Bukan Tim Raksasa, Ketua KPU Dogiyai Dukung Tanjung Verde karena Kekuatan Diaspora
Marius Frisson Yewun June 10, 2026 05:15 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Demam Piala Dunia 2026 begitu terasa hingga ke pelosok tanah air.

Menjelang bergulirnya pesta sepak bola terakbar di dunia pada 12 Juli 2026, Elias Petege yang merupakan Ketua KPU Dogiyai, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Tim Nasional Tanjung Verde (Cabo Verde).

Bagi Elias, memilih jagoan di Piala Dunia tidak harus terpaku pada tim raksasa yang bertabur bintang atau negara dengan sejarah trofi mentereng.

Baca juga: Warna-Warni Bendera Negara Peserta Piala Dunia Hiasi Lapak di Abepura

Baginya, sepak bola adalah refleksi identitas, perjuangan, dan harga diri sebuah bangsa.

Inilah alasan mengapa ia menaruh hati pada tim berjuluk Tubaroes Azuis atau Hiu Biru karena, sepak bola adalah refleksi identitas.

"Itulah alasan saya memilih Tanjung Verde," kata Elias kepada Tribun-Papua.com, di Nabire, Rabu (10/6/2026).

Elias menilai Tanjung Verde memiliki keunikan luar biasa, terutama dalam pemanfaatan kekuatan diaspora.

Baca juga: Jeritan Penjual BBM Eceran di Jayapura: Terpaksa Pertahankan Harga Rp13 Ribu Demi Pelanggan

Meski negara kepulauan di Afrika Barat ini hanya memiliki penduduk sekitar 500 ribu jiwa, mereka mampu mengumpulkan talenta keturunan Tanjung Verde yang tersebar di seluruh dunia, khususnya Eropa.

​"Mayoritas pemain lahir, besar, dan merupakan alumni akademi sepak bola Eropa. Mereka membawa standar taktik, disiplin, dan fisik liga top Eropa ke dalam tim," jelasnya.

​Berbeda dengan stigma umum tim Afrika yang sering mengandalkan fisik maskulin, Elias melihat Tanjung Verde bermain dengan gaya sepak bola modern yang taktis, rapi, dan mengandalkan operan pendek cepat ala Portugal.

Mereka tidak bergantung pada satu bintang dunia, melainkan pada kerja sama tim yang solid dan merata.

Baca juga: Nabire Bergetar! Ribuan Fans dari 11 Negara Gelar Konvoi Akbar Sambut Piala Dunia 2026

Satu hal yang paling dikagumi Elias dari skuad asuhan pelatih Bubista adalah kebijakan menjaga identitas lokal.

Di tengah derasnya arus globalisasi, pemain diwajibkan menggunakan bahasa daerah (Kreol) dalam setiap komunikasi tim.

​"Bagi mereka, taktik sepak bola tidak sekadar instruksi verbal, tetapi senandung kebudayaan yang menyatukan para pemain diaspora untuk pulang ke akar mereka," uar Elias.

Dia pun menyoroti garis keturunan sepak bola Tanjung Verde yang sangat kuat, di mana legenda dunia seperti Nani, Henrik Larsson, hingga Patrick Vieira diketahui memiliki akar keturunan dari negara tersebut.

Baca juga: Cerita Ketua DPR Nabire Nanci Worabay, Setia Dukung Timnas Belanda Sejak Masih Nona-nona

Meski Tanjung Verde tergabung dalam grup yang tergolong berat bersama raksasa sepak bola seperti Spanyol dan Uruguay, Elias tetap optimistis.

Dia percaya modal mentalitas tangguh dan kekompakan tim akan menjadi kunci kejutan bagi tim berjuluk Hiu Biru.

"Saya yakin mereka bisa menang dengan modal mentalitas yang tangguh dan kekompakan tim yang luar biasa," pungkasnya.

​Terkait persiapan menyambut gelaran ini, Elias menyebut dirinya telah menyiapkan atribut tim sebagai bentuk dukungan.

Baca juga: Ada Diskon untuk KM Tidar, Cek Jadwal Kapal Pelni Surabaya-Makassar Juni 2026

Meski tidak ada agenda nonton bareng (Nobar) yang diselenggarakan secara resmi, semangat Elias untuk menyaksikan perjuangan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 dipastikan tidak akan pernah surut. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.