Perjuangan 85 Kilometer Tak Sia-sia, Zidni Dari Indramayu Tembus Sekolah Maung Impiannya Di Cirebon
Kemal Setia Permana June 09, 2026 10:45 PM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Perjalanan sejauh 85 kilometer dari Desa Sekarmulya, Kecamatan Gabus Wetan, Kabupaten Indramayu menuju Kota Cirebon menjadi saksi perjuangan panjang Zidni Ilma (15).

Mimpi yang ia pupuk sejak duduk di bangku kelas 6 SD akhirnya terwujud setelah namanya dinyatakan lolos sebagai siswa baru Sekolah Maung di SMAN 2 Cirebon.

Kebahagiaan itu terasa semakin istimewa karena perjalanan menuju impian tersebut tidak dilalui dengan mudah.

Bahkan di hari sebelum dipastikan kelulusannya, Zidni dan sang ayah sempat mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju SMAN 2 Cirebon untuk melihat hasil pengumuman.

"Ada cerita sedih. Kemarin pas mau lihat pengumuman penerimaan, saya jatuh sama bapak di wilayah Terisi. Luka di bagian tangan dan kaki," ujar Zidni saat ditemui di sela-sela proses daftar ulang di SMAN 2 Cirebon, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: SMAN 3 dan 5 Matangkan Persiapan Sekolah Maung Jelang Tahun Ajaran Baru 2026/2027

Meski harus menahan sakit akibat terjatuh di jalan, kabar kelulusan yang diterimanya seolah menghapus seluruh rasa lelah dan perjuangan yang telah dilalui selama berbulan-bulan.

Zidni mengaku masuk ke SMAN 2 Cirebon bukanlah cita-cita yang muncul secara tiba-tiba.

Ketertarikannya berawal dari cerita sang kakak yang menyebut sekolah tersebut memiliki kualitas pendidikan yang baik.

"Jujur, senang banget karena itu impian aku dari kelas 6 SD. Awalnya kakak saya bilang kalau SMAN 2 Cirebon itu bagus. Dari situ saya mulai cari tahu dan ternyata memang bagus banget. Terus saya mulai minat dan pengen banget sekolah di sini," ucapnya.

Keinginan besar itu kemudian ia wujudkan melalui kerja keras.

Ia mengikuti seleksi melalui jalur rapor akademik dengan nilai rata-rata rapor mencapai 90.

Persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) pun dilakukan secara serius.

"TKA itu begitu diumumkan saya langsung belajar. Awalnya masih renggang-renggang, tapi belajar intens hampir dua bulan sebelum TKA," jelas dia.

Usaha tersebut membuahkan hasil. Zidni memperoleh nilai TKA sebesar 157 dan berhasil mengamankan satu kursi di sekolah yang kini berstatus Sekolah Maung tersebut.

Meski berhasil lolos, ia mengakui proses yang dijalani tidak mudah.

"Susah dibilang susah, iya sih. Karena persiapannya itu yang bikin susah," katanya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Jelaskan Fungsi PCMB: Bagian Penting Sebelum Pelaksanaan SPMB

Kelulusan itu juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga.

Zidni bahkan disebut menjadi satu-satunya siswa dari SMP Negeri 1 Karangampel yang berhasil diterima di SMAN 2 Cirebon tahun ini.

"Kalau dari Ibu sih bangga banget, dari kakak-kakak juga, dari Ayah juga tentu begitu," ujarnya.

Perjuangan Zidni belum berhenti. Karena jarak rumahnya yang cukup jauh, ia berencana tinggal sendiri di Cirebon selama menempuh pendidikan.

"Kemungkinan bakal ngekos sih. Sendiri kok," ucap Zidni.

Sang ayah, Yahya Ansori (50), mengaku sejak awal melihat kesungguhan anak bungsunya dalam mengejar impian tersebut.

Ia menyaksikan langsung bagaimana Zidni belajar secara disiplin setiap hari dengan target-target yang jelas.

"Semangatnya untuk berikhtiar bisa masuk. Dan itu dia usahakan secara disiplin, belajar dengan target-target tertentu. Terutama fokus meningkatkan kemampuan di TKA. Saya lihat sendiri dia terus belajar tiap hari," jelas Yahya.

Menurut Yahya, peluang anaknya untuk lolos sebenarnya sangat kecil.

Apalagi sebelum sistem zonasi dihapus dalam mekanisme Sekolah Maung, peluang siswa dari luar daerah untuk diterima dinilai sangat terbatas.

"Awalnya targetan anak saya itu kemungkinan lolos sekitar 2 persen. Ikhtiar untuk menembus 2 persen itu menurut saya sulit sekali," katanya.

Karena itulah, ketika pengumuman menyatakan Zidni diterima, kebahagiaan keluarga terasa berlipat ganda.

Yahya mengungkapkan, keluarga sengaja memilih SMAN 2 Cirebon meski tersedia sekolah negeri yang lebih dekat dari rumah mereka di Indramayu.

"Pertimbangannya, kata anak saya, SMA 2 lebih bagus dan nilai eligible-nya lebih baik. Jadi meskipun lebih jauh, kami mencoba memilih yang lebih baik," ujarnya.

Tidak hanya itu, Zidni juga sudah memiliki mimpi besar untuk masa depannya.

Saat ditanya mengenai rencana setelah lulus SMA, remaja yang merupakan anak keempat dari empat bersaudara itu menyebut ingin melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri.

"Kalau rencananya, mau ke MIT kalau bisa," jawab Zidni singkat.

MIT yang dimaksud adalah Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat, salah satu kampus terbaik dunia yang dikenal sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, suasana daftar ulang di SMAN 2 Cirebon pada Selasa (9/6/2026) tampak ramai sejak pagi.

Ratusan calon siswa bersama orang tua memadati Mini Hall sekolah untuk menyelesaikan proses administrasi.

Mereka merupakan bagian dari 384 siswa yang berhasil lolos seleksi dari total 755 pendaftar yang berasal dari berbagai daerah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Cirebon, Deddy Setiawan mengatakan, proses daftar ulang menjadi puncak rangkaian penerimaan peserta didik baru Sekolah Maung tahun ini.

"Alhamdulillah kita ditunjuk sebagai Sekolah Maung oleh Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan. Dan alhamdulillah pada hari ini kita mencapai puncaknya, yaitu daftar ulang," ujar Deddy.

Menurutnya, seluruh siswa diterima melalui jalur prestasi tanpa sistem zonasi.

Selain itu, SMAN 2 Cirebon juga tengah menyiapkan penerapan Kurikulum Cambridge yang akan dikombinasikan dengan Kurikulum Nasional sebagai bagian dari pengembangan kualitas pendidikan di Sekolah Maung. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.