Serangan Besar! Rudal Iran Hantam Israel, Sinyal Percaya Diri Teheran Kian Menguat di Timur Tengah
Eri Ariyanto June 10, 2026 01:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Serangan rudal besar yang diluncurkan Iran ke wilayah Israel kembali mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah dan memicu kepanikan internasional. 

Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa titik strategis, menandai eskalasi baru dalam konflik kedua negara yang selama ini terus memanas. 

Aksi militer ini disebut sebagai respons atas ketegangan yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir. 

Situasi tersebut membuat Israel langsung meningkatkan status siaga di seluruh wilayahnya.

Di sisi lain, Iran dinilai tengah menunjukkan kekuatan militernya secara terbuka di hadapan dunia. 

Serangan ini juga dianggap sebagai pesan politik bahwa Teheran tidak akan tinggal diam terhadap tekanan yang terus datang. 

Analis menilai langkah tersebut memperlihatkan meningkatnya kepercayaan diri Iran di panggung geopolitik Timur Tengah. 

Namun, langkah ini sekaligus membuka potensi eskalasi konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Baca juga: Donald Trump-Netanyahu Tak Akur, Iran Manfaatkan Celah dan Ambil Alih Kendali Meja Perundingan

Seperti diketahui, rentetan serangan rudal balistik yang dilancarkan Iran ke wilayah Israel dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar aksi balas dendam. 

Di balik hujan rudal itu tersimpan pesan yang lebih besar: Iran ingin menunjukkan dirinya sebagai kekuatan dominan di kawasan Timur Tengah, sekaligus menempatkan Washington dalam posisi bertahan.

Serangan ini juga menjadi sinyal bahwa Tehran masih memiliki kemampuan serangan yang signifikan, meski telah dihantam serangan udara yang intensif dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Para pemimpin di Teheran tampaknya berharap serangan rudal ini, ditambah keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menjaga peluang kesepakatan damai, akan menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar mengurangi serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.

Hizbullah sendiri merupakan kelompok milisi yang selama ini menjadi sekutu Iran, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.

Situasi memanas setelah Israel melancarkan serangan udara ke Beirut di tengah gencatan senjata.

Iran merespons dengan serangkaian serangan rudal ke Israel yang tidak menimbulkan banyak kerusakan. 

Israel kemudian membalas dengan menghantam kilang petrokimia penting milik Iran serta sistem pertahanan udaranya. 

Ini merupakan jual beli serangan langsung pertama antara kedua rival bebuyutan tersebut, sejak Trump mengumumkan penghentian kampanye pengeboman AS dan Israel terhadap Iran pada April lalu.

Pada Senin (8/6/2026), Iran menyatakan telah menghentikan serangannya, tetapi memperingatkan bahwa serangan bisa dilanjutkan dan meluas jika Israel terus menyerang, termasuk di Lebanon selatan. 

Israel pun mengakhiri serangannya terhadap Iran, tetapi menegaskan akan terus beroperasi melawan Hizbullah.

"Israel dan Iran harus segera berhenti 'menembak'," tulis Trump di media sosialnya pada Senin.

RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026.
RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026. (Dok./Wartakota)

Iran makin percaya diri

Di satu sisi, Iran semakin percaya diri setelah berhasil bertahan lebih dari sebulan serangan udara gabungan AS dan Israel. 

Mereka bahkan berhasil membangun sejenis daya gentar dengan membuktikan kemampuannya menimbulkan kerugian bagi ekonomi global melalui blokade Selat Hormuz, dan serangan terhadap negara-negara tetangga di Teluk yang relatif rentan.

Di sisi lain, Gedung Putih enggan kembali menyalakan perang, meski Trump berulang kali ditantang dalam gencatan senjata dua bulannya.

Hal tersebut turut mendongkrak keyakinan Teheran bahwa mereka bisa bersikap lebih tegas tanpa memicu serangan balasan yang merusak.

"Keputusan Iran menunjukkan mereka percaya memiliki posisi lebih kuat, dengan Trump yang enggan memperbarui pertempuran," kata Ofer Guterman, peneliti senior di Institute for National Security Studies yang berbasis di Tel Aviv. 

"Hal itu memungkinkan mereka memproyeksikan kekuatan, dan bukan dengan cara yang sepele," tambahnya.

Namun Iran tetap dalam posisi rentan. 

Ekonominya porak-poranda, tidak memiliki kendali atas wilayah udaranya sendiri, dan kemampuannya untuk menimbulkan kerusakan strategis yang bisa menghentikan serangan Israel yang bertekad tetap terbatas.

Ribuan rudal masih tersimpan

Meski begitu, kesediaan rezim untuk terus bereskalasi berhasil membalikkan sebagian keuntungan yang telah diraih AS dan Israel dalam perang 12 hari pada Juni 2025.

Iran juga telah membuktikan dalam serangkaian bentrokan beberapa pekan terakhir bahwa mereka masih memiliki lebih dari cukup rudal untuk terus bertarung. 

Badan-badan intelijen AS pada April menilai bahwa Iran keluar dari fase awal perang 40 hari dengan ribuan rudal balistik yang masih utuh.

Para petinggi Teheran kini dengan percaya diri memamerkan kemampuan mereka menggunakan kekuatan militer untuk mengancam kepentingan AS dan Israel, sekaligus membentuk jalur diplomatik.

"Bangsa Iran telah membuktikan dalam perjuangannya melawan AS dan rezim Zionis bahwa era ancaman tanpa konsekuensi terhadap Iran telah berakhir," tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran, pekan lalu.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.