Jatim Terpopuler: Jemaah Padati Tabligh 100 Tahun Gontor Hingga Anggaran MBG Bondowoso Belum Cair
Torik Aqua June 10, 2026 07:14 AM

 

Dimulai dari perawat yang diduga dipukul keluarga pasien.

Selanjutnya tabligh akbar Gontor dipadati jemaah.

Hingga anggaran dapur MBG di Bondowoso belum cair.

Berikut selengkapnya:

Perawat diduga dipukul keluarga pasien

 Video seorang perawat diduga dipukul oleh keluarga pasien, virial di media sosial, Senin (8/6/2026).

Diketahui, video tersebut diunggah di akun media sosial dokter spesialis RSUD dr Koesnadi, Yusdeni Lanasakti.

Baca juga: Anggaran Belum Cair, Pembagian MBG di Bondowoso Macet Gegara Terkendala Masalah Administrasi

Perawat yang dipukul tersebut berinisial AP, bertugas di Ruang Dahlia RSUD dr Koesnadi.

Dalam keterangan videonya, Yusdeni menerangkan kronologi sebelum terjadinya insiden dugaan pemukulan tersebut.

Seorang kakak pasien sempat menghubunginya untuk menyampaikan keluhan terkait layanan seorang perawat via pesan WhatsApp pada 30 Mei 2026.

Kemudian, Yusdeni berinisiatif menjembatani masalah tersebut dengan meneruskannya kepada Kepala Ruangan.

Pasien merupakan seorang perempuan berusia 18 tahun yang sedang dirawat akibat kecelakaan.

Diketahui, keluarga pasien ini mengeluhkan infus yang terlepas.

Karena pemasangan dinilai sulit, keluarga sempat meminta agar tidak dipasang infus terlebih dahulu.

"Saya sampaikan pada kepala ruangan," ujarnya, seperti dikutip dalam video.

Namun, seminggu setelah itu, Yusdeni baru mendengar kabar bahwa keluhan tersebut berbuntut panjang.

Ayah pasien datang ke kantor sambil marah-marah hingga sempat dilerai oleh perawat lainnya, akan tetapi ia mengancam akan menunggu saat kepulangan pasien.

Ternyata ancaman terbukti, ayah pasien sengaja menunggu di area parkir.

Karena perawat tersebut tidak ingin memperpanjang masalah, ia mencoba menghindar dengan membelokkan mobilnya ke halaman RSUD.

Namun, ayah pasien sempat mengejar.

Saat bertemu, tanpa bicara apa-apa, ayah pasien diduga langsung memukul korban sebanyak dua kali sebelum akhirnya dilerai.

Usai kejadian itu, korban dan perawat lainnya berinisiatif melaporkan dugaan pemukulan tersebut ke Polres Bondowoso.

"Disertai visum ya," jelasnya.

Yusdeni menyayangkan karena dirinya baru mengetahui kejadian ini.

Oleh karena itu, ia sempat menunggu klarifikasi dan kronologi lengkap dari perawat yang bersangkutan.

Setelah mendengar penjelasan korban, Yusdeni mengaku miris sekaligus dongkol.

Sebab, keluhan medis dan pelayanan pasien sebenarnya memiliki ranah pengaduannya sendiri, mulai dari ranah etik hingga disiplin pekerjaan.

Bahkan, nakes juga dibatasi, diawasi, dan diancam oleh UU Praktik Kedokteran yang hukumannya tidak main-main.

"Tapi itu (kekerasan) bukan lagi hal yang dibenarkan. Kalau keluarga pasien atau siapa pun itu memukul atau melakukan kekerasan terhadap nakes," jelasnya.

Kasus terkesan ditutupi

Yusdeni merasa makin miris karena kasus ini lama tidak terdengar.

Ia menduga, ada kesengajaan untuk memendam atau menutupi kejadian ini agar tidak muncul ke permukaan.

"Supaya tak muncul ke permukaan. Karena ternyata dari pihak manajemen kita sendiri (berusaha) meredam kasus ini, dengan tujuan supaya tak merembet ke mana-mana, supaya polisi juga tak datang. Itu alasannya," jelasnya.

"Tapi pertanyaan saya sebagai seorang anak yang bekerja di rumah sakit besar, untuk diketahui saja, saya pernah menyelesaikan kasus seperti ini dua kali. Pertama tahun 2017," terangnya.

Dia terkejut ketika menemukan fakta lanjutan bahwa perawat ini diduga dipaksa membuat surat pernyataan yang isinya adalah meminta maaf kepada pihak rumah sakit atas perlakuan yang tidak menyenangkan.

Sekaligus, ia diminta meminta maaf kepada ayah pasien yang notabene merupakan terduga pelaku pemukulan.

"Ini yang sangat mengusik nurani ya," ujarnya.

Menurut Yusdeni, perawat ini berada dalam posisi terjepit karena statusnya masih sebagai tenaga kontrak.

Korban kemudian dihadapkan pada tekanan untuk terpaksa berdamai dan mencabut laporan di kepolisian.

Sebelum itu, sempat beredar flyer dari DPD PPNI Bondowoso yang berisi tulisan dukungan pada 5 Juni 2026.

