Fikom Unisba Soroti Ancaman Hoaks di Era Digital, Lulusan Komunikasi Kian Dibutuhkan
Muhamad Syarif Abdussalam June 09, 2026 10:45 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Maraknya hoaks, banjir informasi, hingga narasi negatif di media sosial menjadi tantangan terbesar masyarakat di era digital saat ini.

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Bandung (Unisba), Rini Rinawati, menilai kemampuan literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak informasi menyesatkan yang beredar di berbagai platform digital, termasuk TikTok.

“Kalau berkaitan dengan dunia digitalisasi, tantangan terberatnya adalah banyaknya narasi negatif dan informasi yang tidak benar atau hoaks. Karena itu dibutuhkan keberdayaan melalui literasi agar masyarakat memiliki kemampuan kritis untuk memilih, memilah, dan memaknai setiap informasi yang diterima," ujar Rini, dalam Prosesi Milad ke-43 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba) yang mengusung tema “Fikom Unisba for Impact Smart 2026: Fikom Rumah Bersama” di Unisba, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, perkembangan teknologi komunikasi yang berlangsung sangat cepat menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi generasi muda.

Di tengah kekhawatiran sebagian kalangan terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), Rini justru melihat prospek lulusan ilmu komunikasi semakin terbuka lebar.

“Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat justru membuat peluang kerja di bidang komunikasi semakin banyak. Dunia digital membuka lapangan pekerjaan baru yang menjadi ruang bagi lulusan ilmu komunikasi," katanya.

Ia menegaskan, keberadaan AI bukan ancaman bagi lulusan komunikasi. Sebaliknya, teknologi tersebut merupakan bagian dari perkembangan industri komunikasi yang harus direspons dengan peningkatan kompetensi.

Dikatakannya, untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, pihaknya membekali mahasiswa dengan berbagai sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Unisba.

"Kami memiliki 12 skema kompetensi sehingga lulusan sudah siap bekerja, baik di dunia digital maupun sektor komunikasi konvensional," ujarnya.

Selain penguasaan teknologi, Rini menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan etika komunikasi sebagai modal utama menghadapi era digital.

Menurutnya, kemampuan tersebut diperlukan untuk menyaring informasi yang beredar masif di internet sekaligus mencegah penyebaran hoaks dan disinformasi.

“Kompetensi digital tidak hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap kritis dan etis dalam menggunakan informasi," katanya.

Di sisi lain, Rini menyebut minat masyarakat terhadap Program Studi Ilmu Komunikasi masih tergolong tinggi. Hal itu terlihat dari stabilnya jumlah pendaftar setiap tahun.

Tahun akademik 2026, Fikom Unisba menargetkan penerimaan sekitar 250 mahasiswa baru.

"Kalau melihat kondisi saat ini, ilmu komunikasi masih sangat diminati. Bahkan ketika ada sejumlah program studi lain yang ditutup, komunikasi tetap bertahan dan peminatnya masih tinggi," ucapnya. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.