Profil Kecamatan Toho, Gerbang Timur Kabupaten Mempawah
Try Juliansyah June 10, 2026 02:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO,ID, MEMPAWAH - Berada di timur Kabupaten Mempawah, Kecamatan Toho menjadi koridor penyangga (buffer zone) ekonomi yang krusial.

Karakteristik agraris yang mapan berpadu dengan letak geografis yang strategis, menempatkan wilayah ini sebagai jalur perlintasan logistik harian antar-kabupaten.

Berdasarkan data berkala Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Kecamatan Toho Dalam Angka, wilayah ini tidak hanya mencatatkan pertumbuhan demografi yang stabil, tetapi juga memperlihatkan penguatan signifikan pada pemenuhan infrastruktur dasar.

1. Lanskap Geografis

Secara topografis, lanskap Toho seluas 112,63 hingga 186,11 kilometer persegi, menyumbang sekitar 8,82 persen dari total luas daratan Kabupaten Mempawah, merupakan perpaduan dataran rendah, kawasan lahan basah produktif, dan perbukitan bergelombang.

Posisinya secara geopolitik wilayah sangat strategis karena memotong jalur langsung menuju pedalaman Kalimantan Barat:

Sisi Utara: Berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang

Sisi Timur: Menempel langsung pada garis batas Kabupaten Landak

Sisi Selatan: Berbatasan dengan Kecamatan Anjongan dan Segedong

Sisi Barat: Dibentengi oleh Kecamatan Mempawah Hilir dan Sadaniang

Pusat kendali administrasi yang membawahi delapan desa definitif (Desa Toho Ilir, Kecurit, Sepang, Sambora, Terap, Bentiang, Pentek, dan Pak Laheng) dipusatkan di Desa Toho.

Pembagian kluster desa ini mempermudah distribusi kebijakan pemulihan ekonomi hulu ke hilir.

Baca juga: Tim Peneliti IAIN dan STAKat Pontianak Teliti Kerukunan Umat Beragama di Mempawah

2. Struktur Demografi

Dari aspek kependudukan, Toho saat ini dihuni oleh sedikitnya 25.120 jiwa. Visualisasi proyeksi spasial menunjukkan pola persebaran penduduk yang mulai bergeser, di mana kepadatan linier kini terkonsentrasi kuat di sepanjang koridor jalan utama desa (ribbon development).

Struktur demografi Toho didominasi oleh kelompok usia produktif (15–64 tahun), sebuah modal sosial yang krusial bagi produktivitas daerah. Uniknya, di tengah struktur masyarakat yang multietnis, terdiri dari keterwakilan suku Dayak, Melayu, Tionghoa, serta komunitas pendatang, interaksi sosial tetap berjalan kondusif dan harmonis, menciptakan stabilitas keamanan yang ramah bagi iklim investasi.

Mayoritas kepala keluarga (KK) di Toho menggantungkan hidup pada sektor primer sebagai petani padi sawah, penyadap karet alam, serta pengelola kebun kelapa sawit swadaya. Selebihnya bergerak di sektor penunjang seperti niaga retail dan jasa birokrasi pemerintahan.

3. Akselerasi Infrastruktur dan Transformasi Sektoral

Transformasi yang paling terlihat dalam beberapa tahun terakhir berada pada sektor konektivitas.

Jalur darat antardesa di Toho kini didominasi oleh perkerasan aspal dan beton kaku (rigid pavement) standar kendaraan roda empat. Perbaikan infrastruktur jalan ini krusial karena status Toho merupakan jalur nadi logistik harian menuju Kabupaten Landak.

Di sektor pelayanan dasar, sebaran fasilitas publik tercatat makin merata:

Pendidikan: Ketersediaan SD dan SMP/MTs tersebar proporsional di tiap desa, dengan pusat pendidikan menengah atas (SMA/SMK) terkonsentrasi di ibu kota kecamatan.

Kesehatan: Layanan kesehatan bertumpu pada Puskesmas Toho, yang ditopang oleh jaringan Puskesmas Pembantu (Pustu) serta kader Posyandu aktif di level dusun untuk menjamin kesehatan ibu dan anak.

4. Optimalisasi Potensi

Sebagai salah satu lumbung padi utama Kabupaten Mempawah, Toho konsisten menjaga surplus produksi tanaman pangan melalui pemanfaatan lahan sawah produktif.

Di sektor perkebunan, komoditas karet alam dan kelapa sawit, baik yang dikelola oleh korporasi swasta maupun perkebunan rakyat, menjadi mesin utama perputaran uang tunai (cash flow) harian masyarakat.

Menariknya, Toho mulai melirik sektor ekonomi kreatif non-ekstraktif. Keanekaragaman lanskap alam berupa air terjun dan riam di kawasan Desa Sambora kini mulai diintegrasikan ke dalam program Desa Wisata.

Langkah pengembangan ini mulai dikelola secara korporatif melalui optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Intervensi BUMDes diharapkan mampu menciptakan hilirisasi ekonomi baru, sehingga Toho tidak hanya menjadi daerah perlintasan komoditas, melainkan destinasi pertumbuhan ekonomi mandiri yang inklusif di timur Mempawah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.