TRIBUNNEWS.COM - Piala Dunia 2026 Untuk pertama kalinya dalam sejarah, akan diikuti oleh 48 negara peserta dan mempertandingkan total 104 laga yang akan jadi ujian baru bagi para kontestan.
Jumlah tersebut meningkat cukup jauh dibanding Piala Dunia 2022 di Qatar yang hanya diikuti 32 tim dengan total 64 pertandingan yang tentunya akan mempengaruhi aspek kebugaran pemain.
Pengamat sepak bola menilai pengelolaan kondisi fisik pemain sebenarnya selalu menjadi elemen penting dalam setiap turnamen.
Namun, menurutnya, kebutuhan tersebut akan semakin krusial pada turnamen dengan jadwal yang lebih padat seperti Piala Dunia 2026.
"Sepertinya untuk seluruh turnamen, tidak hanya Piala Dunia, aspek ini penting untuk dijaga. Namun sekarang, terutama pada turnamen sepak bola yang sifatnya lebih padat, menjaga kebugaran pemain menjadi semakin penting lagi, apalagi di turnamen seprestisius ini," ujar Analis dari @ruangtaktik, Muhammad Yusuf Raihan, ketika dihubungi Tribunnews pada Kamis (11/6) sore WIB.
Ia menilai kemampuan menjaga kondisi fisik pemain dapat menjadi salah satu pembeda utama antara tim yang mampu melaju jauh dan tim yang gagal mempertahankan performa sepanjang turnamen.
Menurutnya, strategi pengelolaan energi harus mulai diterapkan sejak fase grup.
"Kuncinya adalah mengamankan hasil maksimal di beberapa pertandingan pertama agar bisa mengistirahatkan pemain pada pertandingan terakhir fase grup," katanya.
Dengan skenario tersebut, sebuah tim memiliki ruang yang lebih besar untuk mengatur beban bermain para pemain inti tanpa mengorbankan target lolos ke fase berikutnya.
Selain faktor kebugaran, ia juga menyoroti pentingnya kedalaman skuad dalam menghadapi turnamen yang berlangsung selama beberapa pekan.
Meski demikian, ia menilai kedalaman skuad tidak selalu berarti pelatih harus terus mengubah susunan pemain utama.
Menurutnya, sepak bola internasional memiliki waktu persiapan yang relatif singkat sehingga tim tetap membutuhkan fondasi permainan yang stabil.
"Idealnya bukan untuk eksperimen starting XI. Biasanya pendekatan yang digunakan adalah yang pasti-pasti saja karena waktu persiapan di sepak bola internasional sangat terbatas," jelasnya.
Baca juga: Cristiano Ronaldo dan Bocah Tua Nakal yang Sempurna di Piala Dunia 2026
Ia menilai terlalu banyak eksperimen pada susunan pemain utama justru dapat menunjukkan bahwa sebuah tim belum memiliki identitas permainan yang jelas.
Karena itu, fungsi utama kedalaman skuad lebih banyak terlihat dalam pengelolaan pertandingan dan pengambilan keputusan selama laga berlangsung.
Menurutnya, peran pemain pengganti akan menjadi semakin penting ketika turnamen memasuki fase-fase akhir.
Pada tahap tersebut, kondisi fisik pemain umumnya mulai mengalami penurunan akibat akumulasi pertandingan yang dijalani sejak fase grup.
"Kedalaman skuad penting untuk in-game management, apalagi ketika sudah memasuki penghujung turnamen dan level kebugaran pemain mulai menurun."
"Pemain yang masuk dari bangku cadangan justru bisa menjadi pemain kunci dalam menentukan hasil pertandingan. Mereka bisa menjadi finisher bagi timnya masing-masing," ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan ulasan BBC mengenai perkembangan sepak bola modern yang semakin menempatkan pemain cadangan sebagai elemen strategis.
Media tersebut menilai kekuatan sebuah tim saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas sebelas pemain utama yang turun sejak menit pertama.
Dalam sejumlah turnamen besar beberapa tahun terakhir, pemain yang masuk dari bangku cadangan kerap menjadi pembeda melalui gol, assist, maupun perubahan tempo permainan.
Media tersebut juga menyoroti bahwa kebutuhan untuk mengelola beban fisik pemain membuat peran pergantian pemain menjadi semakin penting.
Kondisi itu membuat tim dengan kedalaman skuad yang baik memiliki keuntungan tersendiri dibanding tim yang terlalu bergantung pada pemain inti.
Fenomena tersebut terlihat dalam berbagai kompetisi internasional ketika sejumlah gol penting justru lahir dari pemain yang memulai pertandingan sebagai cadangan.
Situasi itu menunjukkan bahwa kualitas bangku cadangan kini dapat menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kualitas susunan pemain utama.
Dalam konteks Piala Dunia 2026, tren tersebut diperkirakan akan semakin terlihat mengingat turnamen berlangsung dengan jumlah pertandingan yang lebih banyak dibanding edisi sebelumnya.
Artinya, keberhasilan sebuah tim kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan para pemain bintang yang tampil sejak awal laga.
Kemampuan pelatih dalam mengatur menit bermain, menjaga kondisi fisik skuad, serta memaksimalkan kontribusi pemain pengganti juga berpotensi menjadi faktor penentu.
Dengan kata lain, Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung bagi tim yang tidak hanya memiliki sebelas pemain terbaik, tetapi juga skuad yang mampu menjaga kualitas permainan hingga menit-menit akhir dan sepanjang perjalanan turnamen.
(Tribunnews.com/Niken)