Aksi Kamisan di Jogja, Massa Bentangkan Spanduk: Krisis Ekonomi Terjadi Presidan Tak Punya Solusi
Yoseph Hary W June 11, 2026 10:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puluhan massa kembali menggelar Aksi Kamisan di Yogyakarta, tepatnya di kawasan Tugu Jogja, pada Kamis sore (11/6/2026).

Selain mengadvokasi kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, massa Aksi Kamisan di Yogyakarta juga menyatakan sikap mengenai krisis ekonomi nasional saat ini.

Mereka membentangkan berbagai spanduk salah satunya bertuliskan “Krisis Ekonomi Terjadi Presiden Tak Punya Solusi”.

Spanduk berukuran besar itu dibentangkan tepat di bawah bundaran Tugu Yogyakarta yang menjadi ikon kota gudeg tersebut.

Aksi Kamisan kali ini dihadiri kalangan mahasiswa, masyarakat umum, hingga pelajar juga turut meyuarakan keluh kesahnya.

“Kami tidak perlu MBG, yang kami butuhkan hanyalah pendidikan yang layak, masa depan yang cerah dan aman untuk berpendapat. Karena kami sebagai pemuda Indonesia selalu mendapat tempat kurang aman untuk berpendapat,” kata salah satu orator yang mengenakan seragam sekolah putih abu-abu.

Orasi itu disampaikan lantaran masih adanya para tahanan politik pascaaksi massal pada Agustus 2025 silam.

Krisis Ekonomi Presiden Tak Punya Solusi

Koordinator Aksi Kamisan Yogyakarta, Fauzan, menuturkan aksi kali ini sebagai respons krisis ekonomi yang saat ini sudah mulai menunjukan tanda-tandanya.

“Beberapa hari yang lalu, nilai tukar rupiah semakin melemah hingga menyentuh angka Rp18 ribu sekian. Terjadi gejolak dan kembali lagi rakyat menjadi korbannya,” katanya.

Persoalan kedua yakni mengenai kenaikan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax yang menurutnya berdampak pada kehidupan masyarakat.

Langkah pemerintah menaikkan harga BBM tersebut dinilai Fauzan menjadi upaya pemerintah menyakiti rakyat dengan cara melemahkan ekonominya.

“Angka yang naik tidak sedikit, menyentuh angka Rp4 ribu. Itu artinya apa? Itu artinya negara mencoba untuk membunuh rakyatnya secara perlahan dengan menyekik ekonomi rakyat,” tegasnya.

Menurutnya kenaikan BBM nonsubsidi ini juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat.

Beberapa sektor misalnya transportasi, bahan pokok, makanan dan sektor lainnya juga ikut mengalami kenaikan.

“Lalu kemudian tak ada sama sekali penjelasan dari pemerintah, tak ada sama sekali penjelasan dari presiden. Yang ada, malah presiden berbalik arah untuk menyerang rakyatnya,” terang dia.

“Dan itu menurut kami sangat mengecewakan kami sebagai rakyat. Karena di negara ini kami sebagai rakyat yang memegang kuasa tertinggi di negara demokrasi,” sambung Fauzan.

Dia menambahkan, indikator krisis ekonomi menurutnya sudah terlihat diawali dari nilai rupiah yang melemah, harga kebutuhan pokok naik, lalu harga BBM juga ikut naik.

“Hari ini indikatornya sudah kelihatan. Tetapi memang presiden tidak mengetahui apa yang diinginkan rakyat dan apa yang menjadi derita rakyat,” pungkasnya. (hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.