TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengembangan Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS) diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru seiring dengan rencana penetapan statusnya menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal.
Kawasan industri seluas 796,65 hektare tersebut, menunggu status KEK Halal yang saat ini sedang proses pengesahan melalui Peraturan Pemerintah.
Status baru ini diharapkan mampu memberikan berbagai insentif fiskal, kemudahan birokrasi, serta penguatan ekosistem industri halal guna menarik arus investasi global.
Baca juga: KEK di Pulau Jawa Tetap Strategis untuk Akselerasi Target Pertumbuhan 8 Persen
Direktur Utama PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN), Adi Saputra Tedja Surya, menjelaskan selain HIPS, motor pertumbuhan juga ditopang oleh penguatan portofolio bisnis yang mencakup SAFE ‘n’ LOCK Eco Industrial Park, Element by Westin Ubud Bali, Four Points by Sheraton Pontianak.
“Hingga saat ini, SAFE ‘n’ LOCK masih menjadi pilar utama pendapatan perseroan. Namun ke depan, kami melihat peluang pertumbuhan yang semakin kuat dari portofolio bisnis yang terus berkembang,” ujar Adi dalam public expose tahunan yang digelar di Jakarta pada Selasa (9/6/2026),
Dalam proyeksi 2026, SAFE ‘n’ LOCK diperkirakan tetap menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 58 persen.
Sementara itu, lini bisnis hospitality juga diharapkan terus tumbuh seiring peningkatan kinerja operasional dan tingkat okupansi yang sehat.
Adi menegaskan, kekuatan SAFE ‘n’ LOCK terletak pada tingginya kepercayaan dan kepuasan tenant yang telah menjadi bagian dari ekosistem kawasan industri tersebut.
“Banyak calon tenant memperoleh referensi dari tenant yang sudah beroperasi. Kepercayaan dan kepuasan tenant menjadi fondasi penting pertumbuhan kawasan,” katanya.
Sementara itu, menurut manajemen, Adi menjelaskan, status KEK Halal akan memberikan berbagai insentif dan kemudahan yang dapat memperkuat ekosistem industri halal serta meningkatkan daya tarik investasi global.
Sejumlah investor dari Asia dan Timur Tengah disebut telah menunjukkan minat untuk berinvestasi di kawasan tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya telah memasuki tahap lanjutan.
“Minat investor terus berkembang positif. Ada perusahaan dari Asia dan Timur Tengah yang sudah menyatakan ketertarikan serius, bahkan beberapa telah mengonfirmasi rencana investasi,” ujar Adi.
Dirinya, persaingan investasi tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di tingkat regional Asia Tenggara.
“Pilihan investor bukan hanya Indonesia, tetapi juga Malaysia atau Vietnam. Karena itu kami terus meningkatkan daya saing agar Indonesia menjadi tujuan investasi yang kompetitif,” katanya.