Harga Cabai Rawit di Nunukan Meroket Jadi Rp90 Ribu per Kilogram, Pedagang Ungkap Penyebabnya
Junisah June 10, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kenaikan sejumlah harga bahan pokok mulai dirasakan pedagang dan masyarakat di Pasar Inhutani Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. 

Sejumlah komoditas kebutuhan sehari-hari seperti cabai rawit, bawang, sayuran hingga beberapa bumbu dapur mengalami lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Pedagang sayur di Pasar Inhutani Nunukan, Hj Ramlah, mengatakan kenaikan harga terjadi sejak tingkat petani atau kebun sehingga berdampak langsung pada harga jual di pasar.

Menurutnya, harga kacang panjang yang sebelumnya dibeli dari kebun sekitar Rp10 ribu per ikat besar kini naik menjadi Rp20 ribu per ikat. 

Baca juga: Sepekan Jelang Hari Raya Idul Adha, Harga Cabai Rawit di Tarakan Tembus Rp100 Ribu Per Kilogram

Kondisi tersebut membuat harga jual kepada konsumen ikut meningkat hingga mencapai Rp25 ribu per ikat.

"Kalau barang dari kebun naik, otomatis harga jual juga naik. Dulu beli sekitar Rp10 ribu, sekarang bisa Rp20 ribu per ikat besar," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Rabu (10/6/2026).

Selain sayuran, kenaikan juga terjadi pada komoditas cabai dan bawang merah. Untuk cabai rawit lokal, harga dari petani kini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Sementara cabai pasokan Sulawesi berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

"Kalau dijual di pasar bisa sampai Rp80 ribu per kilogram," katanya.

Harga bawang merah asal Sulawesi juga mengalami kenaikan. Pedagang membeli dengan harga sekitar Rp50 ribu per kilogram dan menjual kembali sekitar Rp60 ribu per kilogram.

Meski harga naik, Hj Ramlah menilai masyarakat tetap membeli karena bahan pangan merupakan kebutuhan pokok sehari-hari. Namun, ia mengakui aktivitas jual beli di pasar tidak seramai beberapa tahun lalu.

"Pembeli tetap ada karena kebutuhan, tetapi pasar sekarang lebih sepi dibanding dulu. Banyak pasar lain sehingga pembeli terbagi," ungkapnya.

Baca juga: Update Harga Kebutuhan Dapur di Malinau Jelang Idul Adha, Tomat dan Cabai Rawit Turun

Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian terhadap keberlangsungan pasar tradisional agar aktivitas perdagangan kembali meningkat.

Sementara itu, pedagang lainnya, Ahmad, mengungkapkan kenaikan harga paling tajam terjadi pada komoditas cabai, bawang, dan sejumlah sayuran.

Menurut Ahmad, harga cabai rawit melonjak dari Rp65 ribu menjadi Rp90 ribu per kilogram. Cabai keriting juga mengalami kenaikan hingga mencapai Rp65 ribu per kilogram.

"Kenaikan paling terasa di cabai rawit. Sekarang sudah Rp90 ribu per kilogram," ujarnya.

Tak hanya cabai, harga tomat juga naik dari Rp20 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram. Kentang kini dijual Rp18 ribu per kilogram dan wortel mencapai Rp20 ribu per kilogram.

Di lapak bumbu dapur, bawang putih kupas dibanderol Rp40 ribu per kilogram, bawang putih biasa Rp35 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah lokal dijual sekitar Rp45 ribu per kilogram.

Kenaikan cukup signifikan juga terjadi pada bawang bombai yang kini mencapai Rp25 ribu per kilogram. Padahal, harga normal komoditas tersebut biasanya hanya berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.

Ahmad menilai tingginya harga dipicu berkurangnya pasokan barang di pasar. 

Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya permintaan bahan pangan dalam jumlah besar oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Harga cabai rawit di Nunukan naik 02 10062026
PASAR INHUTANI - Pedagang melayani pembeli di Pasar Inhutani Nunukan, Kalimantan Utara. Harga sejumlah bahan pokok seperti cabai, bawang, dan sayuran mengalami kenaikan akibat berkurangnya pasokan dan tingginya permintaan pasar

Menurutnya, SPPG dapat memesan sayuran hingga 150 kilogram dalam sekali pembelian. Bahkan kebutuhan telur bisa mencapai 70 rak atau sekitar 3.000 butir.

"Karena pengambilan dalam jumlah besar, stok di pasar menjadi berkurang. Akibatnya harga ikut naik karena barang tidak mencukupi kebutuhan," jelasnya.

Menjelang berbagai kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, para pedagang berharap pasokan bahan pangan dapat kembali stabil agar harga di tingkat konsumen tidak semakin membebani masyarakat.

Kenaikan harga sejumlah komoditas ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi warga Nunukan yang harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.