Keroncong Plesiran Bakal Digelar pada 13-14 Juni 2026 di Candi Prambanan
Joko Widiyarso June 11, 2026 03:14 PM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, perhelatan hiburan di Yogyakarta masih tetap eksis demi memanjakan para wisatawan.

Festival musik keroncong orkestra, Keroncong Plesiran bakal hadir menyapa warga Yogyakarta maupun para pelancong.

Mengusung tema "Wander with the Rhythm of Keroncong", festival ini siap merayakan puncak satu dekade perjalanannya lewat perhelatan akbar dua hari berturut-turut di Lapangan Nandi, Kawasan Candi Prambanan, pada Sabtu–Minggu, 13-14 Juni 2026.

Sejak pertama kali digagas pada tahun 2018, Keroncong Plesiran lahir dengan visi membawa keroncong kembali dekat dengan masyarakat melalui panggung yang segar, inklusif, dan kolaboratif. 

Festival ini telah berkelana menapaki berbagai lokasi wisata alam ikonik di Yogyakarta, mulai dari Bukit Lintang Sewu, Tebing Breksi, Gunung Api Purba Nglanggeran, hingga Desa Wisata Tinalah.

Tahun ini menjadi sangat istimewa, karena untuk pertama kalinya, perayaan satu dekade Keroncong Plesiran digelar di Candi Prambanan, salah satu situs warisan dunia UNESCO sekaligus simbol kebudayaan Indonesia. 

Selain itu penyelenggara juga akan memberikan penghargaan kepada maestro Musik Keroncong Waldjinah.

Perpaduan antara kemegahan candi dan alunan keroncong orkestra dipastikan akan menghadirkan pengalaman festival yang magis dan tak terlupakan.

Pada hari pertama Sabtu (13/6/2026), pengunjung akan disuguhkan penampilan Symphony Kerontjong Moeda featuring David Bayu, Is Pusakata, Letto, Aska Rocket Rockers, Okky Kumala Sari, Paksi Band, Kos Atos, dan Serenade. 

Sementara pada hari kedua, Minggu (14/6/2026), akan menghadirkan Symphony Kerontjong Moeda featuring Armand Maulana, Kunto Aji, Ghea Indrawari, Jimi Multhazam, Egha De Latoya, YKHC, Gadis Gendhis, dan Sinten Remen.

Festival yang lebih komprehensif 

Founder Keroncong Plesiran, Ari Kancil, mengatakan, penanda perayaan satu dekade, Keroncong Plesiran menghadirkan Program 1 Dekade: Dari Ruang Arsip hingga Ramah Keluarga untuk memberikan pengalaman festival yang lebih komprehensif bagi pengunjung lintas generasi. 

Salah satu program yang dihadirkan adalah Lounge Plesiran & Panggung Lirih, sebuah mini studio eksklusif yang memungkinkan pengunjung bernostalgia dengan mendengarkan kembali rekaman Keroncong Plesiran Vol. 1-9.

Pada momentum perayaan ini, Keroncong Plesiran juga mengadakan Perilisan Eksklusif dengan meluncurkan buku sejarah perjalanan festival, album kompilasi kaset pita dan digital, serta perilisan Box Set Keroncong Plesiran. 

Tidak hanya itu, Kolaborasi Dagadu Djokdja, mengajak brand legendaris kebanggaan Jogja terlibat dalam perilisan official merchandise resmi edisi terbatas. 

Mengusung konsep Festival Ramah Keluarga, Keroncong Plesiran juga menyediakan Kids Area sebagai ruang bermain anak yang nyaman. 

Sebagai bentuk komitmen terhadap inklusivitas, anak-anak di bawah usia tujuh tahun dapat menikmati festival tanpa dikenakan biaya tiket masuk festival (gratis).

Perayaan satu dekade Keroncong Plesiran bukan hanya menghadirkan panggung musik yang lebih besar, tetapi juga merupakan Karya Baru dan Apresiasi untuk Legenda Keroncong Indonesia. 

Tahun ini penyelenggara juga merilis album kompilasi yang melibatkan 10 grup keroncong muda dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali hingga Sulawesi.

Album tersebut lahir dari kegelisahan bahwa musik keroncong sering kali hanya dikenal melalui lagu-lagu lama. 

Padahal hingga hari ini masih banyak kelompok keroncong yang menciptakan karya baru dan dimainkan oleh generasi muda.

