Klakson: Pengangguran
Abdul Azis Alimuddin June 10, 2026 12:06 AM

Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Kita lihat dikanal-kanal Medsos bersileweran orang-orang menawarkan solusi berbagai macam persoalan.

Ada motivator yang senantiasa memberi tips-tips penyemangat agar kita mampu meraih cita-cita, setidaknya hidup layak.

Ada dengan model dagang multilevel.

Menawarkan pada orang-orang bisnis santai bermodal utama mulut yang gacor.

Bisnis sejenis itu mudah dijalankan.

Boleh dengan off line, boleh pula dengan on line.

Semua bisa, tergantung semangat menjalankannya, semangat menjual produknya.

Ada yang menjajakan solusi tanpa produk.

Hanya dengan memotivasi orang-orang untuk bergerak selaras dengan alam semesta.

Pendekatan ini tentu tak butuh biaya untuk berdaya.

Cukup dengan menata mindset dan nalar lantas memadukan dengan kesadaran bahwa energi positif banyak tersimpan dialam semesta.

Energi positif itu harus dipetik agar kita mampu berdaya dengan rezeki tak terduga dikemudian hari.

Cara memetik atau mengakses energi positif itulah yang diajarkan siang dan malam di kanal-kanal Medsos hingga suatu hari ia tampil dilaman medsos kita.

Bahkan, ada pula yang tampil menawarkan solusi pendekatan ibadah dengan sejumlah amaliah.

Pendekatan ini khas gaya agama.

Bahwa untuk meraih keberlimpahan rezeki dan kemudahan segala urusan haruslah rutin ibadah serta menjalankan sejumlah amalan-amalan khusus.

Niscaya dengan itu, solusi atas segala persoalan—terutama persoalan ekonomi segera terjawab.

Tapi di halaman sejumlah media massa, terbersik pemandangan yang tak wajar.

Ribuan orang antri mencari kerja dalam dalam sebuah gelar Loker akbar, di Jakarta pada Kamis (4/6/2026) lalu.

Gelaran Jakarta Job Fair 2026 yang digelar di GOR Senen, Jakarta Pusat itu dibanjiri pelamar kerja terutama Gen Z.

Dika (20), pemuda gen Z asal Bekasi, Jawa Barat, mengaku susahnya mencari kerja dalam dua tahun terakhir.

Ia sudah lebih dari 100 kali melamar pekerjaan.

Mulai dari posisi sales, operator forklift (truk industri) hingga kurir sudah dicobanya (Kompas.com, 5/6/2026).

Fenomena lainnya, banyak sarjana belia yang hingga kini tak dapat pekerjaan.

Mereka menjadi beban orang tua hingga usai sarjana.

Pengangguran sarjana semakin meluas.

Dengan kondisi begitu, keberadaan sarjana menjadi persoalan sosial dalam negeri kita.

Di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, menjadi TKI lebih dominan dibanding melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Disana, para anak muda berbondong bekerja sebagai TKI.

Sarjana dianggap tak berguna sebab menjadi TKI nyata mensolusikan persoalan ekonomi disana.

Disuatu pagi jelang siang, saya merefleksikan fenomena-fenomena itu.

Otak kecil saya termenung.

Bahwa kenyataan-kenyataan tentang rumitnya dunia kerja diatas menegaskan susahnya menjalankan tips-tips yang beredar di layar Medsos terkait metode mengatasi problem hidup dinegeri kita.

Terbayanglah munjungnya pengangguran-pengangguran muda dinegeri tua ini.

Fenomena itu pun menggiring kita untuk mencari apa sesungguhnya yang terjadi dinegeri subur ini.

“Pekerjaan” ibaratnya buronan yang dicari semua orang, tetapi dengan penuh kerumitan.

Sebab kini, mencari pekerjaan lebih rumit dibanding mencari pelaku kejahatan.

Bahkan kini, menjadi preman pun lebih susah apalagi bekerja disektor formal.

Dengan kondisi itu, mau tak mau, kita pasti tergerak untuk menilai kepemimpinan disegala level dinegeri kita. 
Merekalah sebenarnya solusi pengangguran kita.

Sayangnya, mereka terlalu canggih membangun program pembangunan, sementara masalah pengangguran muda tak kunjung disolusikan.

Bilapun lapangan kerja diciptakannya, tak lama ruang kerja itu krisis kepercayaan publik lantaran perilaku korup menyertai pengelolaannya.

Lihatlah BGN sebagai contoh terbaru. Petingginya diterungku karena penyelewengan.

Ditengah wabah pengangguran, memang Medsos seringkali menjadi obat penawar sejenak.

Sebab pada Medsos, berhamburan motivator ulung dengan beragam metodenya, namun mungkin sama ketidaktahuannya.

Mereka sama-sama tak tahu bahwa di dunia nyata, “menganggur” bisa memicu gejolak asam lambung.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.