Viral Pasien di Papua Diminta Rp 45 Juta untuk Operasi, Begini Repons Direktur RSUD Jayapura
Paul Manahara Tambunan June 09, 2026 11:29 PM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Pihak manajemen RSUD Jayapura akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi resmi terkait kabar viral di media sosial mengenai permintaan biaya operasi fantastis sebesar Rp 45 juta. 

Kabar miring tersebut awalnya menimpa seorang pasien asal Kabupaten Mamberamo Raya yang tengah dirujuk ke rumah sakit tersebut. 

Direktur RSUD Jayapura, Andreas Pekey, menegaskan bahwa informasi yang simpang siur di tengah publik tersebut perlu segera diluruskan agar tidak memicu kesalahpahaman yang berlarut-larut. 

Andreas membeberkan, pasien yang bersangkutan awalnya dirujuk ke RSUD Jayapura lantaran didiagnosis mengalami gangguan saraf atau neurologi. 

"BPJS tidak selalu menanggung 100 persen biaya pengobatan. Ada obat-obatan, alat kesehatan, maupun jenis klaim tertentu yang tidak masuk dalam pembiayaan BPJS," ujar Andreas di Kota Jayapura, Selasa (9/6/2026). 

Baca juga: Viral Bayi Meninggal di RSUD Jayapura, Pertumbuhan Penduduk Papua Tak Diimbangi Fasilitas Kesehatan

Alat Medis Khusus di Luar Tanggungan BPJS

Lebih lanjut, Andreas menjelaskan dari hasil pemeriksaan lanjutan oleh tim medis, pasien tersebut diketahui juga mengalami patah tulang. 

Kondisi patah tulang itu rupanya memerlukan tindakan pemasangan alat kesehatan khusus. 

Meski seluruh biaya perawatan pasien tetap dijamin penuh oleh BPJS Kesehatan, namun alat medis spesifik tersebut rupanya tidak masuk dalam skema pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Pihak rumah sakit memperkirakan harga alat kesehatan khusus itu sendiri menyentuh angka sekitar Rp 40 juta. 

Andreas menyebut, sejak awal proses rujukan, pihak keluarga sebenarnya sudah diinformasikan bahwa alat tersebut tidak ditanggung oleh BPJS. 

"Ketika ditanyakan biayanya jika ditanggung pribadi, diperkirakan sekitar Rp 40 juta. Kemudian berkembang menjadi informasi Rp 45 juta dan kami tidak mengetahui asal tambahan angka tersebut," jelasnya. 

Klaim Telah Bantu Ratusan Pasien Gratis

Di balik polemik yang terjadi, Andreas mengungkapkan bahwa RSUD Jayapura selama ini memiliki rekam jejak yang nyata dalam membantu pasien yang membutuhkan alat medis berbiaya mahal. 

Tercatat, ada sekitar 15 pasien yang memerlukan alat medis dengan nominal Rp 23 juta hingga Rp 40 juta telah dibantu oleh pihak rumah sakit tanpa dipungut biaya sepeser pun. 

Bahkan, RSUD Jayapura juga pernah mengover pasien yang membutuhkan alat kesehatan khusus senilai hingga Rp 100 juta. 

Tak hanya itu, komitmen pelayanan juga menyasar kepada warga yang kurang beruntung secara administrasi. 

Sebanyak 707 pasien yang sama sekali tidak mengantongi kartu BPJS maupun jaminan kesehatan lainnya terpantau tetap mendapatkan pelayanan medis secara gratis di rumah sakit ini. 

Baca juga: Operasi Saraf Pasien dalam Kondisi Sadar Hadir di RSUD Jayapura, Begini Penjelasan Dokter Papua

Evaluasi Sistem Komunikasi

Andreas tidak menampik jika gaduh di media sosial ini kemungkinan besar dipicu oleh faktor miskomunikasi saat penyampaian informasi dari petugas kepada keluarga pasien. 

Sebagai langkah konkret, manajemen RSUD Jayapura berjanji bakal mengevaluasi total sistem komunikasi dan mekanisme rujukan mereka.

Hal ini dilakukan agar informasi medis ke depan bisa diterima oleh pasien dan keluarga secara lebih terang benderang. 

Di akhir penyataannya, Andreas mengimbau masyarakat luas untuk lebih bijak dan melakukan konfirmasi langsung ke pihak rumah sakit sebelum menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. 

"Fokus kami adalah menyelamatkan pasien dan memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik," pungkus Andreas. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.