Selebrasi Gol Paling Ikonik Sepanjang Masa
Agus Firmansyah June 10, 2026 08:59 PM

Dari gerakan khas, rutinitas yang sudah dilatih, hingga momen spontan yang penuh emosi atau kemarahan, berikut adalah kilas balik beberapa selebrasi gol paling ikonik sepanjang sejarah sepak bola...

Beberapa pemain selalu merayakan setiap gol dengan cara yang sama, sementara yang lain lebih suka berimprovisasi dengan momen kegilaan, amarah, atau bahkan provokasi.

Semakin besar arti sebuah gol atau kesempatan, biasanya semakin epik pula perayaannya. Tak jarang, gol-gol penting diiringi dengan reaksi yang paling berkesan.

Dari yang brilian hingga membosankan, dari yang angkuh hingga menghibur, serta dari yang menyentuh hingga memancing kontroversi — inilah deretan selebrasi gol paling ikonik dalam dunia sepak bola.

Erling Haaland kerap mengekspresikan diri dengan berbagai cara setelah mencetak gol, namun sempat dikenal karena selebrasi ‘zen’ khasnya. Pose tersebut terinspirasi dari kecintaannya pada meditasi dan sempat diejek secara massal oleh seluruh tim Paris Saint-Germain pada 2020 setelah kemenangan mereka atas mantan klub Haaland, Borussia Dortmund. Beberapa tahun kemudian, Haaland menjadi peraih treble. Siapa yang tertawa sekarang?

Pada 2015, setelah mencetak gol untuk Swansea City melawan Manchester United, Bafetimbi Gomis berlutut dan merayap seperti seekor macan kumbang. Selebrasi itu, yang pernah menakuti seorang ball boy di Arab Saudi, telah menjadi ciri khas Gomis sepanjang kariernya. Tradisi ini diyakini bermula saat ia masih di Saint-Étienne, sebagai penghormatan kepada Salif Keita, legenda klub yang dijuluki “Sang Macan Kumbang Hitam”.

Julukannya “Pesawat Kecil” lahir dari tubuh mungil dan selebrasi khas Vincenzo Montella, yang membentangkan kedua tangannya seperti sayap pesawat sambil bergerak dari sisi ke sisi. Dikenal melalui masa bermainnya di AS Roma dan Sampdoria, Montella menutup kariernya dengan 228 gol di level klub dan tiga gol dalam 20 penampilan untuk tim nasional Italia.

Selebrasi aneh Temuri Ketsbaia untuk Newcastle United melawan Bolton Wanderers pada 1998 mungkin lebih diingat ketimbang kontribusinya selama tiga tahun di klub itu. Jengkel karena tidak menjadi starter setelah cedera, Ketsbaia mencetak gol kemenangan di menit akhir di St. James’ Park, melemparkan kausnya ke penonton, mencoba melepas sepatunya, lalu menendang papan iklan dengan marah. Ia mengaku malu atas insiden itu dan tidak pernah menontonnya lagi.

Robbie Keane mencetak 325 gol di level klub dan 68 untuk Republik Irlandia. Namun, selebrasinya yang berupa jungkir balik, guling ke depan, dan gerakan menembak dengan tangan lebih menyerupai senam amatir. Meski begitu, ia tetap melakukannya sepanjang karier dan menjadikannya ciri khasnya.

Sebelum rekornya dipecahkan oleh Cristiano Ronaldo dan kemudian Karim Benzema, Raul Gonzalez adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa Real Madrid dengan 323 gol. Penyerang Spanyol itu merayakan golnya dengan mencium jari manisnya, selebrasi yang sederhana namun menjadi tanda khasnya. Ia juga terkenal karena menaruh jarinya di bibir untuk membungkam penonton Camp Nou setelah mencetak gol dalam El Clasico 1999 melawan Barcelona.

Facundo Sava tidak banyak meninggalkan jejak di lapangan untuk Fulham, namun ia terkenal karena kebiasaannya mengenakan topeng setelah mencetak gol. Ia menyimpan topeng di kaus kakinya dan memakainya hanya ketika mencetak gol — hanya tujuh kali selama membela Fulham. Tradisi itu dimulainya di Argentina, termasuk saat mengenakan topeng serigala setelah mencetak gol kemenangan melawan Estudiantes. Di Fulham, ia menggunakan topeng Zorro dan kemudian topeng hitam-putih klasik. Ia pernah mengungkapkan bahwa fans mengirimkan lebih dari 250 topeng kepadanya sepanjang kariernya.

