TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump melancarkan serangan terbaru yang disebut menyasar sejumlah target strategis di wilayah Iran.
Aksi militer tersebut langsung memicu respons keras dari Teheran yang menilai langkah Washington sebagai bentuk eskalasi berbahaya yang dapat memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Sebagai balasan, otoritas militer Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dunia dan perdagangan internasional.
Iran bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi perairan tersebut berisiko menjadi sasaran serangan, menandai salah satu langkah paling drastis sejak konflik kedua negara kembali memanas.
Penutupan Selat Hormuz sontak memicu kekhawatiran global karena jalur sempit itu menjadi rute utama pengiriman jutaan barel minyak setiap hari ke berbagai negara.
Situasi semakin tegang setelah Iran juga dikabarkan melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk sebagai respons atas operasi militer Washington.
Perkembangan terbaru ini membuat dunia internasional waswas akan pecahnya konflik yang lebih luas, sekaligus memunculkan ancaman terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.
Sejumlah negara pun mulai memantau situasi secara ketat mengingat setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar dunia.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda ketegangan antara Washington dan Teheran akan mereda, sementara kedua pihak terus menunjukkan sikap saling mengancam dan meningkatkan tekanan militer.
Baca juga: Donald Trump-Netanyahu Tak Akur, Iran Manfaatkan Celah dan Ambil Alih Kendali Meja Perundingan
Seperti diketahui, situasi di Timur Tengah kembali membara. Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara baru ke beberapa wilayah di Iran atas perintah langsung Presiden Donald Trump.
Langkah eskalasi militer ini langsung direspons keras oleh Teheran yang mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi semua jenis kapal.
Militer AS menyatakan bahwa serangan yang diluncurkan pada Rabu (10/6/2026) malam waktu setempat tersebut merupakan respons atas tindakan agresif Iran yang dinilai tidak beralasan dan terus berlanjut.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan dahsyat mengguncang Pulau Qeshm, serta kota-kota pelabuhan penting di sepanjang Selat Hormuz seperti Bandar Abbas dan Sirik.
Ledakan juga dilaporkan menghantam kota Kargan di bagian selatan, yang menyebabkan sedikitnya dua orang terluka, dilansir dari Al Jazeera, Kamis.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menuduh Amerika Serikat telah melakukan pelanggaran berulang kali terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada April lalu.
Penutupan jalur pelayaran vital dunia ini dipastikan akan berdampak pada seluruh lalu lintas laut, termasuk kapal-kapal tanker minyak dan kapal komersial.
IRGC juga membantah keras klaim sepihak AS sebelumnya yang menyatakan telah membantu kapal-kapal untuk melintasi selat tersebut.
Tak berselang lama setelah pengumuman penutupan, situasi kian mencekam.
IRGC menambahkan bahwa ada dua kapal tanker minyak yang mencoba melintas secara ilegal di selat tersebut telah dihantam serangan.
Eskalasi besar-besaran ini terjadi hanya berselang satu hari setelah AS dan Iran terlibat dalam aksi saling serang (tit-for-tat).
Ketegangan tersebut dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter Apache milik militer AS di Selat Hormuz sebelumnya.
Sebelum perintah serangan udara diturunkan, Presiden AS Donald Trump telah melontarkan ancaman bahwa Washington akan memukul Iran dengan sangat keras.
"Kita akan lihat apa yang terjadi dengan kesepakatan itu. Kita sebenarnya sudah sangat dekat dengan kesepakatan. Namun mereka terus mengulur-ulur waktu. Mereka terus memperlakukan kita seperti orang bodoh karena apa Anda tahu? Mereka berurusan dengan beberapa presiden yang sangat bodoh. Saya harus mengatakan itu, saya malu mengatakannya," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Ancaman keras dari Donald Trump langsung mendapat kecaman dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Melalui sebuah unggahan di media sosial X, Pezeshkian menegaskan bahwa target serangan AS merupakan fasilitas vital masyarakat.
"Infrastruktur kritis adalah urat nadi masyarakat. Ancaman untuk menargetkan mereka, mulai dari jaringan transportasi hingga industri listrik dan air, bukanlah unjuk kekuatan melainkan tanda keputusasaan dalam menghadapi kehendak sebuah bangsa," tulis Pezeshkian.
Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan militer dari luar.
"Iran, dengan mengandalkan pengetahuan dan kemampuan para spesialisnya, persatuan nasional, serta solidaritas, akan berdiri teguh melawan tekanan atau ancaman apa pun," pungkasnya.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)