TRIBUN-TIMUR.COM, BARRU – Demam Piala Dunia (Pildun) 2026 rupanya belum menjalar ke pasar-pasar tradisional di Kabupaten Barru, Kamis (11/6/2026).
Hingga H-1 pembukaan piala dunia 2021, atmosfer pesta sepak bola terakbar sejagat raya ini masih terasa adem ayem.
Kondisi ini terlihat dari aktivitas berdagang di Pasar Mattirowalie dan Pasar Pekkae.
Sejumlah pedagang pakaian di kedua pasar terbesar di Barru tersebut kompak mengaku belum menyediakan stok jersey tim nasional (Timnas) negara peserta Piala Dunia 2026.
Bukan tanpa alasan para pedagang enggan memajang baju bola di lapak mereka.
Faktor utama karena kondisi pasar yang masih sepi peminat.
Hingga saat ini, belum ada calon pembeli yang datang menanyakan atau mencari jersey negara jagoan mereka.
Para pedagang mengaku khawatir dan dirundung rasa cemas.
Salah satu pedagang di Pasar Mattirowalie, Husnawati (47), bilang jika nekat menyetok barang dalam jumlah banyak, dia takut jersey tersebut justru berakhir menjadi pajangan alias tidak laku terjual.
"Belum berani stok banyak-banyak, takutnya nanti malah tidak laku dan rugi. Apalagi sekarang belum ada yang datang tanya-tanya baju Piala Dunia," ujarnya.
Hal yang sama juga diutarakan oleh pedagang di Pasar Pekkae, Dilla (36).
Menurutnya, belum ada pembeli yang datang ke dagangannya menanyakan baju jersey.
Dia pun belum melakukan menyediakan baju jersey timnas peserta pildun.
“Belum pa stok ulang lagi,” katanya.
Sepinya pembeli di pasar tradisional diduga kuat karena adanya pergeseran perilaku konsumen.
Para pedagang memprediksi bahwa para pencinta bola di Barru kini lebih memilih berbelanja secara daring via e-commerce atau media sosial.
Kemudahan memilih variasi dan harga di platform digital dinilai menjadi alasan utama masyarakat enggan berburu jersey langsung ke pasar.
Demi menyiasati kerugian namun tetap ingin meraup untung dari momen Piala Dunia, para pedagang di Pasar Mattirowalie dan Pasar Pekkae sudah menyiapkan strategi khusus.
Mereka baru akan mulai memasok dan menjual baju jersey ketika turnamen sudah memasuki fase krusial, yakni babak semifinal atau final.
Dengan strategi ini, pedagang bisa memastikan tim mana saja yang memiliki basis suporter besar yang lolos, sehingga risiko barang tidak laku bisa diminimalisir.(*)