Dinas Pangan Sulut Respons Keluhan Warga Soal Harga Beras dan Kelangkaan Minyakita
Frandi Piring June 10, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejumlah warga mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang masih tinggi di sejumlah pasar tradisional di Sulawesi Utara (Sulut).

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga beras premium, minyak goreng Minyakita, hingga beberapa komoditas pangan masih menjadi perhatian masyarakat karena dinilai memberatkan daya beli.

Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulut menjelaskan bahwa akan terus melakukan pemantauan harga pangan secara rutin dan menyiapkan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga di pasaran.

Dari hasil pemantauan harga pangan pada 9 Juni 2026, harga beras premium merek Dua Merpati dijual antara Rp84 ribu hingga Rp86 ribu per kemasan 5 kilogram.

Sementara beras merek Bunaken berada di kisaran Rp83 ribu per 5 kilogram.

Sementara itu, harga daging ayam ras tercatat Rp38 ribu per kilogram, masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp40 ribu per kilogram.

Untuk minyak goreng bersubsidi Minyakita, petugas tidak menemukan stok di pasar saat pemantauan pagi hari. Namun pada sore harinya sekitar pukul 14.00 Wita, Perum Bulog telah menyalurkan pasokan sebanyak 18.300 liter ke pasar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Rahel Ruth Rotinsulu, S.STP., M.Si menyebut distribusi Minyakita oleh Perum Bulog dilakukan secara rutin setiap hari Selasa pada pekan berjalan.

"Kami terus melakukan pemantauan harga pangan pokok strategis setiap hari melalui petugas enumerator yang berada di pasar tradisional," katanya, Rabu (10/6/2026)

Baca juga: Minyak Kita Langka di Kotamobagu, Pedagang Sebut Harga Tembus Rp 21 Ribu per Liter

Selain itu, pengawasan juga dilakukan bersama Tim Satgas Pangan Polda Sulut dan instansi terkait di pasar tradisional, ritel modern hingga tingkat distributor.

Menurut Dinas Pangan, tingginya harga beras premium dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kenaikan harga di tingkat produsen, biaya transportasi, biaya produksi hingga biaya kemasan.

"Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga jual beras di pasaran. Terlebih sekitar 90 persen pasokan beras yang beredar di Sulut berasal dari Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan melalui distributor besar," jelasnya

Sementara mahalnya harga Minyakita dipicu oleh terbatasnya ketersediaan stok di pasaran.

Selain itu, masih banyak pedagang yang belum terdaftar dalam aplikasi Simirah yang menjadi syarat untuk memperoleh distribusi resmi Minyakita.

Akibatnya, sejumlah pedagang harus membeli Minyakita dari pedagang lain yang telah terdaftar, sehingga harga jual ke konsumen menjadi lebih tinggi dari HET yang telah ditetapkan pemerintah.

Untuk mengendalikan gejolak harga, Dinas Pangan Sulut terus melakukan intervensi melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM).

Program tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Selain itu, koordinasi dengan Perum Bulog terus dilakukan guna memastikan ketersediaan beras dan minyak goreng di pasar tradisional maupun ritel modern tetap terjaga. (Ren)

Baca juga: Segini Harga MinyakKita di Pasar Bersehati Awal Ramadan, Tidak Sesui HET

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.