Harga TBS Sawit di OKU Timur Anjlok Jadi Rp2.700 per Kg, Petani Mengeluh Biaya Pupuk Mahal
tarso romli June 10, 2026 12:27 AM

Baca juga: Harga Sawit di Sumsel Setelah Presiden Prabowo Terapkan Kebijakan Ekspor Satu Pintu Via PT DSI


SRIPOKU. COM, MARTAPURA – Kabar kurang menggembirakan kembali menghampiri para petani komoditas perkebunan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan. Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani swadaya dilaporkan kembali mengalami tren penurunan pada pekan ini.

Setelah sempat bertengger manis di kisaran Rp3.000 per kilogram, harga jual sawit merosot menjadi Rp2.700 per kilogram.

Kondisi fluktuasi harga tersebut dikeluhkan secara masif oleh para petani kelapa sawit di wilayah Kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur.

Mereka menilai, ketidakstabilan harga yang terjadi dalam waktu singkat ini membuat para petani kesulitan untuk menentukan momentum atau waktu yang tepat untuk memanen dan menjual hasil kebun mereka.

Salah seorang petani sawit di Kecamatan Jayapura, Wira, mengungkapkan bahwa persoalan naik turunnya harga TBS kelapa sawit sebenarnya bukanlah barang baru.

Namun, yang menjadi persoalan adalah pola perubahannya yang kerap terjadi dalam waktu singkat, sehingga menyulitkan petani dalam mengalkulasi margin keuntungan usaha harian mereka.

"Naik turun harga sawit ini sudah menahun terjadi. Pola harganya sering sekali tidak stabil, efeknya kami menjadi bingung menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk menjual hasil panen ke pengepul," ujar Wira kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).

Wira membeberkan, penurunan harga pada pekan ini dirasa kian memukul kondisi finansial keluarganya.

Hal itu lantaran tanaman kelapa sawit di lahan miliknya baru memasuki fase belajar berbuah, sehingga kapasitas produksi TBS yang dihasilkan pun masih tergolong sangat terbatas.

"Karena pohon sawit kami masih tergolong baru berbuah, hasil panen yang didapat belum bisa melimpah, baru berkisar sekitar lima ton. Ketika harga jualnya turun ke angka Rp2.700 seperti sekarang, dampaknya tentu langsung sangat terasa memangkas pendapatan bersih bulanan kami," keluhnya lesu.

Lebih lanjut, Wira menjelaskan bahwa penderitaan petani sawit swadaya di OKU Timur seolah berlapis.

Penurunan harga TBS yang terjadi di hilir sama sekali tidak dibarengi dengan penurunan harga input pertanian di hulu.

Petani tetap harus merogoh kocek mendalam lantaran biaya operasional produksi dan perawatan tanaman, seperti harga pupuk kimia non-subsidi hingga pengadaan bibit unggul, masih relatif mahal dan terus merangkak naik di pasaran.

Kondisi ini otomatis menjepit margin keuntungan yang bisa dibawa pulang oleh para petani.

"Harga pupuk esensial dan bibit berkualitas saat ini masih tinggi sekali di pasar. Kami para petani kecil di daerah sangat berharap ada langkah nyata dari instansi terkait, baik berupa pengawasan harga pupuk maupun pemberian stimulus, agar perkebunan sawit rakyat ini bisa terus bertahan dan berkembang," harapnya.

Para petani di Kecamatan Jayapura berharap agar stabilitas harga TBS sawit dapat kembali pulih ke angka Rp3.000 ke atas guna menghadirkan kepastian usaha yang sehat bagi masyarakat, mengingat mayoritas warga setempat menggantungkan roda ekonomi keluarga dari sektor komoditas kelapa sawit.

Baca juga: Harga Sawit di OKI Naik, TBS Petani Dihargai Rp 2.800 Ukuran Besar dan Rp 2.500 Ukuran Sedang

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.