Dari Meja Ramah Tamah ke Ruang IGD, Kisah Puluhan Jemaat Stella Maris yang Diduga Keracunan
Dhita Mutiasari June 10, 2026 07:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sedikitnya 58 Jemaat Gereja Stella Maris, Pontianak Utara mengalami keracunan massal diduga akibat menyantap nasi kotak yang dibagikan saat kegiatan gereja pada Minggu 6 Juni 2026 sore. 

Para jemaat yang jadi korban pun mulai memadati fasilitas kesehatan sejak Senin 8 Juni 2026 pagi, dengan keluhan serupa.

• Kronologi Lengkap Puluhan Jemaat Gereja Stella Maris Pontianak Alami Gejala Keracunan Usai Misa

Wali Kota Tinjau Langsung Korban

Mendapat kabar tersebut, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau langsung penanganan warga. Sedikitnya 58 pasien telah mendapat perawatan medis.

Kunjungannya dilakukan untuk memastikan pelayanan terhadap warga berjalan cepat dan optimal. Ia menegaskan keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus tersebut.

“Saya sudah berada di Rumah Sakit Pontianak Utara untuk melihat pelayanan terhadap warga kita yang masuk karena keracunan makanan. Sampai hari ini ada kurang lebih 58 pasien yang sudah kita rawat,” ucapnya, Selasa 9 Juni 2026.

Menurut Edi, pemerintah kota bersama pihak terkait masih meneliti penyebab keracunan.

Sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan telah diperiksa melalui laboratorium untuk mengetahui penyebab pastinya.

“Penyebabnya masih kita teliti dari makanan yang ada di laboratorium. Tapi yang terpenting, saya minta penanganan cepat dan utamakan keselamatan,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala seperti sakit perut, diare, pusing, hingga menggigil setelah mengonsumsi makanan dari kegiatan tersebut agar segera memeriksakan diri ke RSUD Pontianak Utara atau fasilitas kesehatan terdekat.

• Nasi Kotak Berbungkus Mika Diduga Jadi Pemicu Keracunan Puluhan Jemaat Gereja di Pontianak

Biaya Pengobatan Ditanggung Pemkot

Edi memastikan seluruh biaya pengobatan dan pelayanan bagi warga yang terdampak keracunan makanan tersebut digratiskan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak.

Mulai dari pemeriksaan, obat-obatan, hingga pelayanan medis lainnya akan ditanggung.

“Ini kita gratiskan. Jadi obat, pelayanan, semuanya kita gratiskan,” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang didapatnya, warga yang mengalami gejala keracunan sebelumnya mengkonsumsi makanan dalam sebuah kegiatan di Pontianak Utara pada

Minggu siang. Sebagian makanan juga dibawa pulang, sehingga terdapat beberapa anggota keluarga yang ikut mengalami gejala serupa. “Jadi ada satu keluarga, ibu dan anak-anaknya juga,” jelasnya.

Wako Edi berharap kondisi para pasien segera membaik dalam satu hingga dua hari ke depan, sehingga dapat kembali pulang ke rumah masing-masing.

“Mudah-mudahan mereka dalam satu dua hari ini semakin baik dan bisa kembali ke rumah masing-masing,” pungkasnya.

Korban Mengalami Gejala Serupa

Dikabarkan 58 jemaat Gereja Stella Maris Pontianak dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan makanan usai menghadiri kegiatan keagamaan.

Berdasarkan laporan medis, para korban mulai memadati fasilitas kesehatan sejak Senin 8 Juni 2026 pagi, dengan keluhan serupa

Mereka mengalami gejala mual, muntah, diare, pusing, dan nyeri ulu hati yang diduga kuat akibat mengonsumsi nasi kotak yang dibagikan saat acara tersebut.

Kapolsek Pontianak Utara, Kompol Aris, mengatakan informasi terkait dugaan keracunan tersebut diterima pihak kepolisian pada Senin malam, setelah puluhan jemaat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Berdasarkan hasil pendataan sementara, para korban sebelumnya menghadiri kegiatan di Gereja Stella Maris Pontianak yang diikuti sekitar 300 jemaat. Dalam kegiatan tersebut, panitia menyediakan konsumsi berupa nasi kotak.

"Setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah jemaat mengalami keluhan mual, muntah, diare, pusing hingga nyeri di bagian ulu hati," ujar Kompol Aris, Selasa 9 Juni 2026.

Salah seorang korban, Hilarius Rima, mengaku mulai merasakan gejala beberapa saat setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam kegiatan tersebut. Saat berobat ke rumah sakit, ia mendapati banyak jemaat lain mengalami keluhan serupa.

