Harga Bahan Pokok di Pasar Induk Tanjung Selor Naik, Pedagang Keluhkan Konsumen Irit Belanja
Cornel Dimas Satrio June 09, 2026 11:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Lonjakan harga sejumlah bahan pokok mulai memukul pedagang dan masyarakat di Pasar Induk Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global serta melemahnya nilai tukar rupiah yang hari ini menembus angka Rp18.190 per USD, sehingga mengacaukan rantai distribusi barang di daerah.

Dampaknya kini mulai mengubah perilaku konsumen. Para pedagang sembako mengeluhkan omzet yang terancam turun karena masyarakat mulai membatasi jumlah pembelian demi menghemat pengeluaran.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Induk Tanjung Selor, Mutmainah, mengaku hampir seluruh barang dagangannya mengalami kenaikan harga dari distributor.

Kenaikan paling tajam dan instan dirasakan pada komoditas beras dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

"Harga beras naik betul, apalagi merek Sejoli. Kemarin saya ambil masih Rp88 ribu per karung, sekarang sudah Rp102 ribu. Jadi saya jual Rp110 ribu," ujar Mutmainah saat ditemui TribunKaltara.com, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Imbas Rupiah Melemah dan Biaya Logistik Bengkak, Harga Sembako di Pasar Tenguyun Tarakan Meroket

Selain beras, komoditas minyak goreng juga ikut bergerak naik. Minyak goreng merek Tawon yang harga modalnya naik dari Rp200 ribu menjadi Rp220 ribu per dus, terpaksa dijual eceran seharga Rp24 ribu per botol dari harga sebelumnya Rp22 ribu.

Bahan dapur lainnya seperti gula pasir kini menyentuh Rp20 ribu per kilogram. Sementara tepung kanji naik menjadi Rp9 ribu per bungkus, dan harga kacang hijau melonjak drastis.

"Kacang hijau kemarin saya jual Rp25 ribu, sekarang saya kulakan sudah Rp30 ribu jadi saya jual Rp32 ribu," ungkap Mutmainah.

Tidak hanya barang kemasan, bumbu dapur seperti bawang merah pun ikut meroket ke angka Rp55 ribu per kilogram dari harga normal yang biasanya berkisar Rp38 ribu hingga Rp45 ribu.

Pembeli Mulai Irit Belanja

Meroketnya harga-harga ini langsung mengubah cara belanja masyarakat.

Mutmainah membeberkan bahwa meskipun jumlah pelanggan yang datang ke tokonya relatif sama, namun volume barang yang dibeli merosot tajam.

Warga kini cenderung menakar dan mengurangi jumlah belanjaan agar pengeluaran tidak membengkak melampaui pendapatan mereka.

"Karena naik, pembeli jadi sepi. Paling terasa itu jumlah yang dibeli, jadi seperti dikurangi," tuturnya.

Kondisi ini menempatkan para pelaku usaha mikro dan pedagang kecil pada posisi dilematis.

Mereka terpaksa menaikkan harga jual agar modal tetap berputar, tetapi di sisi lain harus menghadapi kenyataan bahwa daya beli masyarakat—khususnya kelas bawah—semakin terjepit.

Jika tren kenaikan harga ini terus berlanjut, tekanan terhadap ekonomi rumah tangga dan sektor usaha kecil di Tanjung Selor dikhawatirkan akan semakin meluas.

(*)

Penulis : Desi Kartika

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.