TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Kenaikan harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional Kota Manado mulai menjadi perhatian masyarakat.
Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan cukup tinggi adalah bawang merah.
Di Pasar Pinasungkulan Karombasan, harga bawang merah tercatat mencapai Rp103 ribu per kilogram.
Sementara itu, di Pasar Bersehati Manado, harga komoditas yang sama bahkan menembus Rp120 ribu per kilogram.
Begitu juga dengan sejumlah bahan pokok lainnya.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran warga.
Terlebih di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebut telah menyentuh kisaran Rp18 ribu per dolar AS.
Menanggapi situasi tersebut, akademisi Universitas Negeri Manado (Unima), Robert Winerungan, menilai kenaikan harga bawang merah dan cabai lebih dipengaruhi faktor musiman dibandingkan pergerakan nilai tukar dolar.
"Kenaikan harga cabai dan bawang merah disebabkan faktor musiman. Jadi tidak berkaitan langsung dengan kenaikan dolar," kata Robert kepada Tribun Manado, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, pelemahan rupiah memang berdampak pada sejumlah barang impor.
Namun pengaruhnya lebih banyak dirasakan pada produk tertentu seperti barang elektronik dan bahan berbasis impor.
"Barang-barang seperti plastik dan elektronik yang banyak menggunakan komponen impor akan lebih terdampak. Namun itu umumnya bukan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari," ujarnya.
Robert menjelaskan sebagian besar bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat berasal dari produksi dalam negeri sehingga tidak terpengaruh secara langsung oleh fluktuasi kurs dolar.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak terlalu cemas dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini.
"Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir. Dampak kenaikan dolar lebih terasa pada barang impor dan bukan pada kebutuhan pokok yang diproduksi secara lokal," katanya.
Meski demikian, Robert mengakui biaya distribusi dan transportasi juga dapat memengaruhi harga barang, khususnya komoditas yang didatangkan dari Pulau Jawa ke Sulawesi Utara.
"Kenaikan biaya transportasi tentu bisa berdampak pada harga barang yang masuk dari Jawa. Namun kondisi itu perlu dipahami sebagai bagian dari biaya distribusi," pungkasnya.
(TribunManado.co.id/Pet)