Rupiah dan IHSG Menguat, Kebijakan BI Rate dan Harga Pertamax Disebut Jadi Pendorong Utama
Heriani AM June 10, 2026 05:12 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan dalam dua hari terakhir di tengah kondisi pasar global yang masih penuh tekanan. 

Penguatan tersebut dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor dalam negeri, terutama kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pergerakan positif rupiah hingga berada di level Rp17.942 per dolar AS bukan didorong oleh sentimen eksternal.

Baca juga: Eks Menkeu Beri 3 Cara Ampuh ke Purbaya Atasi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Padahal, situasi global masih dibayangi ketegangan geopolitik serta potensi peningkatan inflasi di Amerika Serikat.

"Hari ini rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat. Penguatan mata uang rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan bukan disebabkan oleh masalah eksternal. Kalau kita lihat secara eksternal seharusnya rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan ini mengalami pelemahan," tutur Ibrahim kepada Wartawan, Rabu (10/6/2026).

Ibrahim menilai penguatan yang terjadi justru merupakan respons positif pasar terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.

Salah satu faktor utama adalah langkah cepat Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Dengan kenaikan terbaru tersebut, total kenaikan suku bunga BI dalam beberapa bulan terakhir telah mencapai 75 basis poin, menjadi 5,5 basis poin.

"Apa yang membuat rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan di hari ini mengalami penguatan adalah salah satunya adalah Bank Indonesia yang kemarin secara sigap menaikkan suku bunga 25 basis poin. Yang kita lihat bulan sebelumnya itu adalah 50 basis poin. Artinya apa? Sudah 75 basis poin," imbuhnya.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Dibuka Rp 18.134 per Dollar AS, Kurs Rupiah di Bank Mandiri, BNI dan BCA

Ia memperkirakan Bank Indonesia masih berpotensi melanjutkan siklus kenaikan suku bunga hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan surat utang negara.

Menurut Ibrahim, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang telah mencapai sekitar 7,4 persen juga berpotensi menarik kembali minat investor asing ke pasar Indonesia.

Selain kebijakan moneter, Ibrahim menilai keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

Kebijakan tersebut dinilai membantu mengurangi beban subsidi energi yang selama ini membebani anggaran negara.

"Pemerintah juga sudah merespon apa keinginan dari kami sebagai seorang pengamat ekonomi, di mana harga Pertamax sudah dinaikkan," ujarnya.

Baca juga: Rupiah Sekarat, BEM SI Minta Pemerintah Perbaiki Ekonomi Indonesia dalam 18 Hari, Respons Mensesneg

Ia mengungkapkan realisasi subsidi dan kompensasi energi dalam lima bulan pertama tahun ini telah mencapai Rp 203,7 triliun atau lebih dari separuh pagu APBN sebesar Rp 381,3 triliun.

Oleh karena itu, kenaikan harga Pertamax dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap kemampuan pemerintah menjaga fiskal.

"85 persen subsidi kemungkinan besar akan sedikit menyusut dan inilah yang membuat pasar kembali percaya terhadap pemerintah," jelas Ibrahim.

Menurut dia, kombinasi kebijakan Bank Indonesia dan langkah pemerintah dalam mengelola subsidi energi menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah dan IHSG.

Dengan kondisi tersebut, ia meyakini skenario pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp 19.000 per dolar AS dapat dihindari.

"Ini yang dilakukan oleh pemerintah dan saya sebagai seorang pengamat ekonomi percaya bahwa apabila pemerintah merespon kebijakan-kebijakan dari para pengamat, kemungkinan besar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan akan kembali menguat. Dan mencapai level Rp 19.000 kemungkinan besar tidak akan terjadi," ucap Ibrahim. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.