NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah, termasuk para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Mereka terdampak lonjakan harga kedelai di Indonesia, yang sebagian besar merupakan kedelai impor.
Sedangkan kedelai menjadi bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe,
Kini, para perajin tahu dan tempe di Natuna harus memutar otak agar usaha mereka tetap bertahan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Di Natuna, salah satu yang merasakan dampaknya adalah Bambang, pemilik usaha Tahu Tempe Sidomulyo di Kota Ranai.
Pria yang telah menekuni usaha tahu tempe selama sekitar 20 tahun itu, mengaku harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir.
Bahkan menurutnya, kenaikan terjadi hampir setiap bulan sejak awal tahun.
"Kedelai naik terus dalam dua bulan terakhir. Setiap bulan ada kenaikan. Kami pesan stok satu bulan sekali menggunakan Tol Laut dari Jakarta," ujar Bambang saat ditemui TribunBatam.id, Rabu (10/6/2026).
Saat ini harga kedelai telah mencapai Rp650 ribu per karung ukuran 50 kilogram.
Padahal sebelumnya, harga kedelai masih berada di kisaran Rp550 ribu per karung.
Artinya, dalam waktu relatif singkat terjadi kenaikan sekitar Rp100 ribu per karung.
Jika dihitung per kilogram, harga kedelai kini berada di angka sekitar Rp13 ribu.
"Kenaikannya cukup terasa karena bahan baku ini paling utama dalam produksi tempe dan tahu," katanya.
Bambang mengungkapkan, kebutuhan bahan baku usahanya tidak sedikit.
Dalam sebulan, ia menghabiskan sekitar enam hingga tujuh ton kedelai untuk memenuhi permintaan pasar di Ranai dan sekitarnya.
Sementara dalam sehari, produksi dilakukan menggunakan sekitar 250 kilogram kedelai.
Dengan kebutuhan sebesar itu, kenaikan harga bahan baku tentu berdampak langsung terhadap biaya produksi.
Namun demikian, Bambang memilih tidak menaikkan harga jual produknya.
Ia khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain jika harga tempe ikut naik.
Sebagai jalan keluar, ia melakukan penyesuaian pada ukuran tempe yang dijual.
"Harga masih sama. Cuma ukurannya yang kami kurangi sedikit. Paling sekitar dua gram untuk satu potong tempe. Kalau tahu tidak kami kurangi," ujarnya.
Menurut Bambang, langkah tersebut terpaksa dilakukan agar usahanya tetap berjalan dan pelanggan tidak merasa terbebani.
"Ya, itu salah satu cara supaya pelanggan tetap beli," katanya.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Bambang juga menghadapi tantangan lain, yakni menurunnya daya beli masyarakat.
Ia mengaku omzet penjualan eceran mengalami penurunan sekitar 10 persen dibandingkan kondisi normal.
Konsumen kini cenderung mengurangi jumlah pembelian karena harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
"Kalau untuk penjualan eceran cukup terasa. Omzet turun sekitar 10 persen. Ada pelanggan yang biasanya beli Rp25 ribu, sekarang hanya Rp15 ribu," ujarnya.
Menurut Bambang, kondisi ekonomi yang sedang sulit membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja.
Meski demikian, ia tetap berupaya mempertahankan kualitas produk dan menjaga pasokan agar pelanggan tidak beralih.
Sebagai pelaku usaha yang telah dua dekade berkecimpung di industri tahu dan tempe, Bambang menilai harga kedelai saat ini menjadi salah satu yang tertinggi yang pernah ia alami.
"Selama saya usaha sekitar 20 tahun, ini termasuk harga kedelai yang paling tinggi. Memang hampir setiap tahun naik," katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kedelai impor serta memastikan ketersediaan stok bagi para perajin tahu dan tempe di daerah.
Terlebih Natuna yang berada di wilayah kepulauan, sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar daerah.
"Harapan kami sederhana. Harga bisa stabil dan stok kedelai tetap tersedia. Karena kalau harga terus naik, yang berat bukan hanya perajin, tapi juga masyarakat sebagai konsumen," pungkasnya.
(Tribunbatam.id/birrifikrudin).