Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku
POS-KUPANG. COM, KUPANG - Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama UPTD Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Dinas Sosial Provinsi NTT melaksanakan program bedah kamar bagi lansia terlantar di luar panti di RT 15/RW 4, Kelurahan TDM, Kota Kupang, dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Gerakan 1000 Hari Menuju Bahagia yang mencakup tiga komponen utama, yakni santunan sosial, layanan kesehatan, dan bedah kamar.
Sasaran kegiatan kali ini adalah Elisabeth Henuk, seorang lansia berusia 89 tahun yang tinggal seorang diri di rumah sederhana dengan kondisi yang memprihatinkan.
Sekretaris Komda Lansia NTT, Vincentius S. Medi Sera, mengatakan program bedah kamar lahir dari kepedulian terhadap kondisi lansia di luar panti yang masih banyak hidup dalam keterbatasan.
Baca juga: Kemensos RI Minta Pemda di Provinsi NTT Bangun Rumah Singgah untuk Lansia
Menurutnya, bedah kamar dipilih karena lebih mudah dilaksanakan dibandingkan bedah rumah yang membutuhkan berbagai persyaratan administrasi, termasuk kepemilikan lahan dan proses perizinan yang panjang.
"Kalau bedah rumah tentu banyak syarat yang harus dipenuhi. Karena itu kami memilih bedah kamar agar bantuan bisa langsung dirasakan oleh lansia yang membutuhkan. Siapapun lansia di luar panti yang memenuhi kriteria dan membutuhkan perhatian bisa menjadi sasaran program ini," ujarnya.
Vincentius mengakui masih banyak lansia terlantar yang belum terjangkau pelayanan sosial secara maksimal.
Karena itu, menurutnya, kepedulian terhadap lansia harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat dan berbagai lembaga sosial.
Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan memperhatikan kesejahteraan lansia sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan.
Namun di lapangan, masih banyak lansia yang hidup sendiri dengan kondisi tempat tinggal yang tidak layak.
"Kami masih menemukan banyak kondisi seperti ini. Karena itu pemerintah ke depan harus semakin peduli. Kalau memungkinkan perlu ada lebih banyak fasilitas atau panti bagi lansia terlantar yang memang membutuhkan perlindungan," katanya.
Menurut Vincentius, bantuan yang diberikan kepada Oma Elisabeth merupakan contoh nyata program yang manfaatnya langsung dirasakan oleh penerima.
Ia pun menilai kondisi Oma Elisabeth yang masih sehat dan mampu beraktivitas di usia 89 tahun merupakan hal yang patut disyukuri.
"Oma masih bisa berjalan, masih beraktivitas sendiri. Ini sesuatu yang luar biasa. Karena itu kami berharap dengan kamar yang lebih layak, beliau bisa hidup lebih nyaman dan lebih sehat," ujarnya.
Ia menambahkan, Komda Lansia NTT mengusung visi SMART, yaitu Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat.
Program yang langsung menyentuh kebutuhan lansia dinilai sejalan dengan visi tersebut.
"Ini bukan kegiatan seremonial atau hura-hura. Lansia langsung merasakan manfaatnya. Karena itu kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan semakin banyak pihak yang terlibat," katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Dinas Sosial Provinsi NTT, Fransiskus Xaverius Nong, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari informasi masyarakat mengenai kondisi Oma Elisabeth.
Setelah menerima laporan, pihaknya bersama Komda Lansia NTT turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya dan memutuskan memberikan bantuan melalui program bedah kamar.
"Kami mendapatkan informasi dari teman-teman tentang kondisi Oma Elisabeth. Setelah melihat langsung, kami bersama Komda Lansia sepakat memberikan pelayanan berupa santunan sosial, pemeriksaan kesehatan, dan bedah kamar," katanya.
Fransiskus menjelaskan bahwa Program Gerakan 1000 Hari Menuju Bahagia yang dijalankan pihaknya bertujuan menghadirkan pelayanan langsung bagi lansia yang membutuhkan perhatian.
Ia mengaku selama ini pihaknya bergerak dengan pendekatan kemanusiaan dan berupaya menjangkau lansia yang hidup dalam kondisi rentan.
"Kami bergerak dengan hati. Kalau ada lansia di sekitar lingkungan masyarakat yang membutuhkan bantuan, silakan informasikan kepada kami. Kami akan turun melihat langsung apakah yang bersangkutan layak mendapatkan pelayanan," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Oma Elisabeth menerima bantuan berupa beras, pakaian, sabun mandi, sabun cuci, sampo, handuk, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi fisiknya tetap terpantau.
Fransiskus menjelaskan, bedah kamar yang dilakukan tidak hanya memperbaiki kondisi fisik ruang tidur, tetapi juga menata kembali interior kamar agar lebih aman dan nyaman bagi lansia.
"Kami menata ulang kamar Oma Elisabeth, mulai dari pengaturan tempat tidur, kebersihan kamar, hingga penataan barang-barang di dalam kamar supaya lebih rapi dan layak ditempati. Tujuannya agar Oma Elisabeth bisa beristirahat dengan lebih nyaman dan aman," ujarnya.
Selain memperbaiki bagian yang rusak, tim juga memastikan kamar memiliki tata ruang yang lebih baik sehingga mendukung kesehatan dan kenyamanan lansia.
Fransiskus mengatakan hingga saat ini pihaknya telah melayani sekitar 130 lansia di Kota Kupang melalui pelayanan sosial dan pemeriksaan kesehatan.
Namun program bedah kamar yang dilakukan bersama Komda Lansia NTT merupakan yang pertama kali dilaksanakan.
Baca juga: PLN Amankan Listrik Operasi Katarak Ratusan Lansia Flores
"Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti sampai di sini. Kalau ada sponsor atau pihak lain yang ingin berkolaborasi membantu lansia yang tinggal di rumah tidak layak, kami sangat terbuka," katanya.
Bagi Oma Elisabeth, perhatian yang diberikan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri. Di usianya yang hampir satu abad, ia masih menjalani hidup secara mandiri di rumah sederhananya.
Kepada POS.KUPANG, Perempuan 89 tahun itu mengaku telah hidup sendiri sejak suaminya meninggal dunia sekitar sembilan tahun lalu.
Meski memiliki empat orang anak, 26 cucu, dan 17 cicit, Oma Elisabeth memilih menjalani kehidupan secara mandiri di rumah yang telah lama ditempatinya.
Salah satu anaknya bahkan tinggal tidak jauh dari rumah tersebut. Namun, Oma Elisabeth mengaku lebih nyaman mengurus kebutuhannya sendiri dan tidak ingin merepotkan anak maupun keluarganya.
Setiap hari ia memasak sendiri, membersihkan rumah sendiri dan mengurus seluruh kebutuhannya tanpa bantuan orang lain.
Meski demikian, Oma Elisabeth tetap bertahan menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.
Program bedah kamar tersebut diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dalam membantu lansia terlantar di Kota Kupang dan wilayah lainnya di NTT, sehingga mereka dapat menjalani masa tua dengan lebih sehat, aman dan bermartabat. (nov)