Respons Isu 'Sell Indonesia', Komisi XI DPR Minta Pemerintah Perkuat Kepercayaan Investor
Seno Tri Sulistiyono June 10, 2026 01:33 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Mardani Ali Sera, menilai munculnya sentimen "Sell Indonesia" yang berkembang di pasar keuangan perlu disikapi secara bijak dengan memperkuat kepercayaan investor, pelaku pasar, dan masyarakat terhadap prospek ekonomi nasional.

"Sell Indonesia" adalah istilah dan narasi pasar keuangan yang merujuk pada aksi jual massal aset-aset berbasis Indonesia oleh investor global akibat penurunan tingkat kepercayaan pasar.

Menurutnya, berbagai dinamika yang terjadi di pasar hendaknya dijadikan masukan untuk memperkuat komunikasi kebijakan ekonomi sekaligus memperjelas arah pembangunan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat, baik dari sisi pertumbuhan, sektor keuangan, maupun daya tahan terhadap berbagai gejolak global. Namun dalam situasi ketidakpastian global yang masih tinggi, penguatan kepercayaan pasar tetap menjadi faktor penting yang perlu terus dijaga bersama," ujar Amin Ak dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Tahan Rupiah Tak Makin Terpuruk, Pengusaha Minta Pemerintah Jaga Kepercayaan Investor

Amin mengatakan, pasar keuangan sangat bergantung pada kepastian dan konsistensi kebijakan. Karena itu, pemerintah perlu menyampaikan arah kebijakan ekonomi secara lebih jelas dan terukur agar optimisme investor terhadap Indonesia tetap terjaga.

Ia mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun menurutnya, langkah tersebut perlu diimbangi dengan komunikasi yang lebih intensif kepada publik maupun pelaku pasar.

"Pasar pada dasarnya membutuhkan kepastian dan konsistensi. Oleh karena itu, penyampaian roadmap kebijakan ekonomi yang jelas akan membantu meningkatkan keyakinan investor sekaligus memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," katanya.

Selain memperkuat komunikasi kebijakan, Amin juga mendorong percepatan berbagai agenda reformasi ekonomi yang selama ini menjadi perhatian dunia usaha.

Ia menyebut sejumlah sektor yang perlu mendapat perhatian antara lain peningkatan kemudahan investasi, penguatan industri nasional, pengembangan sumber daya manusia, hingga peningkatan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global.

Menurut Amin, penguatan kepercayaan pasar tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah semata. Diperlukan sinergi yang kuat antara berbagai lembaga ekonomi dan keuangan negara.

"Sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, LPS, serta seluruh pemangku kepentingan ekonomi perlu terus diperkuat agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga," ujarnya.

Amin menegaskan Indonesia memiliki pengalaman dan kapasitas yang cukup dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. Karena itu, ia optimistis Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di kawasan.

"Kita memiliki pengalaman dan kapasitas yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. Yang penting adalah menjaga koordinasi, memperkuat kepercayaan, dan memastikan seluruh kebijakan berjalan secara konsisten sehingga masyarakat maupun pelaku pasar memperoleh keyakinan yang kuat terhadap arah ekonomi nasional," tuturnya.

Ia menambahkan, berbagai sentimen yang muncul di pasar seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperbaiki kualitas kebijakan, tata kelola, dan komunikasi ekonomi nasional.

"Kita optimistis terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Tugas kita bersama adalah menjaga optimisme tersebut dengan kerja nyata, tata kelola yang baik, serta kebijakan yang mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha dan masyarakat," pungkasnya.

Sebelumnya, investor asing ramai-ramai jual saham Indonesia di tengah indeks saham gabungan (IHSG) terus menerus anjlok. 

Seruan untuk menjual saham Indonesia diantara investor global meningkat. 

Investor global semakin kehilangan kepercayaan pada Indonesia.  

Dimuat Kontan.id Jumat (5/6/2026) tren jual beli saham di Asia saat ini bahkan bertajuk Sell Indonesia.

Hal itu diungkapkan George Boubouras, kepala riset di hedge fund K2 Asset Management, yang mengelola sekitar US$ 4,3 miliar. 

Setelah puluhan tahun berinvestasi di Indonesia, Bourbouras juga keluar sepenuhnya dari pasar pada 2024. 

Banyak faktor dari anjloknya IHSG selama beberapa bulan terakhir selain karena perang di Timur Tengah. 

Yuxuan Tang, kepala strategi suku bunga dan valuta asing Asia di JPMorgan Private Bank, Hong Kong mengakatakan ketidakpastian politik domestik adalah risiko tipikal di pasar berkembang, dan investor global cenderung menunggu sampai ada prediktabilitas kembali. 

Investor juga mencermati potensi penurunan peringkat kredit negara serta keberlanjutan fiskal sejumlah program prioritas pemerintah yang membutuhkan anggaran besar, termasuk program makan bergizi gratis. 

Ketidakpastian tersebut memicu aksi jual di berbagai aset Indonesia sepanjang tahun ini. 

IHSG tercatat telah turun lebih dari 30 persen, sementara nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6/2026). Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 4,5 persen . 

Tekanan pasar juga membuat Indonesia kehilangan status sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara. 

Pada akhir Mei, posisi tersebut diambil alih Singapura setelah penurunan tajam harga saham di Indonesia menggerus kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.

Eksklusi terbaru dari indeks global menjadi perhatian besar mengingat Indonesia selama puluhan tahun berupaya meningkatkan representasinya dalam berbagai indeks internasional.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 4,20 % ke level 5.594,77 pada Jumat (5/6/2026). Seluruh sektor tercatat melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor transportasi yang terkoreksi hingga 5,97 % .

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.