Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Warga Jakarta Diyakini Beralih ke Transportasi Umum, Lebih Ekonomis
Wahyu Gilang Putranto June 10, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah melalui Pertamina resmi menaikkan harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) mulai Rabu, 10 Juni 2026.

BBM non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Mengenai kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, warga Jakarta diyakini akan beralih menggunakan transportasi umum.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Pramono menyebut kenaikan harga BBM berpotensi mendorong masyarakat beralih menggunakan transportasi umum.

Sebab, menurut Pramono, warga akan mempertimbangkan penggunaan transportasi umum karena dinilai lebih ekonomis dibandingkan kendaraan pribadi.

“Dengan kenaikan BBM ini, maka peluang orang untuk naik transportasi umum juga makin besar,” ujarnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026), dilansir TribunJakarta.com.

Pramono menuturkan, konektivitas antarmoda transportasi di Jakarta sudah mencapai 93 persen.

Namun, jumlah warga yang rutin menggunakan transportasi umum masih sangat sedikit, jumlahnya bahkan tak sampai 30 persen.

Sementara itu, pilihan moda transportasi umum makin beragam yakni mulai dari MRT, LRT Jakarta, Transjakarta, hingga Mikrotrans Jaklingko.

Baca juga: Pertamax Naik, Bupati Lumajang Stop Biayai Operasional Para Kepala OPD, Pemkab Tegal Lakukan Ini

Pemprov DKI Jakarta juga menyediakan layanan Transjabodetabek yang menjangkau hingga daerah-daerah penyangga Ibu Kota, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

“Saya akan secara sungguh-sungguh campaign untuk naik transportasi umum. Karena konektivitas kita sekarang sudah 93 persen, tapi orang yang terus-menerus menggunakan transportasi umum masih di bawah 30 persen,” paparnya.

Kata Warga usai Harga Pertamax Naik

Kurniawan, pengemudi motor yang rampung mengisi BBM jenis Pertamax 92 di SPBU Pertamina, Jalan HOS Cokroaminoto, Ciledug, Tangerang, mengatakan kenaikan Pertamax sebenarnya tidak membuat dirinya heran atau kaget.

Meski begitu, ia menyayangkan keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi itu terlalu signifikan.

"Pertamax naik sebenernya enggak kaget kaget banget. Cuma yang bikin syok naiknya hampir Rp4.000, enggak pelan-pelan kayak sebelum perang," ujarnya kepada Tribunnews.com, Rabu.

Mengenai apakah dia akan beralih ke Pertalite yang harganya tetap dipertahankan Rp10.000 per liter, Kurniawan mengaku belum memikirkan hal itu.

Sebab pertimbangannya adalah mesin kendaraannya yang terbiasa "meminum" bensin oktan tinggi. 

"Kalau untuk beralih sepertinya belum karena sayang mesin kalau langsung beralih total," jelas dia.

Baca juga: Pertamax Series Naik, Driver Ojol Minta Pemerintah Tak Ikut Naikkan Harga Pertalite

HARGA PERTAMAX NAIK - Antrean panjang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di kawasan Ciledug, Tangerang, Rabu pagi (10/6/2026). Diketahui pemerintah melalui Pertamina resmi menaikkan harga beberapa jenis BBM mulai Rabu, 10 Juni 2026.
HARGA PERTAMAX NAIK - Antrean panjang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di kawasan Ciledug, Tangerang, Rabu pagi (10/6/2026). Diketahui pemerintah melalui Pertamina resmi menaikkan harga beberapa jenis BBM mulai Rabu, 10 Juni 2026. (Tribunnews.com/Danang Triatmojo)

Sementara itu, Solahul, pengguna Pertamax Green mengaku di "prank" oleh pemerintah atas kenaikan harga BBM ini. 

Sebab ia adalah pengguna BBM jenis V-Power dari Shell.

Ketika stok Shell kosong, ia beralih ke Pertamax Green milik Pertamina.

Namun, ketika terbiasa memakai Pertamax Green, harganya malah naik dengan selisih Rp4.100.

"Saya biasa Pertamax Green semenjak V-Power enggak ada. Tapi sekarang naik dari Rp12.900 ke Rp17.000. Itung deh tuh berapa naiknya," tuturnya.

Alasan Pertamina

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian harga ini diputuskan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Menurutnya, penyesuaian harga BBM non subsidi untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah."

"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” kata Roberth dalam keterangannya, Rabu.

“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina," jelasnya.

Sedangkan untuk BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Biosolar, harga jual kedua produk tersebut tidak mengalami kenaikan, Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

(Tribunnews.com/Nuryanti/Danang Triatmojo) (TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.