TRIBUNNEWS.COM - Para peserta Piala Dunia 2026 barangkali sudah mengetahui adanya risiko penundaan pertandingan mereka ketika ada badai petir terjadi.
Pihak Amerika Serikat sudah memiliki protokol ketat yang harus dijalankan para pemain dan penggemar saat badai petir itu terjadi di area pertandingan.
Ternyata hal itu langsung dialami dan dipraktikkan sendiri oleh Timnas Inggris yang laganya tertunda sekitar satu jam lamanya.
Rencananya, pertandingan uji coba antara Inggris melawan Kosta Rika pada Kamis (11/6/2026) dini hari atau Rabu (10/6) pukul 13.00 waktu setempat.
Namun, pertandingan itu mundur satu jam setelah adanya badai petir yang terjadi di sekitar stadion Inter&co yang menjadi venue pertandingan.
Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, memberikan tanggapannya soal kejadian ini.
Baca juga: Dapat Kritikan Gara-gara Drama Visa Piala Dunia 2026, Bos FIFA Bela AS: Bukan Raja Dunia
"Kami sadar ada risiko pertadingan ditunda saat Piala Dunia nanti, ternyata kami langsung mengalaminya saat ini," kata Tuchel dikutip dari ITV.
"Namun hal semacam itu tidak seharusnya menjadi alasan bagi kami kehilangan mood atau kesabaran. Kami harus tetap lapar dan bersemangat di pertandingan semacam itu."
"Tidak masalah. Kami sebenarnya sudah menyadarinya ketika kami masih berada di hotel," paparnya.
Badai petir di Amerika Serikat bukanlah hal yang jarang terjadi.
Namun, ketika cuaca tersebut berdampak pada pertandingan, FIFA tidak memiliki kewenangan untuk membuat aturan sendiri dan harus mematuhi arahan dari otoritas setempat.
Protokol dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) digunakan, dan lembaga tersebut menyatakan jika sambaran petir terdeteksi dalam radius delapan mil dari stadion, pertandingan harus dihentikan.
Setelah itu, dimulai masa tunggu wajib (mandatory delay) selama 30 menit.
Jika kembali terdeteksi sambaran petir dalam radius yang ditentukan, hitungan waktu tersebut akan diulang dari awal, yaitu 30 menit lagi.
Jika 30 menit penuh telah berlalu, para penonton dapat kembali ke tempat duduk dan para pemain diperkenankan melakukan pemanasan singkat.
Selan soal badai petir, faktor cuaca lainnya juga bisa menjadi hambatan besar bagi para peserta Piala Dunia 2026.
Cuaca panas yang menyengat di Amerika Serikat lantaran bertepatan dengan musim panas, bisa menjadi hal yang memberikan pengaruh bagi para pemain.
Mantan pelatih fisik timnas voli Indonesia, Dicky Gunawan Suwarna, memberikan penjelasan soal itu.
Dijelaskan Dicky, kondisi panas yang ekstrem dapat menyebabkan penurunan intensitas permainan, pengurangan sprint, serta berkurangnya peluang untuk mencetak gol.
"Cuaca ekstrem akan menjadi masalah bagi pemain, khususnya bagi timnas yang dari Eropa. Paling jelas dari dampak (cuaca ekstrem-red) adalah pemain bisa dehidrasi," ujar Dicky Gunawan ketika dihubungi Tribunnews, Rabu (10/6) malam WIB.
"Ketika panas, memiliki dampak terhadap kemampuan sprint, pemulihan, dan intensitas secara keseluruhan, hal itu mengubah cara sepak bola dimainkan," ucap pria berusia 48 tahun ini.
Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengatasi masalah non-teknis tersebut. Mulai dari kecukupan waktu adaptasi hingga nutrisi yang terpenuhi.
"Tetapi saya yakin dengan setiap timnas, bahwa mereka memiliki aspek penunjang yang mumpuni, dalam bahasa sekarang sport science, mereka memiliki ahli gizi yang menentukan kualitas nutrisi pemain," sambungnya.
"Kalau adaptasi cuaca, dua minggu itu waktu yang normal dan cukup. Tidak bisa dalam hitungan hari saja," sambungnya.
(Tribunnews.com/Guruh, Giri)