Flyer tersebut bertuliskan 'DPD PPNI Bondowoso mengecam kekerasan kepada perawat'.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Plh Direktur RSUD dr Koesnadi Moh Jasin, dan Tim Hukum RSUD dr Koesnadi, Gigih B Soepranoto, enggan memberikan komentar.

Moh Jasin mengatakan sedang tak enak badan.

Sementara Gigih mengaku tak bisa memberikan komentar karena yang bersangkutan sudah saling memaafkan.

Ribuan jemaah padati Gontor

Ribuan jemaah memadati Lapangan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Senin (8/6/2026) malam, dalam Tabligh Akbar memperingati 100 Tahun Gontor.

Kegiatan yang menghadirkan empat penceramah nasional, yakni Ustaz Abdul Somad (UAS), Ustaz Das’ad Latif, Ustaz Muhammad Fakhrurazi Anshar, dan Ustaz Luqmanulhakim itu menjadi momentum refleksi perjalanan satu abad pesantren sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman bagi generasi mendatang.

Penceramah pertama yang mengisi adalah Ustaz Muhammad Fakhrurazi Anshar. Disusul oleh Ustaz Luqmanulhakim. Keduanya merupakan lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Mereka bercerita bagaimana hidup mereka digembleng di Pondok Gontor. Juga menanamkan bahwa ridho orang tua dan ridho kyai menjadi sumber kekuatan.

“Ketika sudah lulus, pesan saya kepada seluruh alumni mari kembali pulang ke Pondok, minta ridho kyai mu,” ungkap Ustaz Luqmanulhakim.

Kemudian yang ketiga, Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor diisi Ustaz Das’ad Latif. Dalam awal ceramahnya, penceramah asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini langsung mengundang gelak tawa  para jemaah.

Dalam ceramahnya, Ustaz Das’ad Latif berpesan agar orang tua menjadikan anak sholeh maupun sholehah. Pun menyampaikan harapan terhadap Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Baca juga: Rombongan Haji Ponorogo Tiba, 2 Jemaah Lansia Dilarikan ke RSUD dr Harjono Menggunakan Ambulans

“Kesan saya Pondok Gontor diterima dimana-mana. Harapan saya tetap menjadi Pondok Modern. Yang artinya bisa diterima dimana dan digunakan dimanapun,” terangnya,

Penutup tabligh akbar adalah Ustaz Abdul Somad (UAS). Ustaz Abdul Somad pun menjadi magnet tersendiri dalam Tablig Akbar 100 Tahun Gontor.

Diawal ceramahnya, dai kondang ini menyatakan refleksi terhadap 100 Tahun Gontor. Bagaimana dirinya dimanapun bertemu dengan alumni pondok terbesar di Indonesia ini.

“Kalau Ketemu orang baik. Semoga Allah memperbanyak orang seperti kamu (orang baik). Kalau satu orang saja kita minta diperbanyak apalagi tempat mencetak orang baik,” urainya.

Dimana tempat mencetak orang baik itu pendidikannya baik, bahasa arab, bahasa Arab, Bahasa Inggris, Aqidah, baca kitab dan leadirship dan organisasi.

“Semoga Allah memperbanyak pondok seperti pondok modern darussalam gontor hasilnya bisa dilihat sendiri,” tegasnya.

Sementara, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyatakan bahwa semua ada untuk pendidikan.

“Di Gontor semua untuk pendidikan. Tidak ada satu detik tidak untuk mendidik. Lembaga pendidikan pondok modern Darussalam gontor. 100 tahun berdiri segala suka duka,”’terang K.H. Hasan Abdullah Sahal 

Dia mengingatkan bahwa 100 tahun Gontor bukan perayaan. Namun, memperingati mengingatkan bagaimana 100 tahun Gontor. Apa yang menjadi suka maupun duka dalam 100 tahun Gontor;

“Bersyukur dengan baik apa yang disyukuri jangan sampai lupa Seperti kita katakan

Menegakkan terus menjaga nilai. Maju ke depan menuju kesempurnaan kita teruskan dan kita wariskan,” pungkasnya

Anggaran MBG Bondowoso belum cair

Anggaran sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bondowoso dikabarkan belum cair per Senin (8/6/2026) kemarin.

Sampai daftar SPPG yang tidak beroperasi pada Senin kemarin tersebut, tersebar di media sosial, jumlahnya sekitar 23 SPPG.

Baca juga: Pemprov Jatim Optimistis Raih Opini WTP Beruntun ke-11 Kalinya dari BPK, Sekda Yakin

Saat dikonfirmasi mengenai kebenaran daftar tersebut pada Selasa (9/6/2026), Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso, Mila Afriana Agustina, membenarkan bahwa itu adalah daftar hari Senin yang terkendala masalah administrasi.

Namun begitu, per hari ini, Selasa, 9 Juni 2026, sudah tersisa enam SPPG yang anggarannya belum cair.

Meski demikian, dia memastikan bahwa saat ini proses pencairan dana sedang berjalan secara bertahap.

"Laporan sementara sisa 6 SPPG belum cair," ujarnya.

Ia pun menerangkan bisa jadi yang tersisa ini akan segera cair.

"Ini sementara ya mbak, bisa jadi hari ini cair lagi," terangnya.

MBG di sekolah putranya selama ini didistribusikan dari SPPG Wonosuko.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.