Harga Pertamax Naik, Pertalite Ludes, Driver Ojol di Yogyakarta Siapkan Aksi: Pemerintah Ugal-ugalan
ninda iswara June 11, 2026 02:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) mulai dirasakan dampaknya oleh para pengemudi ojek online (ojol) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Harga Pertamax yang melonjak dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter membuat para driver harus memutar otak untuk menekan biaya operasional harian mereka.

Bagi para pengemudi ojol, bahan bakar merupakan kebutuhan utama yang tidak bisa dihindari karena menjadi penunjang aktivitas mencari nafkah setiap hari.

Kondisi tersebut menimbulkan dilema tersendiri. Di satu sisi mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun di sisi lain biaya operasional terus meningkat.

Kenaikan harga BBM dinilai semakin memperberat beban para driver yang selama ini mengandalkan pendapatan dari mengantar penumpang maupun pesanan lainnya.

Baca juga: BBM Pertamax Naik, DPR Kecewa Tak Diajak Diskusi, Bos Danantara Anggap Wajar: Masa Ditanggung Terus

Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta, Rie Rahmawati, mengakui para pengemudi merasakan dampak langsung dari kebijakan kenaikan harga Pertamax tersebut.

Menurutnya, para driver berada dalam posisi yang sulit karena pengeluaran untuk bahan bakar meningkat, sementara pendapatan tidak serta-merta ikut naik.

Rie mengatakan pihaknya merasa dilematis dengan keputusan penyesuaian harga BBM nonsubsidi tersebut.

Pasalnya, kebutuhan bahan bakar menjadi komponen pengeluaran terbesar dalam aktivitas operasional para pengemudi setiap hari.

"Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta, Rie Rahmawati, mengatakan pihaknya merasa dilematis adanya kenaikan BBM jenis pertamax."

Picu migrasi ke pertalite

Meski kebanyakan driver ojol menggunakan pertalite, adanya kenaikan pertamax memicu migrasi pengguna pertamax ke pertalite.

“Itu akan mengakibatkan yang tadinya konsumen pertama jadi antri di BBM yang subsidi. Antrean itu kan mestinya ojol juga ikut antre di situ, kan itu juga menyita waktu. Menyita waktu karena estimasi waktu kan juga, bagi ojol kan juga sangat pengaruh ke kinerja,” katanya, Rabu (10/6/2026).

Selama proses antre BBM di SPBU, menurutnya para driver mau tidak mau harus mematikan aplikasinya.

Jika aplikasi tetap dinyalakan saat mengantre BBM, menurutnya berisiko orderan akan dicancel yang nantinya berpengaruh dengan performa akun.

“Kita bisa kena bintang jelek dari customer, karena customer kadang tidak mau tahu kan gitu. Sangat berdampak juga sih sebenarnya,” ungkapnya.

Persoalan lain juga muncul lantaran beberapa layanan ojol menyedikan penggunaan motor dengan CC yang besar.

Selama ini menurut Rie mereka juga memakai BBM jenis pertamax. 

Tetapi dengan kenaikan pertamax secara otomatis mereka harus beralih ke pertalite. 

“Yang CC-nya besar-besar kan itu kita masuknya juga pertamax. Itu juga berpengaruh kalau kita pakai yang subsidi. Kadang ya, motornya bermasalah (brebet) lah gitu. Nah, kita memang kalau yang CC besar biasanya konsumsinya pertamax. Kadang kan ada SPBU yang tidak menerima MyPertamina atau MyPertamina tidak ada jalur khusus,” ujarnya.

Rie mengatakan para driver ojol akan menyatakan sikap terhadap kenaikan harga BBM. 

Mereka juga berencana berdialog dengan beberapa komunitas lain untuk menyikapi kenaikan BBM ini.

“Karena ini kan isu global. Maksudnya tidak hanya tentang ojol, kami memang sudah ada koordinasi dengan teman-teman lain. Karena kan kita menilai sekarang pemerintah udah ugal ugalan banget nggak mikirin rakyatnya,” terang dia.

Baca juga: Imbas Harga Pertamax Naik, Burhanadi Karyawan di Yogyakarta Kini Megap-megap: Pemerintah Gak Peduli

KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Driver ojol keluhkan kenaikan harga BBM jenis Pertamax, nyatakan sikap bareng komunitas
KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Driver ojol keluhkan kenaikan harga BBM jenis Pertamax, nyatakan sikap bareng komunitas (Bangkapos.com/Adi Saputra)

Sulit Cari Pertalite di SPBU 

Rie megatakan pasca kenaikan BBM diumumkan, saat ini orderan dinilai sangat menurun drastis.

Hal ini menurut Rie dipengaruhi daya beli masyarakat yang ikut menurun setelah adanya isu kenaikan BBM tersebut.

Untuk mengatasi kesulitan itu, Rie bersama teman-teman ojol lainnya melakukan pendataan SPBU yang menyedikan layanan Mypertamina jalur khusus.

Pasalnya sejak Rabu pagi dirinya merasa kesulitan mencari pertalite dibeberapa SPBU yang ada di Yogyakarta.

“Tadi saya pas ngantar orderan itu, ada dua pom bensin yang tutup. Nah itu kan juga pengaruh juga, harusnya kita bisa beli di situ, tapi tutup. Alasannya petalite habis semua, terus ketika saya dapet pom bensin, di situ nggak ada petalite,” keluhnya.

Para driver ojol menyiasati kesulitan ini dengan melakukan kroscek SPBU yang menyediakan jalur khusus MyPertamina.

List SPBU jalur khusus ini menurutnya sedikit membantu para driver dalam bekerja.

“Tadi pagi kami mulai list pom bensin mana aja yang ada jalur khusus, sehingga tidak menyita waktu teman-teman ojol,” tegasnya.

Disisi lain ada pula dari para driver yang disarankan untuk berganti dengan kendaraan listrik.

Menurut Rie langkah tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan kenaikan BBM saat ini.

(TribunTrends/TribunJogja)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.