Dari data yang diperoleh kepolisian, total korban yang diduga mengalami keracunan mencapai 58 orang. Sebanyak 51 korban menjalani penanganan di RSUD Pontianak Utara, terdiri dari empat pasien rawat inap, 29 pasien masih menjalani observasi, dan 18 pasien rawat jalan. 

Sementara tujuh korban lainnya mendapat penanganan di RS Yarsi Pontianak Timur, dengan rincian tiga pasien rawat inap dan empat pasien rawat jalan.

Menurut Kompol Aris, jumlah korban yang mengakses layanan kesehatan masih berpotensi bertambah karena masih ada jemaat yang datang untuk menjalani pemeriksaan medis.

Berdasarkan keterangan saksi, makanan yang dikonsumsi para korban terdiri dari nasi putih, ayam goreng tepung, tumis buncis dan wortel, serta telur rebus berbumbu pedas.

Saat ini polisi masih melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. 

Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan juga telah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

"Sebagian korban sudah diperbolehkan pulang, sementara lainnya masih menjalani observasi dan perawatan medis," kata Kompol Aris.

RSUD Pontianak Utara Tangani Puluhan Pasien

Direktur RSUD Pontianak Utara, drg Nuzulisa mengatakan lonjakan pasien mulai terjadi pada Senin, 8 Juni 2026 sekitar pukul 10.00 WIB. Para pasien datang dengan keluhan yang hampir seragam, mulai dari nyeri kepala, nyeri perut hebat, mual, muntah, diare hingga menggigil.

"Pasien yang datang mengeluhkan nyeri kepala, nyeri di area perut yang dirasakan melilit, kemudian muntah-muntah dan diare. Karena kondisinya sudah tidak tertahankan dan tidak bisa ditangani sendiri di rumah, akhirnya mereka datang ke RSUD Pontianak Utara," ujarnya.

Pada awalnya, terdapat 15 pasien yang datang ke rumah sakit pada Senin pagi. Setelah dilakukan pemeriksaan dan penelusuran riwayat aktivitas, diketahui seluruh pasien menghadiri kegiatan yang sama pada Minggu sore di Gereja Stella Maris dan menerima paket makanan.

"Dari hasil anamnesis, mereka berasal dari satu kegiatan yang sama, yaitu kegiatan keagamaan di Gereja Stella Maris pada Minggu sore dan mendapatkan paket makanan.

Melihat kesamaan gejala yang muncul, kami menduga kasus ini berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi dalam kegiatan tersebut," katanya.

Menurut drg Nuzulisa, tingkat keparahan gejala yang dialami pasien bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Beberapa pasien bahkan sempat direncanakan untuk dirujuk ke rumah sakit lain. Namun karena keterbatasan kapasitas ruang IGD di sejumlah rumah sakit, penanganan akhirnya diupayakan tetap dilakukan di RSUD Pontianak Utara.

Jumlah pasien terus bertambah sepanjang Senin hingga malam hari. Hingga pukul 23.00 WIB, rumah sakit telah menangani 50 pasien.

"Dari jumlah tersebut, 20 pasien kami pulangkan karena gejalanya ringan dan dapat menjalani rawat jalan di rumah. Sebanyak 28 pasien masih menjalani observasi di IGD, sementara dua pasien sudah kami rawat inap," jelasnya.

Memasuki Selasa, 9 Juni 2026, jumlah pasien kembali bertambah. Tercatat lima pasien datang pada pagi hari dan tiga pasien lainnya pada siang hari, sehingga total pasien yang mengakses layanan RSUD Pontianak Utara mencapai sekitar 58 orang.

"Saat ini masih ada sekitar 30 pasien yang menjalani observasi dan beberapa di antaranya sedang direncanakan untuk menjalani rawat inap," ungkapnya.

Dikatakan drg Nuzulisa, Pemerintah Kota Pontianak bersama Dinas Kesehatan Kota Pontianak telah melakukan koordinasi dan langkah mitigasi terkait kejadian tersebut.

Wali Kota Pontianak juga turun langsung ke rumah sakit untuk memantau kondisi pasien.

Sementara itu, sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan telah diambil dan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Sampel makanan sudah kami ambil dan saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Jadi penyebab pastinya, termasuk apakah ada bakteri tertentu, belum dapat dipastikan karena hasil laboratorium belum keluar," kata drg Nuzulisa.

Dalam penanganan pasien, pihak rumah sakit fokus menjaga kondisi tubuh agar tidak mengalami dehidrasi akibat muntah dan diare yang dialami para korban.

"Kami memberikan cairan infus, obat untuk mengurangi nyeri kepala dan nyeri perut, serta terapi untuk mengatasi muntah dan diare agar cairan tubuh tidak terus keluar," jelasnya lagi.

