Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi sejumlah sektor usaha di Provinsi Bengkulu, terutama yang masih bergantung pada bahan baku, komponen, maupun peralatan impor dari luar negeri.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dapat memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi, terutama bagi sektor usaha yang masih menggunakan bahan baku atau komponen dari luar negeri.
"Kalau ada usaha yang menggunakan barang-barang impor, otomatis akan berdampak pada kenaikan biaya produksi. Terutama sektor ataupun komoditas yang memiliki komponen impor," katanya kepada TribunBengkulu.com.
Sejumlah Sektor Berpotensi Terdampak
Di Provinsi Bengkulu, kondisi tersebut berpotensi dirasakan oleh sejumlah sektor usaha yang masih bergantung pada barang dan bahan baku impor.
Misalnya, distributor kendaraan bermotor yang membutuhkan suku cadang impor, toko elektronik dan gadget, distributor alat kesehatan, hingga pelaku usaha yang menggunakan mesin produksi dari luar negeri.
Selain itu, sektor perkebunan juga dapat terdampak apabila masih menggunakan pupuk, pestisida, atau alat dan mesin pertanian yang memiliki komponen impor.
Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya operasional di sektor perikanan maupun industri pengolahan yang menggunakan peralatan dari luar negeri.
Alasan Bank Indonesia Naikkan BI Rate
Menurut Wahyu, potensi dampak tersebut menjadi salah satu alasan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Bank Indonesia melakukan banyak langkah untuk memastikan rupiah kita tidak mengalami undervalue. Sebelumnya BI Rate sudah dinaikkan 50 basis poin dan hari ini kembali dinaikkan 25 basis poin sehingga menjadi 5,50 persen," ujarnya.
Menurut Wahyu, alasan utama kenaikan BI Rate adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap berdaya saing di tengah kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan berbagai negara.
Selain menjaga nilai tukar, kebijakan tersebut juga bertujuan mempertahankan target inflasi nasional di kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.
Ia menjelaskan, banyak bank sentral di dunia juga menaikkan suku bunga acuannya, sehingga Indonesia perlu menjaga daya tarik instrumen keuangan nasional agar tetap kompetitif.
"Yang pertama untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah kita dan memastikan rupiah tetap berdaya saing dibandingkan mata uang lainnya. Karena bank sentral lain di dunia juga sedang menaikkan suku bunga," jelasnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia berharap stabilitas ekonomi tetap terjaga sehingga dampak gejolak global terhadap masyarakat dan pelaku usaha, termasuk di Provinsi Bengkulu, dapat diminimalkan.