Bellingham Berupaya Menegaskan Kembali Pengaruhnya untuk Inggris
Tom Ashford June 11, 2026 09:22 PM
Jude Bellingham memasuki Piala Dunia FIFA 2026 sebagai salah satu sosok paling dikenal dalam sepak bola internasional, tetapi juga dengan tantangan baru yang harus dihadapi setelah menjalani musim yang menuntut baik untuk klub maupun negara.​
Gelandang Inggris ini telah membangun reputasi sebagai pemain yang mampu tampil gemilang di bawah tekanan sepanjang kariernya. Mulai dari membuat jejak di Championship saat remaja hingga menjadi bintang untuk Borussia Dortmund, mewakili Inggris di turnamen besar, dan memenangkan UEFA Champions League bersama Real Madrid, perjalanan Bellingham ditandai oleh perkembangan pesat dan kesuksesan yang konsisten.​
Sekarang berusia 22 tahun, ia tiba di Amerika Serikat untuk Piala Dunia keduanya dan turnamen internasional besar kelimanya. Sebagai pemain kunci bagi Real Madrid dan sosok menonjol di dunia sepak bola global, ekspektasi tetap tinggi terhadap pemain yang dikenal mampu menciptakan momen-momen menentukan dalam pertandingan penting.​
Sebagian besar reputasi Bellingham dibangun atas kemampuannya memengaruhi permainan melalui kualitas individual. Penampilan-penampilan yang berkesan baik untuk klub maupun negara, termasuk kontribusi penting di panggung besar, telah memperkuat posisinya sebagai salah satu talenta muda terkemuka dalam sepak bola.​
Namun, musim lalu menghadirkan tantangan. Real Madrid mengalami kampanye sulit yang ditandai dengan inkonsistensi, pergantian manajer, dan kurangnya trofi. Bellingham juga menghadapi masalah cedera, menjalani operasi bahu pada bulan Juli sebelum kemudian menderita cedera hamstring pada bulan Februari.​
Gangguan-gangguan itu memengaruhi ritmenya sepanjang musim. Dalam kompetisi liga, ia mencatat empat gol dan empat assist, angka yang berada di bawah standar yang ia tetapkan selama dua tahun pertamanya di Spanyol. Ketika Real Madrid berjuang secara kolektif, Bellingham termasuk di antara beberapa pemain yang berupaya menemukan konsistensi.​
Musim internasionalnya di bawah manajer Inggris Thomas Tuchel juga menjadi rumit. Pemulihan dari operasi bahu membuatnya absen dari pemusatan latihan bulan September, dan ia tidak dimasukkan dalam skuad pada bulan berikutnya ketika Tuchel memilih untuk melanjutkan dengan para pemain yang tampil baik selama jendela internasional sebelumnya.​
Keputusan itu memicu banyak perbincangan, terutama mengingat komentar Tuchel sebelumnya mengenai pengaruh Bellingham di dalam skuad. Meskipun gelandang itu kembali ke tim nasional pada bulan November, perhatian tetap tertuju pada perannya dan posisinya di dalam tim.​
Gangguan lebih lanjut terjadi ketika cedera hamstring membuatnya absen dari pertandingan persahabatan Inggris di Wembley pada bulan Maret. Selama ia absen, pemain seperti Morgan Rogers memperkuat peluang mereka untuk posisi gelandang menyerang, membuat Bellingham menghadapi persaingan untuk tempat reguler sebagai starter.​
Meskipun menghadapi tantangan, Bellingham tetap menjadi salah satu gelandang paling komplet di dunia sepak bola. Fleksibilitasnya memungkinkannya bermain di berbagai posisi, sementara kemampuan atletik, keterampilan teknis, dan kualitas kepemimpinannya terus membedakannya dari banyak rekan seprofesinya.​
Mantan manajer Real Madrid Carlo Ancelotti baru-baru ini menggambarkan Bellingham sebagai gelandang paling modern dalam permainan. Ia memuji kemampuan pemain internasional Inggris itu untuk menjangkau area luas di lapangan, berkontribusi dalam fase menyerang dan bertahan, mengelola penguasaan bola, serta beradaptasi dengan berbagai tanggung jawab taktis.​
Ketika Inggris memulai kampanye Piala Dunia mereka, Bellingham memiliki kesempatan untuk mengingatkan para pengamat tentang kualitas yang menempatkannya di antara para elite sepak bola. Setelah musim yang diwarnai oleh cedera, sorotan, dan perubahan situasi, turnamen ini menawarkan peluang untuk mendapatkan kembali momentum dan menegaskan kembali pentingnya bagi klub dan negara.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.