BANGKAPOS.COM, BANGKA - Di layar ponsel, video-video komedi berbahasa daerah Bangka yang dibawakan Jack Saputra terlihat sederhana.
Durasinya singkat, alurnya ringan, dan sering kali hanya mengangkat kisah keseharian masyarakat.
Namun di balik tawa yang mengalir dari jutaan penonton, tersimpan perjalanan panjang seorang pekerja kreatif yang memulai segalanya dari nol.
Baca juga: Pekerja Kreatif Bangka Belitung Waswas Dipajak
Pria yang lebih dikenal dengan nama Jack Tugil itu mulai membuat konten pada 2018.
Saat itu, media sosial tengah diramaikan tren video pendek.
Baca juga: Sistem Perpajakan Menganut Asas Self Assessment, Wajib Pajak Hitung Sendiri
Tidak ada target besar, apalagi bayangan menjadi figur publik. Semua berawal dari rasa penasaran dan keinginan menghibur.
“Dulu pertama kali bikin konten itu gratis. Endorse baju dibayar baju, promosi tempat makan dibayar makan. Karena follower masih sedikit dan orang juga belum kenal,” ujar Jack saat dibincangi Bangka Pos belum lama ini.
Baca juga: Pekerja Kreatif Babel Waswas, Pajak Baru Dinilai Bisa Pengaruhi Industri Hiburan Lokal
Delapan tahun berselang, namanya menjadi salah satu kreator konten lokal yang cukup dikenal di Bangka Belitung.
Kontennya yang mengangkat budaya dan kehidupan masyarakat Bangka berhasil menjangkau jutaan penonton di berbagai platform digital.
Berbagai tawaran kerja sama promosi pun mulai berdatangan.
Kini, untuk satu konten promosi, Jack bisa memperoleh bayaran antara Rp3 juta hingga Rp5 juta yang ditayangkan di beberapa platform media sosial sekaligus.
Namun menurutnya, masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhir berupa video yang telah tayang.
“Orang menganggap tinggal rekam lalu upload. Padahal kami harus survei lokasi, membuat konsep, menyiapkan alur cerita, mencari talent, syuting sampai editing. Kadang satu konten bisa dikerjakan satu sampai dua hari bahkan lebih,” katanya.
Di luar dunia digital, Jack juga aktif sebagai pembawa acara, pengisi hiburan, bintang iklan lokal, hingga guru honorer.
Berbagai pekerjaan itu menjadi sumber penghasilan yang saling melengkapi.
“Kadang jadi MC, kadang menghibur, bikin video promosi, menerima endorse, bahkan mengisi acara tertentu. Penghasilan kami memang berasal dari berbagai pekerjaan yang sifatnya tidak tetap,” ujarnya.
Sebagai MC, Jack mematok tarif sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta untuk kegiatan di Pangkalpinang dan lebih tinggi untuk acara di luar daerah.
Meski terlihat hanya berbicara di atas panggung, ia menilai profesi tersebut menuntut tanggung jawab besar.
“Kalau acara lesu, MC yang pertama disalahkan. Tugas kami menjaga suasana dari awal sampai akhir,” katanya.
Pengalaman membawakan acara dengan belasan ribu penonton pun pernah ia rasakan saat konser besar dan kegiatan yang menghadirkan artis nasional.
Perjalanan serupa tengah dirintis Muhamat Khadapi atau yang lebih dikenal sebagai BaeBohyun.
Kreator asal Sungailiat itu mulai aktif membuat konten pada September 2025.
Nama unik yang digunakannya lahir dari sebuah aplikasi pengubah nama bergaya Korea yang sempat populer.
“Awalnya iseng. Saya masukkan nama sendiri, lalu muncul nama BaeBohyun. Akhirnya dipakai sampai sekarang,” ujarnya.
Berbekal konten humor dan kehidupan sehari-hari yang dibawakan dengan bahasa daerah Bangka, namanya perlahan dikenal publik.
Namun ia mengakui dunia kreator konten masih jauh dari gambaran glamor yang sering muncul di media sosial.
“Bulan ini mungkin ada empat brand masuk. Tapi tidak selalu begitu. Kadang satu proyek, kadang tidak ada sama sekali,” katanya.
Saat ini pendapatannya dari dunia kreatif berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta per bulan.
Di tengah kondisi yang masih berkembang, ia juga mulai merintis agensi media sosial bersama tiga rekannya untuk membantu pelaku usaha mengelola konten, branding, dan pemasaran digital.
Bagi BaeBohyun, industri kreatif digital bukan sekadar soal popularitas.
Sektor ini memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus mempromosikan produk lokal Bangka Belitung ke pasar yang lebih luas.
“Kami ingin usaha-usaha anak muda terus tumbuh. Semoga semakin banyak dukungan sehingga industri kreatif daerah bisa berkembang dan memberi manfaat lebih besar,” ujarnya. (Bangkapos.com/Erlangga)