Kisah Alya, Penulis Cilik yang Luncurkan 3 Buku Sekaligus di Usia 9 Tahun
Seno Tri Sulistiyono June 10, 2026 12:20 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deretan nama penulis anak di Indonesia bertambah lagi.

Pada Selasa (9/6/2026), muncul nama Putri Alya Sidik yang meluncurkan tiga buku perdananya, tepat di usia sembilan tahun. 

Ketiga buku yang ditulisnya dalam bahasa Inggris itu diberi judul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Baca juga: Reuni SMPN 123 Jakarta, Kak Seto Ajak Guru dan Alumni Lawan Perundungan

Menceritakan tentang kehidupan kesehariannya, Putri Alya Sidik berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang hal-hal baik yang semestinya didapatkan dan dijalani oleh anak-anak Indonesia. 

“Aku ingin teman-temanku bersemangat dan gembira di sekolah, lebih suka makanan sehat, dan juga melakukan kegiatan yang menyenangkan di luar sekolah. Karena aku dan teman-temanku harus menjadi anak Indonesia yang sehat, pintar dan berprestasi," ungkap Alya dalam peluncuran bukunya di Hotel Gran Kemang, Jakarta Selatan.

Kemunculan Alya sebagai penulis buku cilik di tengah serbuan budaya digital dan media sosial menjadi pengecualian yang unik. 

Hal ini diungkapkan oleh Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital. 

“Tumbuhnya keberanian Alya untuk menerbitkan buku di usia 9 tahun menjadi hal yang patut diapresiasi dan dirayakan. Ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kreativitas, imajinasi, dan keberanian untuk berkarya sejak dini,” ungkap Meutya dalam kata pengantarnya. 

Lebih lanjut Meutya menegaskan bahwa  di tengah perkembangan teknologi, membaca dan menulis tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus penting untuk membantu anak-anak berpikir, berkreasi, dan mengenal dunia lebih luas. 

Alya berkeinginan menulis serial buku tentang kehidupan sehari-hari dan diberi label Diary of Alya, dengan target terbit minimal tiga buku baru setiap tahun. 

Buku-buku Alya ditulis dengan format berbahasa Inggris, berwarna, bergambar dan dengan dua puluhan jumlah halaman. 

“Aku ingin buku ini mudah dibaca dan dibawa oleh teman-temanku, menyenangkan karena banyak gambar dan berwarna, menambah kemampuan bahasa Inggris, serta memberi inspirasi untuk hidup sehat, semangat dan berprestasi," tutur Alya menjelaskan tentang ketiga bukunya.

Alya seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) berusia sembilan tahun menulis tiga buah buku dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya. 

Pengantar buku ditulis oleh Meutya Hafid, Menkomdigi RI, dan komentar dari Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar psikologi pendidikan anak, Prof. Effendi Gazali, Phd, pakar komunikasi politik, dan Inul Daratista, artis dan seorang ibu.

Kehadiran Alya, menambah deretan sedikit nama penulis buku cilik, dan membuka kembali fakta akan masih rendahnya tingkat literasi di masyarakat Indonesia.

Menurut data UNESCO (2020), Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal tingkat literasi dunia. 

Angka minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, artinya hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca. 

Sementara budaya menulis lebih rendah, karena masyarakat Indonesia lebih kuat dalam tradisi lisan (tutur/audiovisual).

Tradisi tutur dan audiovisual semakin berkembang dengan penggunaan meluas teknologi komunikasi. 

Menurut data UNICEF (2024), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta orang. 

Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57 persen sudah mengakses internet. 

Menteri Komdigi, Meutya Hafid telah mengeluarkan batasan kepada anak-anak dalam menggunakan internet, dan mendorong dikembangkannya budaya membaca dan menulis.

Rendahnya Tingkat Kegemaran Membaca dan Menulis (TGMM) masyarakat mencuat kembali dalam ulasan pada peluncuran serial buku Diary of Alya. Prof. Dr. Seto Mulyadi menyoroti lima faktor penyebab kondisi ini. 

Pertama, minat membaca pada anak masih rendah akibat minimnya keteladanan dan dorongan dari orangtua. 

Kedua, literasi digital yang pasif, dimana perilaku membaca pada anak bergeser ke media digital yang cenderung bersifat instan dan kurang melqatih kemampuan berfikir kritis. 

Ketiga, menulis masih dianggap beban akademis, sebatas menyelesaikan tugas sekolah sehingga kreativitas dan kemampuan menuangkan ide secara bebas tidak terasah. 

Keempat, akses buku tidak merata dengan kesenjangan besar di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). 

Kelima, kurangnya peran keluarga dimana membaca belum menjadi kebiasaan sehari-hari di keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Pandangan Kak Seto ini diamini oleg Gregoria Ira, Vice Principal pada Delima School, Jakarta. Menurutnya, kurikulum sekolah dan buku teks belum mampu menumbuh-kembangkan budaya baca dan menulis pada siswa.

 Salah satu penyebabnya adalah serbuan media digital yang lebih menyuburkan budaya tutur atau audiovisual.

 Untuk menjawab tantangan tersebut, Delima School misalnya, memadukan konsep “sekolah digital” dan “sekolah konvensional” dengan pembiasaan pada budaya membaca dan menulis. 

“Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apapun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak,"ungkap Ira. 

Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis adalah alat utama untuk membentuk cara anak berfikir, berkomunikasi, dan memahami dunia. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.