah dapur dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

Bukan lagi sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang masih bernilai.

Selama kegiatan berlangsung, suasana tampak hidup dan penuh semangat. Para ibu tidak hanya
duduk mendengarkan materi, tetapi langsung turun tangan memilah sampah organik,
menyiapkan bahan, dan mempraktikkan cara pembuatan pupuk organik cair.

Pupuk hasil olahan tersebut nantinya bisa langsung digunakan untuk menyuburkan tanaman sayur, tanaman hias, hingga tanaman pangan di pekarangan rumah masing-masing.

"Dari dapur, sampah organik dapat kembali ke tanah. Dari tanah, tanaman dapat tumbuh. Dari
pekarangan, keluarga dapat memperoleh sayur atau tanaman pangan sederhana," begitu rantai
manfaat yang ingin diperkenalkan tim pengabdian sebagai bagian dari gerakan ekonomi sirkular
dan zero waste di tingkat rumah tangga.

Kegiatan ini digagas oleh tim pengabdian masyarakat dari tiga program studi berbeda di
Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, yakni Apryanus Fallo (Manajemen)
selaku ketua tim, Gerardus D. Tukan (Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi), serta Susana
Purnamasari Baso (Akuntansi).

Mereka juga mengajak enam mahasiswa dari ketiga program studi tersebut untuk terlibat langsung di lapangan.

Kolaborasi lintas ilmu ini bukan tanpa alasan. Bidang kimia berperan dalam aspek teknis
pengolahan sampah menjadi pupuk cair, manajemen memperkuat pemahaman tentang ekonomi
sirkular dan pemberdayaan komunitas, sementara akuntansi bertugas menguatkan sisi pencatatan
melalui audit sampah rumah tangga berbasis aplikasi yang sedang dikembangkan.

Aplikasi audit sampah tersebut dirancang untuk membantu keluarga mencatat jenis dan jumlah
sampah yang dihasilkan setiap hari, sehingga mereka bisa lebih sadar dan terukur dalam mengelola limbah sejak dari sumbernya.

Tim pengabdian berharap para ibu-ibu WKRI Cabang Maulafa bisa menjadi pelopor gerakan
pengelolaan sampah organik di lingkungan mereka.

Sebab perubahan nyata tidak selalu harus dimulai dari program besar, cukup dari kebiasaan sederhana di dapur, dampaknya bisa meluas ke seluruh lingkungan sekitar. "Ketika satu rumah mulai memilah dan mengolah sampahnya, lingkungan sekitar ikut merasakan manfaatnya," demikian pesan yang dibawa pulang para peserta dari kegiatan ini. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.