Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani mengajak seluruh kerabat dalem untuk mengikuti Kirab Malam 1 Suro dalam satu acara.
Ia berharap tidak ada kirab lain yang dapat mengurangi kesakralan prosesi adat ini.
“Acara yang digelar di Keraton Surakarta berdasarkan dawuh dalem. Ketika mereka ingin melakukan acara Suro juga, jika ingin bersama-sama dengan kita sesuai dawuh dalem PB XIV, monggo kita sambut. Itu akan menjadi momen berjalan bersama-sama,” ungkapnya saat ditemui di Talang Paten, Selasa (9/6/2026).
Ia berharap tidak ada gesekan yang terjadi selama prosesi sakral yang akan dilangsungkan 16 Juni 2026 mendatang.
Menurutnya, sesuai paugeran, semua prosesi dilakukan dalam satu rangkaian yang sama.
“Lokasinya sama, rutenya sama, kebo bulenya sama. Tempat keluarnya pusaka juga sama. Kami hanya menjalankan sesuai paugeran dan dawuh raja. Untuk menghormati upacara ini, kami minta masyarakat baik darah dalem sentono untuk menghormati upacara ini. Kalau terjadi gesekan, berarti mereka tidak menghormati,” jelasnya.
Lembaga Dewan Adat (LDA) sempat mempertanyakan keberadaan pusaka menjelang kirab ini.
Mereka meminta agar pusaka dikembalikan ke tempat asalnya.
GKRP Timoer menegaskan kembali bahwa keputusan raja adalah keputusan tertinggi yang harus ditaati semua kerabat.
Raja memiliki wewenang untuk menguasai pusaka sebagai pimpinan tertinggi dinasti.
“Ketika Kanjeng Wira bicara itu milik dinasti. Kita tidak pernah menyatakan itu milik pribadi raja. Kami tidak pernah menyatakan seperti itu. Raja adalah wakil dari dinasti dan itu turun-temurun. Keputusan raja mutlak dan tertinggi,” jelasnya.
Pengageng Paran Parakarsa PB XIV Purboyo, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat menambahkan bahwa ia menghormati adanya pandangan dari para kerabat terkait keberadaan pusaka ini. Namun, semua tetap bergantung pada keputusan raja.
“Posisi pusaka-pusaka dalem ada pada tempatnya sesuai petunjuk dan arahan SISKS Pakubuwono XIV. Narasi ataupun pendapat dari berbagai pihak kami hormati. Kembali lagi siapa yang menjadi raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dan semua berdasarkan dawuh dalem,” jelasnya.
Baca juga: Baliho Jadi Polemik, Tedjowulan Tegaskan GKR Wandansari Representasikan Keraton Berdasar SK Menteri
Di sisi lain, Pelaksana Keraton Solo KGPHPA Tedjowulan melalui juru bicaranya KP Pakoenagoro juga berharap tidak ada gesekan selama Kirab Suro. Meski di kubu berbeda, ia berharap semua kerabat bisa tetap rukun.
“Harapannya tidak ada gesekan horizontal karena Kirab Malam 1 Suro sakral. Gusti Tedjowulan berharap bisa diajak rukun dan kompak,” jelasnya. (*)