Kisah Wa Ode Faeda, Pengecer Bensin di Kendari 2 Kali Umrah Berkat Sisihkan Uang Hasil Penjualan
Sitti Nurmalasari June 10, 2026 10:48 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Wa Ode Faeda, penjual bensin eceran di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), berhasil mewujudkan impiannya menunaikan ibadah umrah sebanyak dua kali dari hasil menabung selama bertahun-tahun.

Lansia berusia 75 tahun tersebut berjualan di sekitar SPBU Anduonohu, Jalan Malaka, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu.

Wa Ode Faeda mengatakan tidak memiliki usaha besar maupun penghasilan tinggi. 

Namun kedisiplinannya menyisihkan sebagian hasil jualan setiap hari mengantarkannya ke Tanah Suci.

Sosok wanita asal Kabupaten Muna tersebut merantau ke Kendari saat berusia sekitar 25 tahun. 

Baca juga: Cara Memilih Travel Umrah dan Haji Terpercaya di Kendari, Pilih yang Terdaftar di Kementerian Agama

Selama menetap di Lorong Jambu, Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, ia menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebelum menjadi pengecer bensin.

“Dulu saya kerja di bangunan, pikul rotan, jual ikan, dan masih banyak pekerjaan lainnya,” kata Faeda kepada TribunewsSultra.com saat ditemui di lapaknya, Rabu (10/6/2026).

Faeda merupakan orang tua tunggal dari delapan anak, tetapi satu di antaranya telah meninggal dunia. 

Ia memutuskan menjual bensin eceran setelah usaha lain yang dijalankannya tidak memberikan penghasilan yang stabil.

Bahkan, sempat mencoba menanam sayuran untuk dijual, tetapi pembelinya tidak banyak.

Baca juga: Wali Kota Siska Karina Imran Cuti Umrah, Sempatkan Bantu 30 Jemaah Asal Kendari Terlantar di Madinah

“Menjual bensin ini memang pilihan. Saya tanam sayur juga tidak laku. Suami saya waktu itu lebih banyak urus kebun,” katanya.

Sementara itu, keinginan untuk berangkat ke Tanah Suci muncul setelah mendengar cerita seorang pembeli yang mengisahkan seseorang berhasil menunaikan ibadah haji dengan menabung sedikit demi sedikit setiap hari.

Cerita tersebut membuat Faeda mulai membayangkan dirinya bisa berangkat haji atau umrah suatu saat nanti.

“Saya berpikir, bagaimana bisa orang pergi haji hanya menabung sedikit begitu. Dari situ saya mulai membayangkan bagaimana rasanya orang pergi haji dan umrah,” tuturnya.

Sejak saat itu, ia mulai menyisihkan hasil penjualan pertama setiap hari untuk ditabung.

Baca juga: Tips Memilih Travel Umrah dari Kemenag Sulawesi Tenggara, Waspada Tak Muncul di Aplikasi Satu Haji

Uang tersebut disimpan dalam sebuah kantong hitam yang menjadi tempat khusus menyimpan tabungan umrahnya.

“Mau Rp100 ribu atau Rp200 ribu, saya langsung lipat dan masukkan ke kantong hitam. Saya tidak pernah buka lagi,” ujarnya.

Menurut Faeda, uang yang telah dimasukkan ke dalam kantong tersebut dianggap sudah tidak ada, sehingga tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.

Cara itu dilakukannya selama sekitar tiga tahun hingga tabungannya cukup untuk biaya umrah.

Setelah mengetahui biaya perjalanan umrah berkisar Rp25 juta, ia mulai mencari biro perjalanan yang terpercaya.

Baca juga: Cerita Korban Dugaan Penipuan Travel Umrah di Kendari: Sudah Syukuran Ternyata Gagal Berangkat

Pada 2019, Wa Ode Faeda akhirnya berangkat ke Tanah Suci untuk pertama kalinya.

Perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang tidak pernah dilupakannya. 

Apalagi setelah kembali ke Indonesia, pandemi Covid-19 membuat aktivitas umrah sempat dihentikan.

Meski demikian, pengalaman beribadah di Makkah justru membuatnya ingin kembali lagi.

“Kalau sudah pernah ke sana, pasti ingin lagi,” tuturnya.

Baca juga: Tak Tahu Harga Pertamax Naik, Pengecer di Jalan Malaka Kendari Kaget Pembeli Borong hingga 3 Botol

Setelah perjalanan umrah kembali dibuka pascapandemi, Wa Ode Faeda kembali berangkat untuk kedua kalinya.

Ia mengaku merasakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan saat kembali melihat Ka'bah.

Momen paling mengharukan dialaminya menjelang kepulangan ke Indonesia ketika menyaksikan matahari terbenam di Makkah.

“Saya bilang saya bahagia. Saya ini orang miskin. Di lorong saya banyak orang kaya, banyak yang uangnya lebih dari saya. Mereka beli beras satu karung, saya beli di kantong. Tapi alhamdulillah saya bisa umrah dua kali,” jelasnya.

Bagi Wa Ode Faeda, keberhasilannya berangkat ke Tanah Suci bukan semata-mata karena uang.

Baca juga: Haru Korban Curanmor di Kendari Ambil Kembali Motornya, Halaman Polda Sultra Berubah Layaknya Dealer

Namun, karena niat dan kesungguhan yang dijaga selama bertahun-tahun.

“Biar banyak uangmu, kalau tidak ada niat dan belum ada panggilan dari Allah, belum tentu bisa pergi ke sana,” pungkasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.