TRIBUNNEWSSULTRA,KENDARI - Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (Sultra), berinisial DR, dilaporkan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Sawerigadi atas dugaan penganiayaan terhadap seorang warga berinisial A. (44).
Pelaku diduga sempat menyerang korban menggunakan senjata tajam sebelum akhirnya melakukan pemukulan secara membabi buta.
Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Raya Desa Lakalamba, Selasa (9/6/2026) malam, sekitar pukul 19.00 Wita.
Hingga Kamis (11/6/2026), pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap korban dan saksi-saksi untuk mengungkap motif di balik aksi kekerasan tersebut.
Kapolsek Sawerigadi, Ipda Yusran, saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com, Kamis (11/6/2026) membenarkan adanya laporan tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah mendalami kronologi kejadian guna menentukan langkah hukum lebih lanjut.
Baca juga: Kronologi Tahanan Kasus Penganiayaan Rutan Kendari Ditemukan Meninggal Dunia Dalam Sel
"Korban sudah kami periksa di kantor untuk memberikan keterangan terkait peristiwa yang dialaminya," ujar Yusran.
Berdasarkan keterangan awal yang dihimpun kepolisian, insiden bermula saat A sedang berada di tepi jalan raya.
Secara tiba-tiba, DR datang mengendarai mobil pikap berwarna putih dan langsung menghampiri korban.
Situasi meningkat menjadi tindak kekerasan ketika DR turun dari kendaraan dan mengambil sebilah parang dari bak belakang pikap miliknya.
Pelaku diduga sempat berupaya menyabetkan senjata tajam tersebut ke arah korban.
Dalam kondisi terdesak, korban berupaya menyelamatkan diri dengan menghindar.
Korban kemudian memilih melakukan kontak fisik dengan memeluk tubuh pelaku guna melumpuhkan pergerakannya. Keduanya kemudian terjatuh ke tanah dan terlibat perkelahian.
Saat itulah, DR diduga melepaskan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah korban.
"Terlapor memukul korban berulang kali pada bagian wajah, yang mengakibatkan korban mengalami bengkak dan luka gores," kata Yusran menjelaskan kondisi fisik korban akibat penganiayaan tersebut.
Aksi "koboi" yang melibatkan perangkat desa ini menjadi perhatian masyarakat setempat.
Polisi saat ini tengah memfokuskan penyelidikan pada motif utama penyerangan, apakah didasari oleh persoalan pribadi atau adanya sangkut paut dengan jabatan yang diemban pelaku.
Namun, penyidik memastikan akan menjadwalkan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi yang berada di lokasi kejadian pada saat peristiwa berlangsung. (*)
(TribunnewsSultra/Sugi Hartono)