Ia juga menyampaikan bahwa seluruh biaya perawatan pasien terdampak akan ditanggung Pemerintah Kota Pontianak, sebagaimana telah disampaikan langsung oleh Wali Kota Pontianak.

"Apapun konsekuensi pembiayaan yang muncul dari perawatan pasien keracunan makanan ini akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Pontianak tanpa memandang domisili pasien," katanya.

Pasien yang menjalani perawatan tidak hanya berasal dari Kota Pontianak, tetapi juga dari Kabupaten Mempawah, wilayah Jungkat, hingga Kecamatan Segedong.

Selain itu, sejumlah warga lainnya masih mendapatkan penanganan awal di puskesmas maupun praktik dokter mandiri.

"Pihak rumah sakit berharap jumlah kasus tidak terus bertambah mengingat kejadian ini telah memasuki hari kedua sejak makanan yang diduga menjadi sumber keracunan tersebut dikonsumsi," tutup drg. Nuzulisa.

Bocah 10 Tahun Alami Demam Tinggi

Salah satu pasien yang dirawat adalah William. Bocah berusia 10 tahun ini mengalami muntah, diare, pusing, hingga demam tinggi. Kakak korban, Ardeanus Rato (18), mengatakan adiknya William mulai merasakan gejala pada Senin (8/6/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Karena kondisinya cukup lemah, keluarga langsung membawa

William ke RSUD Pontianak Utara untuk mendapatkan penanganan medis.

“Mulai sakitnya dari kemarin jam 3 subuh. Makanya kami bawa dia ke sini jam 3 subuh,” ujar Ardeanus saat mendampingi adiknya di rumah sakit.

Menurut Ardeanus, gejala awal yang dialami adiknya berupa pusing, mual, diare, dan muntah-muntah. Kondisi William sempat cukup parah karena terus muntah, lemas, dan mengalami demam tinggi.

“Gejala awalnya pusing, lalu mual-mual, mencret, muntah juga. Kemarin lumayan parah, muntah terus, sampai lemah dan demam tinggi,” katanya.

Setelah mendapat perawatan selama satu malam, kondisi William mulai membaik. Meski demikian, ia masih menjalani pemantauan oleh tenaga medis di rumah sakit.

“Sekarang sudah mulai aman. Sudah satu malam di sini,” jelasnya.

Ardeanus menuturkan, selain William, ibu dan dua adiknya yang lain juga mengalami gejala keracunan. Namun, kondisi mereka tidak separah William. Salah satu adik

perempuannya hanya sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan.

“Yang lain juga kena, ibu dan dua adik saya. Tapi tidak separah dia. Adik perempuan hanya ke puskesmas,” ungkapnya.

Berdasarkan ceritanya, makanan tersebut dikonsumsi saat acara berlangsung pada Minggu siang. Makanan dibagikan sekitar pukul 11.00 WIB hingga 12.00 WIB dan dimakan di lokasi kegiatan. Ardeanus menyebut, dalam makanan itu terdapat beberapa jenis lauk, di antaranya ayam, telur, dan tumis buncis. 

“Ada ayam, telur, dan buncis yang ditumis. Telur sama buncisnya agak pedas. Katanya dari mereka, telurnya agak kurang enak waktu dimakan,” tuturnya. (pan/ayu)

Bermula dari Acara Komuni Pertama

Dugaan keracunan makanan yang dialami puluhan jemaat Gereja Stella Maris, Kecamatan Pontianak Utara, bermula dari kegiatan ramah tamah usai Perayaan Komuni Pertama pada Minggu, 7 Juni 2026, sore 

Sehari setelah acara berlangsung, sejumlah peserta dan anggota keluarga mulai mengalami gangguan kesehatan hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Kepala Bidang Persekutuan Gereja Stella Maris, Anton Suprayogi menjelaskan, kegiatan komuni pertama tersebut diikuti sebanyak 104 anak. 

Usai misa, para peserta bersama orangtua dan keluarga mengikuti acara ramah tamah yang digelar di Gedung Kafe Ulin yang berada di samping gereja.

Menurut Anton, seluruh persiapan acara ramah tamah, termasuk penyediaan konsumsi, ditangani oleh panitia yang dibentuk oleh para orangtua peserta komuni pertama.

"Biasanya orangtua membentuk kepanitiaan sendiri. Mereka yang mengatur kebutuhan acara, termasuk pemesanan makanan," ujarnya, Selasa (9/6).

Untuk konsumsi, panitia memesan nasi kotak kepada salah seorang umat yang selama ini dikenal sering menerima pesanan memasak dalam berbagai kegiatan gereja.

