TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Simak kronologi dugaan keracunan makanan puluhan jemaat Gereja Stella Maris, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak pada Minggu 7 Juni 2026.
Kejadian itu bermula dari kegiatan ramah tamah usai perayaan komuni pertama.
Kepala Bidang Persekutuan Gereja Stella Maris, Anton Suprayogi, menjelaskan kegiatan komuni pertama tersebut diikuti sebanyak 104 anak.
Usai misa, para peserta melanjutkan kegiatan dengan mengikuti acara ramah tamah yang digelar di Gedung Kafe Ulin yang berada di samping gereja.
Menurut Anton, seluruh persiapan acara ramah tamah, termasuk penyediaan konsumsi, ditangani oleh panitia yang dibentuk oleh para orang tua peserta komuni pertama.
"Biasanya orang tua membentuk kepanitiaan sendiri. Mereka yang mengatur kebutuhan acara, termasuk pemesanan makanan," ujarnya kepada TribunPontianak.co.id, pada Selasa 9 Juni 2026.
Untuk konsumsi, panitia memesan nasi kotak kepada salah seorang umat yang selama ini dikenal sering menerima pesanan memasak dalam berbagai kegiatan gereja.
• Nasi Kotak Berbungkus Mika Diduga Jadi Pemicu Keracunan Puluhan Jemaat Gereja di Pontianak
Acara ramah tamah itu berlangsung sekitar pukul 10.30 hingga menjelang siang.
Sedangkan makanan kemudian dikonsumsi para peserta dan keluarga sekitar pukul 12.00.
"Pada saat kegiatan berlangsung tidak ada masalah. Semua berjalan seperti biasa," kata Anton.
Namun pada Senin pagi, pihak gereja mulai menerima informasi adanya jemaat yang mengalami gangguan kesehatan dan menjalani perawatan di RSUD Pontianak Utara.
Awalnya tercatat sekitar 12 orang menjalani perawatan.
Informasi tersebut kemudian disampaikan oleh salah seorang perawat yang juga merupakan umat Gereja Stella Maris.
Hingga saat ini, sedikitnya 58 pasien telah mendapatkan perawatan medis
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono memastikan seluruh pasien mendapat penanganan yang cepat dan optimal.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan warga terdampak ditanggung oleh Pemerintah Kota Pontianak.
“Saya hari ini berada di Rumah Sakit Pontianak Utara, untuk melihat pelayanan terhadap warga kita yang masuk karena keracunan makanan,” ujarnya saat mengunjungi para pasien di RSUD Pontianak Utara, Jalan Khatulistiwa, Kota Pontianak, Selasa 9 Juni 2026
Menurut Edi, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan. Sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan telah diperiksa di laboratorium guna mengetahui penyebabnya secara pasti.
“Penyebabnya masih kita teliti dari makanan yang ada di laboratorium. Tapi yang terpenting, saya minta penanganan cepat dan utamakan keselamatan,” katanya.
• Keracunan Massal, DPRD Minta Evaluasi Makanan di Gereja Stella Maris
Ia juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala seperti sakit perut, diare, pusing, hingga menggigil setelah mengonsumsi makanan dari kegiatan tersebut agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Ini kita gratiskan. Jadi obat, pelayanan, semuanya kita gratiskan,” tegas Edi.
Kasus ini turut menarik perhatian DPRD Kota Pontianak.
Anggota DPRD Kota Pontianak, Husin menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan pemerintah kota.
"Kami turut prihatin atas kejadian 58 warga yang keracunan makanan ketika mengikuti kegiatan gereja," ujarnya saat dikonfirmasi tribunpontianak.co.id, Selasa 9 Juni 2026.
"Kami selaku DPRD Kota Pontianak mengapresiasi kepada Pak Wali Kota Pontianak yang cepat tanggap mengunjungi warganya yang keracunan sebagai bentuk simpati." tuturnya.
Husin juga mengingatkan pihak penyelenggara kegiatan untuk lebih berhati-hati dalam penyediaan konsumsi.
"Kita minta kepada pihak gereja ketika memesan makanan untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih rumah makan atau catering," katanya.