Harga Pertamax Naik Jadi Rp17 Ribu, Pengamat Ekonomi ULM: Membuka Ruang Penyalahgunaan
Hari Widodo June 11, 2026 10:49 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- HARGA Pertamax di wilayah Kalimantan Selatan resmi naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Artinya ada kenaikan Rp 4.100 per liter atau sekitar 31,8 persen. Di sisi lain, harga Pertalite masih tetap Rp 10.000 per liter.

Menurut Pengamat Ekonomi ULM Dr Ir Syahrial Shaddiq, MEng, MM, Msi, dari sudut pandang ekonomi, kondisi ini sangat berpotensi membuat masyarakat beralih dari Pertamax ke Pertalite. Dalam teori ekonomi, ini disebut efek substitusi.

Sederhananya, ketika harga barang A naik cukup tinggi sementara barang penggantinya tidak naik, maka konsumen akan berpindah ke barang yang lebih murah.

"Dalam kasus ini, Pertamax dan Pertalite bagi sebagian pengguna kendaraan bisa dianggap sebagai barang substitusi. Namun tidak semua pengguna Pertamax akan berpindah,"ujarnya.

Baca juga: Harga Pertamax Naik Jadi Rp17 Ribu, Pengusaha Banjarmasin: Kami Harus Berhitung Ulang

Kelompok pertama adalah pengguna mobil LCGC dan motor matic dengan kompresi mesin yang masih aman menggunakan Pertalite. Kelompok ini merupakan pengguna yang paling berpotensi berpindah.

Kelompok kedua adalah pengguna kendaraan dengan mesin turbo, GDI, atau kompresi tinggi di atas 11:1.

Kelompok ini tetap harus menggunakan Pertamax atau BBM dengan oktan tinggi. Kalau dipaksa menggunakan Pertalite, risiko kerusakan mesin akan lebih besar. Karena itu mereka cenderung tetap membeli Pertamax meskipun harganya naik.

Kelompok ketiga adalah pengguna yang tetap memilih Pertamax karena merasa kualitasnya lebih baik. Namun, jumlah kelompok ini akan semakin kecil.

Karena itu, diperkirakan sekitar 60 hingga 75 persen pengguna Pertamax berpotensi bermigrasi ke Pertalite.

Jika itu terjadi, SPBU akan mulai mengalami perubahan pola antrean. Jalur Pertalite akan semakin ramai, sementara Pertamax menjadi lebih sepi,"ungkap Shaddiq.

Menurut Shaddiq, Kenaikan ini juga akan berdampak pada pengeluaran rumah tangga kelas menengah.

Misalnya sebuah keluarga memiliki satu mobil dan dua motor dengan konsumsi BBM sekitar 140 liter per bulan.

 Jika seluruh kendaraan tetap menggunakan Pertamax, tambahan pengeluaran bisa mencapai sekitar Rp 574 ribu per bulan.

Bagi keluarga dengan pendapatan sekitar Rp10 juta per bulan, angka tersebut tentu cukup terasa.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah potensi lonjakan konsumsi Pertalite. Jika selisih harga Pertamax dan Pertalite semakin lebar, masyarakat akan semakin terdorong untuk berpindah.

Dampaknya adalah antrean SPBU bertambah panjang dan tekanan terhadap kuota Pertalite juga meningkat.

Dalam teori ekonomi, waktu yang dihabiskan untuk mengantre juga merupakan biaya. Semakin lama antrean, semakin besar pula produktivitas yang hilang.

"Selain itu, selisih harga yang terlalu tinggi juga berpotensi membuka ruang penyalahgunaan BBM subsidi,"Ungkap Shaddiq.

Baca juga: Imbas Harga Pertamax di Kalsel Naik Jadi Rp 17.000 Per Liter, Antrean Pertalite Mengular di SPBU

Karena itu kenaikan Pertamax ini bukan hanya soal perubahan harga di SPBU.

Ada rangkaian dampak ekonomi yang perlu diperhatikan, mulai dari perpindahan konsumen, meningkatnya antrean, tekanan terhadap kuota subsidi, hingga potensi kebocoran subsidi.

Kesimpulannya sederhana. Masyarakat sangat mungkin beralih ke Pertalite. Kelas menengah akan merasakan tambahan beban pengeluaran.

"Dan jika selisih harga terus dibiarkan terlalu lebar, maka persoalan antrean dan kuota BBM subsidi berpotensi menjadi masalah berikutnya,"pungkasnya.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.