Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berlangsung lebih kering.
Durasi musim kemarau kali ini juga diperkirakan jauh lebih panjang dibandingkan dengan kondisi normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang masih bertahan di Samudra Pasifik.
Fenomena alam ini diperkirakan tetap awet hingga awal tahun 2027 dan berpotensi memperkuat karakteristik musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan pergerakan musim kemarau berdasarkan hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026.
Sebanyak 200 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 11,83 persen luas daratan Indonesia sudah lebih dahulu masuk musim kemarau.
Wilayah yang sudah kering meliputi sebagian Sumatra, sebagian Jawa, dan sebagian besar Nusa Tenggara.
Selain itu, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, serta sebagian Papua juga sudah mengalami kemarau.
Memasuki bulan Juni 2026, BMKG memprediksi sebanyak 198 ZOM atau sekitar 31,60 persen luas daratan Indonesia akan menyusul masuk musim kemarau.
Wilayah terdampak pada bulan ini cakupannya jauh lebih meluas di sejumlah pulau besar.
Daerah yang menyusul di antaranya adalah sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, serta DKI Jakarta bagian selatan.
Wilayah Jawa Tengah bagian tengah dan barat, sebagian kecil Jawa Timur, serta Kalimantan Barat bagian selatan juga mulai memasuki masa kering.
Kondisi serupa terjadi di sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan bagian tengah, sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan Papua bagian timur.
Sementara itu, sebanyak 66 ZOM atau sekitar 7,28 persen wilayah Indonesia baru akan memasuki musim kemarau pada bulan Juli 2026.
Wilayah tersebut meliputi Jambi bagian barat, sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.
Menurut Ardhasena, kondisi musim kemarau tahun ini membutuhkan perhatian lebih dari semua pihak karena adanya dorongan dari fenomena El Nino.
BMKG memprediksi peluang El Nino mencapai kategori moderat berada di angka 98 persen, sedangkan peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.
"Dampak El Nino diperkirakan akan terasa di Indonesia selama periode musim kemarau hingga pertengahan Oktober 2026," ujar Ardhasena.
Menghadapi ancaman kekeringan yang cukup panjang, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi strategis bagi berbagai sektor demi meminimalisasi dampak kerugian.
Untuk sektor pangan, para petani disarankan segera menyesuaikan jadwal tanam di wilayah masing-masing.
Petani juga diimbau memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cuaca kering, membutuhkan sedikit air, dan memiliki masa tanam singkat.
Pada sektor sumber daya air, BMKG merekomendasikan langkah revitalisasi waduk serta perbaikan jaringan distribusi air.
Langkah ini penting dilakukan guna menjamin ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat selama musim kemarau.
Sektor energi juga diminta untuk ikut bersiap. Pengelola bendungan harus memastikan ketersediaan air tetap terjaga demi mendukung kelancaran operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Selain masalah air dan pangan, pemerintah daerah diharapkan menyiapkan mekanisme respons cepat.
Hal ini terkait dengan potensi penurunan kualitas udara yang bisa memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca yang jauh lebih kering akan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat untuk meningkatkan upaya pencegahan.
"Termasuk melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang membutuhkan," jelasnya.