Edinson Cavani, yang mencetak lebih dari 300 gol di klub seperti Napoli (104 gol) dan Paris Saint-Germain (200 gol), dikenal dengan selebrasi busur dan panahnya. Ia mengatakan, itu merupakan penghormatan kepada suku asli Uruguay.

Menjelang laga Liga Champions Liverpool melawan Barcelona di Camp Nou pada 2007, Craig Bellamy menjadi sorotan karena menyerang rekan setimnya John-Arne Riise dengan tongkat golf. Namun keduanya justru mencetak gol dalam kemenangan 2-1 untuk Liverpool. Setelah golnya, Bellamy merayakan dengan ayunan golf imajiner — momen yang membuat rekan-rekannya tertawa, meski Riise kemudian menyebutnya tidak sopan.

Pada 2014, Jose Mourinho membuat heboh setelah mempertanyakan usia Samuel Eto’o. Penyerang Kamerun itu membalas dengan cara cerdas: mencetak gol untuk Chelsea melawan Tottenham dan menirukan gaya orang tua yang pincang di depan bendera pojok. Selebrasi itu menjadi salah satu yang paling diingat di Premier League musim itu.

Julius Aghahowa dari Nigeria menampilkan salah satu selebrasi paling atletis di Piala Dunia 2002. Setelah mencetak satu-satunya gol Nigeria dalam kekalahan 2-1 dari Swedia, ia melakukan enam kali salto belakang dan satu jungkir balik. Menakjubkan, meski sedikit berlebihan.

Alan Shearer selalu memiliki selebrasi yang sama: satu tangan terangkat dan senyum lebar. Ia mencetak 260 gol di Premier League, dan selebrasi itu menjadi simbolnya. Ketika Micah Richards mengejeknya dalam podcast bersama Gary Lineker, Shearer dengan cepat menegaskan bahwa ia telah melakukannya 260 kali — sulit dibantah.

Tim Cahill dikenal dengan selebrasi ikoniknya di Everton, yaitu meninju bendera pojok seperti sedang bertinju. Gaya ini pertama kali dilakukan oleh rekan setimnya di tim nasional Australia pada laga persahabatan melawan Jamaika tahun 2005, namun justru Cahill yang mempopulerkannya.

Pada 2009, Jimmy Bullard dari Hull City meniru aksi pelatihnya Phil Brown yang memberikan instruksi di tengah lapangan setelah kekalahan 4-0 dari Manchester City setahun sebelumnya. Saat Bullard mencetak gol penyeimbang di pertandingan berikutnya melawan lawan yang sama, ia meminta rekan-rekannya duduk dan berpura-pura mendengarkan instruksinya — selebrasi yang brilian.

Emmanuel Adebayor menciptakan salah satu selebrasi paling kontroversial Premier League pada 2009. Setelah pindah dari Arsenal ke Manchester City, ia mencetak gol ke gawang mantan klubnya, berlari 90 yard, lalu berlutut di depan fans Arsenal yang marah. Adebayor akhirnya meminta maaf atas tindakannya.

Pada 2015, Pierre-Emerick Aubameyang dan Marco Reus dari Borussia Dortmund merayakan gol dengan mengenakan topeng Batman dan Robin melawan Schalke. Aubameyang kemudian mengungkapkan bahwa topeng-topeng itu disembunyikan oleh penerjemahnya di belakang gawang sebelum pertandingan.

Robbie Fowler membuat kontroversi pada 1999 setelah mencetak gol penalti untuk Liverpool melawan Everton. Kesal dengan rumor penggunaan narkoba, ia berpura-pura menghirup garis putih lapangan seperti kokain. Ia pun dijatuhi larangan bermain empat pertandingan.

Diego Maradona mencetak gol luar biasa melawan Yunani di Piala Dunia 1994, lalu berlari ke pinggir lapangan dan berteriak ke arah kamera dengan mata melotot. Beberapa hari kemudian, ia dipulangkan karena gagal tes doping dan tidak pernah bermain lagi untuk Argentina.

Eric Cantona mencetak gol chip brilian melawan Sunderland pada 1996, namun selebrasinya juga legendaris. Dengan kerah berdiri, dada dibusungkan, ia berputar perlahan menikmati tepuk tangan penonton. Sebuah momen klasik Cantona.

Mario Balotelli membalas kritik media Inggris dengan cara ikonik saat derby Manchester 2011. Setelah mencetak gol, ia memperlihatkan kaus dalam bertuliskan “Why always me?”. City menang 6-1 dan selebrasi itu menjadi bagian dari sejarah derby tersebut.

