UGM Deteksi Anomali Resistivitas di Rumah Agusyani, Api Seyegan Diduga Berkaitan Gas Bawah Tanah
Iwan Al Khasni June 10, 2026 07:14 AM

 

Tribunjogja.com Sleman - Fenomena kebakaran berulang di rumah Agusyani, Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, masih menjadi teka-teki besar. Sejak pertama kali muncul pada akhir Mei 2026, api terus menyala di berbagai sudut rumah tanpa sebab yang jelas. 

Hingga kini, total lebih dari seratus titik api tercatat, menjadikan kasus ini sebagai salah satu fenomena alam paling aneh di Yogyakarta.

Berbagai lembaga telah turun tangan, mulai dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, hingga Tim Gegana Polda DIY. 

Sinergi lintas sektor ini dilakukan karena fenomena tersebut belum masuk dalam daftar Kajian Risiko Bencana Daerah, sehingga data ilmiah sangat dibutuhkan untuk langkah mitigasi darurat.

Temuan UGM: Anomali Resistivitas

GEOLISTRIK: Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM memasang alat untuk pemindaian metode geolistrik di sekitar rumah Agusyani di Seyegan Sleman, Selasa (9/6/2026). Penelitian tim UGM ini dimaksudkan untuk memecahkan misteri api yang terus muncul di rumah Agusyani dan sekitarnya.
GEOLISTRIK: Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM memasang alat untuk pemindaian metode geolistrik di sekitar rumah Agusyani di Seyegan Sleman, Selasa (9/6/2026). Penelitian tim UGM ini dimaksudkan untuk memecahkan misteri api yang terus muncul di rumah Agusyani dan sekitarnya. (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

Penelitian terbaru dilakukan oleh Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM. 

Melalui metode geolistrik spasi pendek, tim mendeteksi adanya anomali resistivitas di sisi selatan rumah Agusyani.

Koordinator penelitian, Saptono Budi Samudro, menjelaskan bahwa prinsip geolistrik adalah melihat variasi lapisan bawah tanah berdasarkan nilai tahanan jenis (resistivitas) batuan. Hasil sementara menunjukkan adanya nilai resistivitas yang tidak wajar di area selatan bangunan.

“Anomali resistivitas yang berbeda ini menunjukkan adanya material yang berbeda pula di bawah permukaan tanah,” jelas Saptono, Selasa (9/6/2026).

Dua Kemungkinan Struktur Geologis

Saptono menambahkan, perbedaan nilai resistivitas tersebut mengarah pada dua kemungkinan:

  • Retakan tanah baru yang terbentuk akibat pergerakan geologi.
  • Material asing seperti boulder yang tertimbun di kedalaman tertentu.

Berbeda dengan penelitian UPN yang menggunakan pemetaan geolistrik skala regional untuk mengejar kedalaman, tim UGM mempersempit spasi menjadi hanya satu meter. Langkah ini diambil agar hasil lebih detail dan fokus pada area sekitar rumah.

Dugaan Endapan Rawa Purba

Temuan anomali resistivitas menjadi petunjuk penting dugaan adanya endapan rawa purba di bawah rumah Agusyani. Lapisan endapan Merapi yang membentuk cekungan halus ditengarai menjadi sumber gas.

Saptono menjelaskan, retakan tanah bisa berbahaya jika terisi gas. Analisis kecepatan gelombang radar akan dilakukan untuk memastikan apakah retakan tersebut hanya struktur tanah atau mengandung gas. Jika ada penurunan kecepatan gelombang, kemungkinan besar retakan tersebut berisi gas.

Potensi Migrasi Gas

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melakukan pengerukan rumpun bambu di Sungai Nepen yang tak jauh dari rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026).
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melakukan pengerukan rumpun bambu di Sungai Nepen yang tak jauh dari rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026). (Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani)

Jika retakan tanah berisi gas, langkah tindak lanjut diperlukan untuk melokalisir sumbernya. Gas bisa berasal dari bawah tanah atau migrasi horizontal dari Sungai Nepen, sebagaimana dugaan tim UPN.

Analisis lebih lanjut akan menentukan apakah gas tersebut dangkal atau dalam.

“Kalau lebih dalam, perlu pemodelan di bawah apakah ada sumbernya. Atau gas dari samping seperti dugaan teman-teman UPN yang asalnya dari Sungai Nepen sehingga ada pergerakan horizontal,” jelas Saptono.

Perbedaan Metode Penelitian

  • UGM: Geolistrik spasi pendek, fokus detail di sekitar rumah, mendeteksi anomali resistivitas.
  • UPN: Geolistrik skala regional, mengejar kedalaman, menduga migrasi gas dari Sungai Nepen.
  • BPPTKG: Mengukur kadar metana dan hidrogen, menduga pemantik api berasal dari listrik statis atau gas fosfin.
  • BRIN & Gegana Polda DIY: Melakukan observasi tambahan untuk memastikan faktor pemicu api.

Sinergi data dari berbagai lembaga diharapkan mampu memberikan gambaran utuh tentang kondisi bawah tanah rumah Agusyani.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Fenomena ini tidak hanya menjadi masalah ilmiah, tetapi juga berdampak besar pada kehidupan keluarga Agusyani. Mereka harus berjaga siang malam, khawatir api kembali muncul.

Aktivitas ekonomi keluarga terganggu karena rumah juga difungsikan sebagai usaha pemotongan ayam.

Kerugian finansial ditaksir mencapai Rp50–60 juta, meliputi kerusakan rumah, perabotan, dan terganggunya usaha. H. Mutfiana, salah satu penghuni rumah, berharap teror api segera berakhir.

“Kami jelas mengalami kelelahan fisik maupun psikis. Belum dengan kerugian finansial yang diderita akibat aktivitas ekonomi yang terganggu,” ujarnya.

Dengan adanya temuan anomali resistivitas, penelitian UGM menjadi langkah penting untuk mengungkap misteri teror api. 

Kombinasi data geolistrik, georadar, dan analisis gas diharapkan mampu menjawab apakah fenomena ini murni geologi atau ada faktor lain yang memperkuat kebakaran berulang.

Bagi Pemkab Sleman, hasil penelitian ini akan menjadi dasar mitigasi darurat. Jika terbukti ada gas bawah tanah, langkah teknis seperti pengeboran, ventilasi, atau injeksi cairan basa dapat dilakukan untuk menekan aktivitas gas. (rif)

• Upaya Redam Teror Api di Rumah Warga Seyegan, Tim UGM Suntikkan Air Kapur untuk Matikan Bakteri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.