Acara ramah tamah berlangsung sekitar pukul 10.30 hingga menjelang siang. Makanan kemudian dikonsumsi para peserta dan keluarga sekitar pukul 12.00.

"Pada saat kegiatan berlangsung tidak ada masalah. Semua berjalan seperti biasa," kata Anton.

Namun pada Senin pagi, pihak gereja mulai menerima informasi adanya jemaat yang mengalami gangguan kesehatan dan menjalani perawatan di RSUD Pontianak Utara.

Awalnya tercatat sekitar 12 orang menjalani perawatan. Informasi tersebut kemudian disampaikan oleh salah seorang perawat yang juga merupakan umat Gereja Stella Maris.

Melihat jumlah pasien yang terus bertambah, Anton yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan ini segera melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kesehatan Kota Pontianak.

"Saya langsung menyampaikan kepada Dinas Kesehatan bahwa ada dugaan keracunan makanan dan meminta agar dilakukan investigasi," ujarnya.

Tidak lama kemudian, tim dari Puskesmas Siantan Tengah bersama Dinas Kesehatan Kota Pontianak turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan dan mengambil sampel makanan guna pemeriksaan laboratorium.

Anton mengatakan hingga saat ini penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Menurutnya, dugaan awal mengarah pada ‘kontaminasi biologis’ mengingat gejala mulai muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi.

"Kalau dugaan biologis, pemeriksaannya memang tidak bisa langsung. Biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk memastikan apakah ada bakteri atau penyebab lainnya," jelasnya.

Ia menambahkan hasil resmi investigasi nantinya akan disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Dalam kegiatan tersebut, 104 peserta komuni pertama didominasi anak-anak usia SMP, meski sebagian ada yang sudah memasuki usia SMA. 

Selain itu, makanan juga dikonsumsi oleh anggota keluarga lain, termasuk adik dan kerabat peserta. "Bisa saja makanan tidak langsung dimakan di lokasi, tetapi dibawa pulang dan dikonsumsi anggota keluarga lainnya," katanya.

Anton menyebut menu nasi kotak yang disajikan dalam bentuk mika terdiri dari ayam goreng, telur rebus yang dibelah dan diberi saus, sayur, serta air mineral sebagai minuman.

Terkait penyedia makanan, Anton menjelaskan bahwa meskipun bukan usaha katering besar, sosok yang memasak makanan tersebut sudah cukup dikenal di lingkungan gereja dan kerap menerima pesanan dari umat.

"Yang memasak juga tidak sendiri, ada beberapa orang yang membantu. Selama ini memang sering dipercaya untuk menyiapkan konsumsi kegiatan umat," ujarnya.

Meski demikian, pihak gereja belum ingin berspekulasi mengenai sumber penyebab dugaan keracunan dan memilih menunggu hasil investigasi resmi dari instansi kesehatan.

Saat ini, fokus utama gereja adalah membantu para jemaat yang terdampak.

Menunggu Hasil Investigasi

Anton mengatakan pihak gereja telah melakukan pendataan terhadap seluruh korban dan siap membantu proses pengobatan.

"Kami menganggap ini sebagai musibah. Semua yang terdampak sudah diidentifikasi dan didata, termasuk yang berobat di fasilitas kesehatan lain," katanya.

Ia juga mengapresiasi perhatian Pemkot Pontianak terhadap para korban. Menurut Anton, Wali Kota Pontianak yang hadir meninjau kondisi korban menyampaikan bahwa biaya perawatan pasien yang dirawat di RSUD Pontianak Utara akan ditanggung pemerintah.

"Syukurlah ada bantuan dari pemerintah kota untuk para korban yang dirawat di rumah sakit," ujarnya.

Sebagai langkah evaluasi, Anton mengatakan pihak gereja akan lebih berhati-hati dalam pengadaan konsumsi untuk kegiatan berskala besar ke depan.

Menurutnya, pemesanan makanan dalam jumlah besar sebaiknya tidak hanya dibebankan kepada satu penyedia, terutama usaha rumahan yang kapasitas produksinya terbatas.

"Kalau pesertanya banyak, mungkin lebih baik dibagi ke dua atau tiga penyedia makanan. Selain itu menu juga perlu dipilih yang risikonya lebih rendah," katanya.

Ia menambahkan aspek kebersihan dan higienitas makanan juga akan menjadi perhatian penting dalam setiap kegiatan gereja setelah kejadian ini. "Karena sudah terjadi, tentu ke depan kami akan melihat lebih jauh bagaimana memastikan makanan yang disajikan benar-benar higienis dan aman untuk dikonsumsi," pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.