Fabrizio Ravanelli dikenal karena selebrasi khasnya: menarik kaus hingga menutupi kepala dan berlari mengelilingi lapangan. Ketika FIFA memperkenalkan aturan kartu kuning bagi pemain yang melepas kaus pada 2004, ia terang-terangan menentangnya — meski saat itu kariernya hampir berakhir.

Pada 1996, Claudio Caniggia mencetak hat-trick untuk Boca Juniors dalam kemenangan 4-1 atas River Plate di La Bombonera. Dalam euforia kemenangan, ia berbagi ciuman di bibir dengan Diego Maradona — selebrasi yang menjadi legenda di Argentina.

Selebrasi Lionel Messi setelah mencetak gol ke-500 untuk Barcelona pada 2017 melawan Real Madrid menjadi momen ikonik. Setelah gol penentu kemenangan 3-2 di Santiago Bernabeu, ia melepas kausnya dan menunjukkannya ke arah penonton. Biasanya, Messi menunjuk ke langit untuk mengenang neneknya, yang pertama kali membawanya bermain sepak bola.

Peter Crouch pertama kali menampilkan tarian robotnya di pesta di rumah David Beckham, dan kemudian memperlihatkannya ke dunia saat Inggris menang 6-0 atas Jamaika pada 2006. Dengan tinggi 2,01 meter, gerakannya terlihat lucu. Crouch kemudian mengakui bahwa ia tak akan berani melakukannya jika VAR sudah ada saat itu.

Andres Iniesta mencetak gol kemenangan untuk Spanyol di final Piala Dunia 2010 melawan Belanda, lalu melepas kausnya untuk memperlihatkan tulisan “Dani Jarque, selalu bersama kami” sebagai penghormatan kepada sahabatnya yang meninggal pada 2009. Rekan setimnya, Jesus Navas, juga memperlihatkan pesan serupa untuk Antonio Puerta, pemain Sevilla yang meninggal pada 2007.

Cristiano Ronaldo memperkenalkan teriakan “Siuuu” setelah memenangkan Ballon d’Or 2014, dan sejak itu selalu melakukannya setiap kali mencetak gol. Ia berlari ke sudut lapangan, melompat, dan membentangkan tangan. Selebrasi ini menjadi fenomena global, ditiru oleh pemain dan anak-anak di seluruh dunia. Selebrasi “calma” miliknya melawan Barcelona di Camp Nou pada 2012 juga tak kalah ikonik.

Jurgen Klinsmann tiba di Inggris dengan reputasi sebagai “diver”, namun membalikkan pandangan itu dengan humor. Dalam debutnya untuk Tottenham pada 1994, setelah mencetak gol, ia menjatuhkan diri ke tanah dalam pura-pura menyelam, diikuti rekan-rekannya — momen yang tak terlupakan.

Roger Milla menjadi simbol kegembiraan Kamerun di Piala Dunia 1990. Di usia 38 tahun, ia mencetak empat gol dan setiap kali merayakannya dengan menari di dekat bendera pojok. Sebuah selebrasi yang tak lekang oleh waktu.

Wayne Rooney menanggapi rumor tentang dirinya “KO” dalam sparring dengan Phil Bardsley dengan humor. Setelah mencetak gol melawan Tottenham pada 2015, ia berpura-pura bertinju lalu menjatuhkan diri seolah kalah pukulan. Selebrasi itu menjadi viral seketika.

Paul Gascoigne memicu kegembiraan di Euro 96 setelah mencetak gol solo luar biasa melawan Skotlandia. Ia kemudian berbaring di lapangan sementara Alan Shearer dan rekan-rekannya menuangkan air dari botol ke mulutnya, meniru momen “kursi dokter gigi” yang sempat menghebohkan media.

Marco Tardelli memperlihatkan emosi murni di final Piala Dunia 1982. Setelah mencetak gol melawan Jerman Barat, ia berlari ke bangku cadangan Italia sambil berteriak “gol, gol” dengan air mata kebahagiaan. Ia kemudian berkata, “Setelah gol itu, seluruh hidup saya terlintas di depan mata.” Teriakan Tardelli tetap menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.

Dan tentu saja, selebrasi menggoyang bayi dari Bebeto pada perempat final Piala Dunia 1994 melawan Belanda. Ia, Romario, dan Mazinho menimang bayi imajiner untuk merayakan kelahiran anak ketiganya beberapa hari sebelumnya. Selebrasi itu kemudian menjadi simbol kebahagiaan dan sering ditiru, meski versi aslinya tetap yang paling berkesan. Brasil pun menutup turnamen itu dengan menjadi juara dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.