Film dokumenter Waldjinah

Selain itu, Keroncong Plesiran juga menyiapkan film dokumenter dan katalog anotasi tentang Waldjinah. 

Menurut penyelenggara, dokumentasi semacam itu masih sangat terbatas, padahal Waldjinah merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah musik keroncong Indonesia.

"Kami harus ada selebrasi dan naik kelas. Selain itu kami juga pengen memberi apresiasi kepada Bu Waldjinah yang bukan hanya sekadar plakat. Keroncong harus tetap ada, berkembang dan dinikmati lintas generasi," tegas Ari Kancil, yang juga Arsitek Festival, Rabu (10/6/2026).

Di sisi lain pihaknya tidak menampik bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan penyelenggara acara di Yogyakarta. 

Kondisi ekonomi yang tidak menentu dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan berdampak langsung terhadap industri pertunjukan yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat.

Ari Kancil, mengakui situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri event. 

Di tengah menjamurnya berbagai festival dan konser hampir setiap akhir pekan, penyelenggara kini harus menghadapi ancaman baru berupa biaya operasional yang meningkat dan potensi menurunnya minat masyarakat untuk membeli tiket.

"Dengan kondisi seperti ini, dunia event memang banyak kendalanya. Apalagi sekarang event sangat masif. Hampir setiap Sabtu ada acara. Ditambah lagi kondisi daya beli masyarakat yang belum bagus," ujarnya.

Tim Arranger Orkestra, Flavianus juga menyampaikan adanya karya baru dari beberapa grup keroncong dari berbagai kota di Indonesia, yaitu Solo, Bandung, Jogja, Situbondo, Ponorogo, Malang, Denpasar, Makassar, Belitung, dan Tenggarong. Mereka membuat karya baru sebuah album kompilasi Keroncong Plesiran 1 Dekade.

Keroncong harus punya skena

Sementara itu, Patub Letto sebagai perwakilan musisi penampil menyampaikan bahwa Letto sendiri sebenarnya punya romantisme yang berbeda dengan Keroncong Plesiran. 

Letto sudah pernah berkolaborasi sejak Symphony Kerontjong Moeda. Kolaborasi dengan Keroncong Plesiran, apalagi sudah 10 tahun, artinya Letto perlu ikut menggaungkan musik keroncong.

Menurutnya keroncong harus memiliki skena-nya sendiri, dan itu tugas sebagai pelaku seni untuk menggaungkan musik keroncong dan jangan dipersulit. Letto sangat memberikan apresiasi kepada Keroncong Plesiran.

“Memang tugas kita untuk terus menguri-uri keroncong, mau masuk dari mana pun, yang penting kita pelajari atau ulik aja dulu lebih dalam,” tegas Patub.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Antarikso Trisno Bawono, menaruh harapan pada Keroncong Plesiran untuk memiliki semangat yang terus menyala, tetap menguri-uri budaya, bisa menggandeng lebih banyak komunitas, dan membantu Dinas Pariwisata atau ekosistem pariwisata.

“Kami sebagai perwakilan Dinas Pariwisata sangat bersyukur ada komunitas yang selalu ingin mengadakan kegiatan budaya. Impact Keroncong Plesiran ke pariwisata yaitu dapat mendatangkan wisatawan dari luar DIY, selain itu pelaku usaha / UMKM sekitar venue bisa lebih bergerak, begitu juga dengan industri pariwisata hotel atau transportasi,” ungkapnya.

Pelindung Keroncong Plesiran, Aria Nugrahadi memiliki harapan bahwa event ini bukan hanya sebuah event keroncong, walaupun kelahirannya memang bagian dari tendensi untuk menggerakkan kepariwisataan dengan menggelar konser di ruang terbuka.

“Keroncong Plesiran 1 dekade tentunya memiliki rumusan baru, yaitu menemukan value-value baru. Salah satu part paling menarik di 1 dekade, yang istimewa adalah penghargaan untuk Bu Waldjinah,” tegas Aria.

Untuk menikmati Keroncong Plesiran ini pihak penyelenggara juga menetapkan harga tiket On The Spot (OTS) kategori Festival sebesar Rp150.000. Tiket hemat 2-Days Pass (terusan dua hari) juga masih tersedia di harga Rp220.000 melalui laman www.tuktix.id. (hda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.