TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Antrean truk dan mobil pikap pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali memadati area salah satu pabrik di Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Rabu (10/6/2026).
Kondisi ini disebut lebih parah dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan truk bermuatan penuh TBS memenuhi halaman pabrik dan mengular ratusan meter di sepanjang akses menuju lokasi, bahkan hingga ke Jalan Trans Sulawesi.
Di dalam kawasan pabrik, truk-truk tampak berhimpitan menunggu giliran bongkar muatan.
Baca juga: Panen Raya dan Kapasitas Terbatas Jadi Penyebab Antrean Truk Sawit di PT Toscano Mengular
Baca juga: SDK Akan Cabut Izin Perusahaan di Sulbar Jika Beli Sawit Warga Harga Rp2.070 Hingga Rp2.450 per Kg
Tumpukan tandan buah segar terlihat menjulang di bak kendaraan.
Aroma khas menyengat dari buah sawit tercium di sejumlah titik antrean, sementara brondolan sawit berserakan di sekitar lokasi.
Beberapa sopir terlihat menunggu di pinggir jalan, di dalam kendaraan, di tempat berteduh, bahkan bermain kartu untuk melepas kejenuhan—gambaran nyata dari panjangnya waktu tunggu yang harus mereka jalani.
Seorang sopir bernama Anca mengaku antrean kali ini lebih panjang dibandingkan sebelumnya.
"Sudah berhari-hari menunggu antrean," ujarnya kepada jurnalis Tribun-Sulbar.com, Rabu (10/6/2026).
Menurut Anca, semakin lama buah berada di atas truk, semakin besar kerugian yang ditanggung sopir maupun pemilik kebun.
Pasalnya, berat buah terus berkurang seiring berjalannya waktu.
Beberapa sopir lain bahkan mengaku telah menunggu selama berhari-hari untuk mendapatkan giliran bongkar muat.
Di tengah kondisi tersebut, harga TBS sawit di Mamuju Tengah masih bertahan di kisaran di atas Rp2.000 per kilogram.
Kondisi ini mendorong volume panen dari kebun masyarakat meningkat secara signifikan.
Peningkatan volume panen yang terjadi hampir bersamaan inilah yang diduga menjadi pemicu utama antrean panjang.
Kapasitas pengolahan pabrik yang terbatas dinilai tidak mampu menampung lonjakan pasokan buah sawit dari para petani.
Namun, berdasarkan sejumlah keterangan yang dihimpun, antrean panjang dipicu oleh panen raya yang terjadi hampir bersamaan dengan keterbatasan kapasitas pengolahan pabrik.
Para sopir berharap ada solusi agar waktu tunggu tidak berkepanjangan, mengingat kerugian akibat penyusutan berat buah sawit dan biaya operasional yang terus berjalan membebani mereka setiap hari. (*)
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah