Arsenal membuat keputusan mengejutkan dengan memecat kepala departemen medis olahraga mereka, Dr. Zafar Iqbal, hanya beberapa hari setelah kekalahan di final Liga Champions. Praktisi yang sangat dihormati itu diberhentikan dari jabatannya secara langsung setelah melalui musim yang melelahkan, yang berpuncak pada keberhasilan klub meraih gelar Liga Premier yang bersejarah.
Klub memecat kepala medis
Kepala eksekutif Richard Garlick menyampaikan kabar pemecatan tersebut kepada pria berusia 51 tahun itu dalam pertemuan mendadak pada hari Senin lalu. Menurut laporan dari The Telegraph, keputusan tersebut benar-benar mengejutkan staf internal klub, terutama karena Arsenal baru saja menunjuk fisioterapis asal Spanyol, Joaquin Acedo, untuk meninjau catatan cedera yang menjadi masalah sepanjang musim. Meski berhasil menjalani musim padat dengan 63 pertandingan dan mengakhiri penantian 22 tahun untuk meraih gelar liga, petinggi klub memilih bertindak cepat setelah kampanye Eropa mereka berakhir.
Kejutan internal menyelimuti kepergian
Proses formal di balik keputusan tersebut belum sepenuhnya jelas, membuat rekan-rekan kerja terkejut dengan keluarnya ketua Football Association Medical Society itu secara tiba-tiba. Seperti dijelaskan dalam laporan asli, kabar ini menjadi kejutan besar bagi Iqbal dan staf medis lainnya. Kepergian yang mendadak ini terasa aneh mengingat rekam jejak sang dokter yang luas, termasuk delapan tahun pengabdian di Crystal Palace serta pengalaman sebelumnya di tim utama Liverpool dan Tottenham Hotspur.
Perdebatan beban kerja setelah pencapaian bersejarah
Departemen medis Arsenal berada di bawah sorotan tajam sepanjang musim karena berbagai krisis kebugaran pada fase penting dalam perebutan gelar. Banyak pandangan internal yang muncul untuk membahas penyebab di balik absennya para pemain penting seperti Martin Odegaard, Bukayo Saka, Jurrien Timber, dan Kai Havertz dalam periode panjang selama kampanye perebutan gelar tersebut.
Para staf meneliti berbagai faktor seperti intensitas latihan, pemilihan pemain, rotasi skuad, dan kualitas perawatan fisik guna memahami mengapa beberapa pemain gagal mempertahankan kebugaran di tengah tuntutan fisik yang tinggi. Filosofi latihan intensitas tinggi tanpa kompromi dari Mikel Arteta memang akhirnya menghasilkan trofi, namun cedera yang tidak terduga — seperti insiden Mikel Merino yang mengalami patah kaki pada Januari sebelum kembali bermain di laga terakhir musim ini — menjadi tantangan besar bagi departemen medis.
Arteta lakukan restrukturisasi jelang pramusim
Klub asal London Utara itu kini harus mempercepat pencarian pengganti berkualitas tinggi sebelum skuad utama kembali untuk tugas pramusim. Restrukturisasi staf pendukung menjadi langkah penting bagi Arteta untuk memastikan ketahanan fisik para pemainnya dalam upaya mempertahankan gelar liga menghadapi persaingan sengit musim depan. Perombakan di jajaran belakang layar ini harus diselesaikan dengan cepat sebelum musim baru Liga Premier 2026-27 resmi dimulai pada 22 Agustus mendatang.