Saat Konjen Australia Masuk Gang Sempit di Lombok Timur, Jajal Parut Pisang Kepok di Rumah Inaq Suma
Seno Tri Sulistiyono June 11, 2026 02:33 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, MATARAM - Konsulat Jenderal Australia di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) Jo Stevens menyusuri gang-gang sempit di Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB pada Rabu (10/6/2026) siang.

Dalam kesempatan itu, Jo mengunjungi salah satu program INKLUSI dari pemerintah Australia yang diimplementasikan oleh salah satu dari 10 mitra nasional INKLUSI yakni BaKTI dan mitra lokalnya serta Lombok Research Center (LCR).

Salah satu gang yang dilalui Jo adalah Gang Rijayang.

Baca juga: Konjen Australia Tinjau Sekolah Inklusif bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SDN 1 Teros

Menyusuri gang itu, Jo sampai di rumah Haeriah atau Inaq Suma yang memiliki usaha rumahan kripik pisang.

Pantauan Reporter Tribunnews.com Gita Irawan di lokasi, Jo bahkan sempat masuk ke dalam dapur Inaq Suma dan memarut pisang kepok.

Meski tampak kesulitan, namun Jo tetap berkali-kali berusaha memarut pisang kepok itu sesuai dengan yang dicontohkan Inaq Suma.

Jo dan sejumlah delegasi dari Kedutaan Besar Australia juga mencicipi keripik pisang yang baru digoreng.

"Ini lebih enak dari keripik kentang," ujar Jo di hadapan Inaq Suma.

Inaq Suma memberikan satu plastik keripik pisang tersebut sebagai oleh-oleh kepada Jo.
 
Meski Inaq Suma tidak dapat berbahas Inggris, namun kehangatan di antara keduanya terlihat jelas.

Keduanya bahkan sempat berpelukan sebelum akhirnya Jo meninggalkan lokasi.

Melalui program INKLUSI itu, BaKTI dan LRC membentuk kelompok masyarakat yang disebut Kelompok Konstituen di desa-desa di Lombok Timur.

Kelompok-kelompok tersebut menyediakan wadah bagi masyarakat rentan untuk mengakses layanan pemerintah dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal.

Kelompok KK tersebut juga berperan sebagai mitra strategis pemerintah desa dalam menangani masalah sosial dan ekonomi.

Selain mengunjungi kelompok usaha desa yang memproduksi keripik pisang, Jo juga menyaksikan simulasi penyelesaian masalah perkawinan anak yang terkait dengan tradisi "merarik" atau kawin lari di Sekretariat KK Saiq Angen di sebelah Kantor Desa Kembang Kerang.

Jo juga mengunjungi gerai produk lokal yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dia mengaku sangat senang melihat beberapa contoh bagus dari kemitraan pembangunan Australia-Indonesia di NTB selama kunjungan tersebut. 

Melalui program INKLUSI itu, kata dia, pemerintah Australia mendukung ambisi Indonesia agar kelompok rentan dapat mengakses layanan dengan aman dan berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Khususnya di sini, di desa Kembang Kerang, sungguh luar biasa melihat mitra CSO kami, BaKTI dan Lombok Research Center, membina kelompok-kelompok kelembagaan ini," ucap dia.

"Dan kelompok-kelompok tersebut pada gilirannya bekerja untuk mengidentifikasi masalah di tingkat desa dan mengadvokasi solusi serta pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan termasuk perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lainnya," pungkasnya.

Ingin Buka Lapangan Kerja 

Inaq Suma mengatakan dirinya dapat memproduksi kripik dari empat tandan pisang dalam sehari meski hal itu juga bergantung pada kesediaan bahan bakunya.

Selain memproduksi kripik pisang, Inaq Suma juga memproduksi makanan ringan lainnya di antaranya sale pisang hingga peyek.

Produk-produk panganan itu kemudian dijualnya di gerai BUMDes Desa Kembang Kerang.

Selain itu, ia juga memasarkan produknya melalui media sosial Facebook dan juga menitipkannya di toko makanan ringan.

Sejak menjadi mitra program INKLUSI tersebut pada tahun 2024, Inaq Suma mengaku mendapat berbagai pelatihan untuk meningkatkan usahanya.

Pelatihan itu mulai dari pengolahan, pembuatan merek, pemasaran digital, pembukuan keuangan, hingga untuk mendapatkan sertifikat halal.

"Alhamdulillah ada peningkatan usaha. Maksudnya kan, dulunya enggak
dikenal sebelum saya punya merek kan. Tapi sekarang di mana-mana dicari, 'mana keripiknya Sayima?'. Kan nama brand saya itu Sayima," ujarnya.

"Saya dapat Nomor Induk Berusaha, sertifikat halal juga sekarang," sambungnya.

Selain mengharapkan turunnya harga bahan-bahan pokok, ia juga berharap bisa memiliki rumah produksi.

Sehingga, ia juga bisa membuka lapangan kerja yang lebih luas.

Hal itu mengingat saat ini ia hanya memperkerjakan satu orang dan mendapat bantuan dari keluarganya.

"Harapan saya ke depan inginnya ada rumah produksi biar saya bisa melibatkan tetangga atau perempuan-perempuan di sekitar tempat tinggal saya," ujar dia.

"Soalnya tempat saya produksi itu satu dengan dapur saya. Jadi pegawai saya cuma satu, dua sama anak-anak saya juga kan," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.